S2, SERUPA ES TEH

Untuk menyelesaikan kuliah strata satu, atau sarjana, saya membutuhkan waktu delapan tahun, dan juga tiga kampus serta tiga jurusan yang berbeda pula.

Sekolah bukan kegiatan primadona saya, setidaknya selepas lulus SD. Selama enam tahun masa sekolah pada SMP dan SMA, saya lebih banyak merutuki kegiatan bangun pagi-pulang sore itu daripada menikmatinya. Masa SMP dan SMA menjadi sekadar pelepas belenggu kewajiban, ‘agar sama dan tak berbeda dengan kawan’, dan yang lebih penting lagi, ‘menyunggingkan senyum’ kedua orang tua. Meski pada kenyataannya, semasa enam tahun sebelum kuliah itu, saya tak pernah melihat Mamak dan Bapak bergembira terhadap hasil sekolah saya. Hal itu jauh bertolak belakang dengan kegiatan sekolah semasa SD. Merajai hampir selama enam tahun penuh dengan selalu menjadi ranking satu di kelas, saya pernah sesumbar pada seorang kawan akan terus bersekolah dan mendapat gelar ‘profesor’.

Tetapi euforia masa SD terhenti begitu saja begitu menerima raport pertama kali di bangku SMP, dan terus berlanjut sampai menjelang lulus SMA. Saya tak lagi mempunyai minat dan gairah terhadap ilmu dan pendidikan dari sekolah formal. Ketika kemudian kuliah menjadi pilihan, itu juga bukan merupakan suatu prestasi meski nama saya terpampang di koran ketika diterima pada salah satu jurusan di UGM. Bukan suatu prestasi karena kuliah saya pilih tidak dengan tekad membara untuk mereguk ilmu, tetapi lebih sebagai suatu pelarian agar tak dianggap sebagai pengangguran.

Jadilah semenjak pertengahan tahun 2004 saya berstatus mahasiswa. Meski status ‘maha’ yang tersemat lebih banyak meningkatkan ‘maha bengal’ saya daripada ‘maha belajar’ sebagai salah seorang penghuni kampus terkemuka. Saya hanya menjadi semakin ‘ndableg‘, alih-alih menjadi rajin belajar agar tak semakin ‘gebleg‘. Buku-buku sejarah tebal semasa kuliah membuat saya selalu berkeringat dingin ketika melihatnya. Padahal, semasa dua belas tahun bersekolah semenjak SD sampai dengan SMA, pelajaran sejarah selalu menjadi primadona. Menjadi oase dan penyelamat untuk tetap mempunyai harga diri karena tak mampu mencerna matematika, fisika, dan juga kimia. Pelajaran sejarah menjadi penyelamat saya untuk tak kemudian menjadi rendah diri. Meski tak bisa mengerjakan soal-soal matematika, fisika atau kimia, setidaknya waktu itu saya bisa fasih dan runtut menjelaskan terbentuknya Majapahit sampai dengan kejayaan dan keruntuhannya. Tetapi pelajaran sejarah di bangku sekolah, sama sekali berbeda dengan ketika kuliah.

Pada akhirnya saya harus memilih keluar dari UGM setelah satu tahun ikut menjadi sampah di sana. Nama saya kembali terpampang di koran ketika diterima menjadi CPNS pada bulan Desember 2004. Itu berarti, saya harus berhenti kuliah karena jurusan sejarah, tempat saya ikut kuliah waktu itu, tidak menyediakan perkuliahan secara ekstensi atau di luar jam perkuliahan normal. Lagi-lagi, agar tak dicap sebagai pengangguran, saya masih ikut kuliah lagi selama satu semester sebelum mulai aktif bekerja sebagai kuli negara.

Setelah bekerja, saya tak terpikir untuk mulai kuliah lagi, meski Mamak berulang kali menyuruh saya untuk kuliah.
Mumpung iseh enom.” (Mumpung masih muda) kata Mamak, berulang.

Pengulangan kalimat dan kata-kata Mamak tersebut lambat laun serupa mantra santet yang mempengaruhi pikiran saya. Akhirnya saya menyerah dan bersedia kembali kuliah, dengan syarat. Bahwa nantinya kampus atau jurusan yang akan saya masuki untuk kembali berkuliah menyediakan beberapa hal :
“Datang, bayar, lulus.”
Tanpa beragam macam tugas dan kewajiban laiknya mahasiswa penuntut ilmu. Untuk apalagi? Toh saya sudah bekerja, dan sebenarnya saya sudah mulai malas untuk kuliah.

Dapat juga kampus semacam itu. Sebuah universitas swasta di Yogyakarta membuka kelas jauh, untuk salah satu jurusan perkuliahannya. Kebetulan lagi bahwa tempat perkuliahan kelas jauh itu berdekatan dengan tempat tinggal. Akhirnya saya mendaftar, dan jelas diterima.

Semenjak pertengahan tahun 2006, saya kembali menjadi mahasiswa.

Kuliah yang saya bayangkan akan berlangsung ‘sederhana’, ternyata tak sesuai dengan harapan. Tetap saja ada kelas-kelas yang harus diikuti, meski dijanjikan oleh pengelola ‘kelas jauh’ itu hanya sebagai formalitas belaka.
Celakanya, kelas perkuliahan yang harus saya ikuti, menempatkan saya pada sebuah situasi teror yang tak pernah terbayangkan.

Pada semester baru tersebut, hanya dua orang yang mendaftar. Saya, dan satu orang lagi yang saya lupa namanya. Saya hanya ingat rumahnya tak jauh dari Pasar Sleman. Kami berdua tak mengikuti perkuliahan sewajarnya. Di mulai dari semester satu, mata kuliah awal, dan perkenalan. Karena hanya kami berdua yang mendaftar, kami diikutkan kelas kuliah senior-senior yang sudah menginjak semester lima. Bedebah.

Tanpa kuliah pengantar, saya sudah harus bergelut dengan makalah-makalah dan modul perkuliahan semester lima. Masih lumayan jika saya bisa mengerti dan membaca modul tersebut. Melihatnya saja kepala saya langsung pusing, dan mata saya langsung keriting.
Tahukah saudara modul kuliah apakah itu?
Yupz, Bahasa Arab.

Jurusan yang saya ambil adalah syariah, Hukum Islam, yang jika saya lulus akan menambah gelar ‘S, HI’ di belakang nama. Sarjana Hukum Islam.

Kebanyakan modul-modul tersebut memakai bahasa dan huruf Arab. Sebagian lagi Arab gundul tanpa harakat. Jika diingat, meski oleh pengelola saya terus diyakinkan bahwa kelas-kelas tersebut hanya formalitas belaka, tetapi itu adalah siksa yang nyata.
Setiap memasuki kelas, suasana muram terpampang dan jelas tergambar. Jauh lebih seram dari kuburan-kuburan paling wingit yang pernah saya masuki.
Belum lagi wajah dan roman muka dosen-dosennya, jauh lebih angker dari gambar di dalam komik Siksa Neraka.

Akhirnya suatu kejadian membebaskan saya dari kegiatan perkuliahan yang lebih mirip ritual ‘sedot akik‘ itu. Memasuki semester kedua, saya tak mempunyai uang untuk membayar biaya kuliah. Saya sedang mengusahakannya dengan mengajukan kredit pada koperasi kantor. Tetapi sebelum dana cair pada hari dan tanggal yang dijanjikan, pengelola perkuliahan kelas jauh sudah menghubungi saya via SMS. Intinya, dia meminta saya untuk melunasi seluruh biaya semester kedua, keesokan harinya.
Perlu diketahui, pengelola tersebut menghubungi saya pada malam hari selepas Isya, dan mewajibkan saya untuk melunasi seluruh biaya pada keesokan harinya. Kalau tidak, terpaksa saya akan dikeluarkan.

Sudah saya jelaskan bahwa belum ada uang, dan saya janjikan lusa. Tetapi beliau tetap keukeh, dan meminta saya harus membayar esok pagi. Akhirnya saya jawab via SMS tersebut, bahwa saat itu juga saya keluar. Entah kenapa setelah menyatakan diri secara sepihak untuk keluar, saya merasa lega. Setidaknya saya tidak dikeluarkan, tetapi dengan sadar menyatakan diri untuk keluar.

Setelahnya saya mengomel,
“Kuliah wae kon melu sik wis semester limo, haa kok dioyak-oyak kon kudu lek mbayar. Haa untal kono.”

Kuliah jurusan syariah itu sedikit banyak membuat saya semakin malas untuk melanjutkan kuliah. Setidaknya saya membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk kembali berkuliah.

Pada 2008, saya bertemu dengan kampus terbaik yang pernah ada di dalam hidup saya, Widya Mataram. Jelas Widya Mataram adalah yang terbaik, ia memberi saya ijazah, dan membuat Mamak tersenyum serta memutus mata rantai japa mantra yang tertuju pada diri saya. Juga ia memberi saya gelar ‘S.IP’ dibelakang nama, meski hampir tak pernah saya tuliskan dalam penulisan nama untuk kepentingan apapun.

Empat tahun saya berkuliah disana, dari 2008 sampai dengan 2012. Saya temukan suasana perkuliahan yang lebih mirip arisan keluarga. Semua kawan, serta juga dosen pengajar, serupa saudara. Dengan suasana perkuliahan yang demikian itu, saya lulus dengan pujian. IPK saya memberi mandat kampus untuk memberikan predikat cumlaude. Meski juga tak semudah itu. Otak saya yang pas-pasan harus berdarah-darah menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Ketika acara wisuda, saya demikian terharu. Mamak, Bapak, istri, dan adik-adik saya, semuanya hadir. Semuanya menyaksikan saya naik ke atas mimbar, mewakili seluruh mahasiswa yang diwisuda hari itu, untuk memberikan semacam salam perpisahan kepada kampus tercinta. Saya hampir menangis, tenggorokan saya tercekat.

Setelah rangkaian acara wisuda selesai, saya langsung menuju dan menghampiri tempat dimana keluarga saya duduk dan menunggu. Ada rasa haru yang menyeruak. Akhirnya saya menjadi seorang sarjana, setelah delapan tahun berlalu. Mata saya berkaca-kaca.

Dalam suasana yang demikian itu, Mamak dan istri saya tiba-tiba hampir serempak berkata :
“Alhamdulillah. Sesok lek ndang lanjut S2.”

Seketika saya menyetop air mata yang hampir keluar, rasa haru tiba-tiba hilang menguar bersama kata ‘S2’ yang terlontar.

“Ora es-es an meneh. Es teh we marai mumet, es satu marai nggliyeng, kok es dua.”
Jawab saya sekenanya sembari menuju kamar mandi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *