Saat Yang Tepat

Kalau kamu bisa mengingat, salah satu ruas jalan utama di kota itu menjadi saksi bisu. Atas kedekatan kita, pada awal mulanya, dulu.

Aku takkan pernah menyangka bahwa akan ada kedekatan-kedekatan personal diantara kita, karena seperti kamu tahu : kita berjarak selapis dimensi ruang dan waktu. Selapis jarak sederhana yang tak pernah bisa menyatukan kita.

Tapi mungkin kamu takkan mengingat, tak mengapa. Toh segala sesuatu tentang kita memanglah tak pernah menjadi kita. Selalu berdiri tunggal, tentang aku juga tentang kamu. Tak pernah ada dan menjadi kita.

Ruas jalan itu pernah menjadi saksi, ketika kita pernah bersama menyaksikan matahari perlahan menua, tergelincir dalam garis cakrawala, meninggalkan kita yang tertawa tanpa jelas sebabnya.

“Lapar, haus.” katamu seraya menatapku. Dan aku takkan pernah berani membalas tatapan itu. Selalu ada entah yang misterius dalam tatap pandangmu, seolah mencari celah untuk merangkul, kemudian membantingku.

“Tak ada penjual makanan atau minuman disini.”

“Online?”

“Harga makanan atau minumannya hampir sama dengan ongkos kirimnya.”

Dan kita kembali tertawa, sembari menunggu pengemudi ojek online membawakan minuman sekadar sebagai pelepas dahaga.

Kita mungkin tertawa bersama, berdua. Tetapi aku yakin bahwa jelas berbeda sebabnya. Bagiku, selain karena ongkos kirim, tentu saja karena aku takkan mungkin membiarkanmu yang membayarnya. Karena tak mungkin aku membiarkanmu membayarnya, jadi jelas bahwa harus aku yang membayarnya. Itu dia, karena sebenarnya aku tak punya uang saat itu. Kini kamu tahu, hahaha…

Uang dikantongku tinggal tersisa beberapa ribu rupiah, upah dari dari seorang penjual kelapa di pasar ketika aku membantunya untuk mengangkut dagangannya dari parkiran menuju kios nya berjualan.

Tetapi kamu memintaku untuk mengantarmu menuju ruas jalan itu,

“Ada urusan.” katamu.

“Ooh, oke. Ku selesaikan dulu sedikit pekerjaan di pasar, nanti aku kabari.”

“Cepat.” ujarmu.

“Iya.”

Dan menjelang siang, kita sampai disana.

Aku takkan pernah bisa menolak permintaanmu, entah apapun itu. Beberapa kawanku berkata bahwa kamu hanya memanfaatkanku, aku mengabaikannya,

“Apa yang bisa dimanfaatkan dari kuli kasar di pasar sepertiku?”

“Paling tidak, kesungguhanmu.” kata salah seorang kawanku, penjaga parkir di pasar.

“Atau kalau tidak, tenagamu.” Sahut yang lain.

“Kebodohanmu itu yang paling mungkin dimanfaatkan.” Lik Darman penjual angkringan menyahut dari jarak agak jauh.

Mereka tertawa, dan aku juga ikut tertawa saja.

Mungkin mereka ada benar nya juga. Hanya manusia sepertiku, dan kamu seringkali mencariku. Seolah, tak ada orang lain yang bisa kamu cari untuk menemanimu.

Mungkin hanya aku yang bersungguh-sungguh membantu?
Mungkin hanya aku yang sekuat tenaga menemanimu, karena aku tak mempunyai hal lain kecuali tenaga untuk menemanimu.
Atau aku memang sebenarnya terlampau bodoh, untuk terus menerus tak bisa membuat sebentuk kata penolakan atas segala ucapmu padaku?

Aku terus berkata iya, dan selalu bersedia. Entah mengapa.

Bahkan aku bersedia menyediakan tubuhku sebagai tempatmu bersandar ketika kamu merasa lelah atau penat, meski setelahnya aku tahu kamu akan menikam atau menusukku. Aku tahu, namun aku tetap akan selalu bersedia melakukannya.
Bahkan aku selalu berandai-andai kamu mau merangkulku, meski setelahnya aku juga tahu kamu akan membantingku.
Aku tahu, tetapi selalu ada kata entah dalam tiap alasanku yang tidak rasional untuk dekat denganmu.

“Belum selesai?” tanyaku.

“Belum, masih antri beberapa, maaf.” jawabmu.

“Sudah adzan maghrib.”

“Iya, maaf.”

“Gapapa. Ya udah itu sambil diminum, keburu dingin.”

“Ini kan memang es.”

“Oh iya.”

Dan kita kembali tertawa.

Tentu saja kamu tak perlu meminta maaf untuk hal itu. Bahkan sampai adzan subuh keesokan harinya, aku akan bersuka cita menemanimu. Meski saat itu aku sudah berjanji pada Lik Darman untuk membantunya memperbaiki gerobag angkringan. Tapi tak mengapa, toh Lik Darman sendiri yang bilang bahwa memang kebodohanku yang selalu bisa dimanfaatkan dengan jitu, olehmu.

Di ruas jalan, kendaraan-kendaraan sudah mulai menyalakan lampu. Deret bangunan pada sisi seberang juga mulai menyalakan lampu. Pada tempat kita duduk menunggu, cahaya lampu kukira kalah oleh pendar tawa kita, sehingga aku tak terlampau menyadari apakah sudah menyala.

Aku lupa kapan tepatnya kita dekat, yang pasti tentu saja sebelum kita duduk seharian di tepi ruas jalan utama itu. Sejauh aku bisa mengingat, kita berkenalan di pasar tempatku bekerja.

Sebagai kuli angkut serabutan, aku harus rajin berkeliling pasar. Menawarkan tenaga untuk membantu siapapun yang membutuhkan. Ah, itu bukan bantuan, karena aku berharap upah.

Aku akan berkeliling setiap satu jam sekali, melihat-lihat siapa tahu ada yang kesulitan dan membutuhkan tenagaku. Entah pedagang, ataukah pembeli sepertimu. Dan suatu kali aku melihatmu kesulitan dengan beberapa tas belanjaan, dan aku menawarkan diri untuk membawakan. Kamu setuju, dan dari lantai tiga kios pasar, di depan kios Mbah Pariyem penjual tampah bambu dan segala perabotan yang terbuat dari bambu, aku mengantarmu beserta tas-tas dan belanjaan itu sampai diparkiran tempat kendaraanmu berada.

“Terima kasih, ini ada sedikit sekadar untuk membeli es teh.” ucapmu seraya mengulurkan beberapa lembar rupiah, sesaat setelah aku selesai membantumu menata barang belanjaan di kendaraan.

“Ga usah, tadi kan cuma sekalian karena saya juga mau turun ke parkiran.” sergahku, menolak. Aku harus menolak pemberianmu —meski aku membutuhkan uang itu—, dengan alasan yang entah. Pokoknya aku harus menolaknya, itu saja.

“Tidak, berikan saja pada tukang parkir.” sekali lagi aku menolak, sembari melirik ke arahmu, kemudian ke arah kawanku tukang parkir yang sudah berdiri di dekat kita.

“Halah, mentang-mentang cewek cantik trus ditolak uangnya. Kere kok kebanyakan gaya.” seloroh kawanku si tukang parkir itu. Aku hanya tersenyum kecut.

Sekali lagi karena alasan yang entah, aku merasa suatu saat kita akan dekat. Meski tentu saja itu perasaan subyektif dan intuisi berantakan dari kuli pasar sepertiku. Tetapi pada akhirnya dalam pelukan waktu, intuisi berantakan itu menjadi kenyataan.

Setelah kejadian itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di parkiran pasar. Sekadar menunggumu datang, meski tak mesti setiap hari kamu kesana. Aku selalu menunggu.

Dan ketika terlihat kamu datang ke pasar, aku takkan beranjak dari parkiran, menunggu saatnya kamu akan melambaikan tangan untuk membawakan barang belanjaan. Entah dari lantai dua, atau lantai tiga, atau bahkan dari kios-kios yang berdekatan dengan parkiran. Namun paling banyak kamu melambaikan tangan dari lantai tiga, dan aku akan segera berlari begitu melihat tanda darimu itu. Lambaian tangan itu.

“Ada nomor hape?” katamu pada suatu waktu setelah seperti yang telah lalu selepas aku sedikit membantumu.

“Ada.” jawabku singkat.

“Boleh minta?”

“Untuk apa?”

“Minta aja, kalau sewaktu-waktu aku tidak melihatmu diparkiran, namun membutuhkan bantuan.” katamu.

“Ooh, boleh.”

Setelah itu kamu menyimpan nomorku, namun aku lupa untuk juga meminta nomormu. Tetapi aku yakin suatu saat kamu akan menghubungiku lewat telepon, dan aku akan menyimpan nomormu.

Saat yang kutunggu datang juga, ketika kamu menghubungiku. Yang membuatku heran, kamu tidak sedang berada di pasar. Kamu sedang berada di sebuah toko swalayan modern, dan kamu memintaku untuk menyusul kesana. Ah, mana bisa aku menolaknya?

Setelah itu beberapa kali aku dan kamu bertukar kabar lewat hape. Entah melalui pesan singkat, atau telepon singkat. Sekadar menanyakan kabar, atau hanya sekadar mengisi waktu yang lewat.

Ketika akhirnya sore itu aku dan kamu duduk di dekat ruas jalan utama yang kuceritakan, itu juga karena kamu menghubungiku lewat hape, dan bertanya apakah aku bisa menemanimu. Sekali lagi, mana bisa aku menolaknya.

Suatu saat aku juga menghubungimu lewat hape, untuk mengabarkan bahwa aku tidak akan lagi bekerja di pasar itu. Pasar tempatku bekerja, tempat kita pertama bertemu, dan tempat dimana kita sering bersua muka.

“Aku akan pindah.”

“Kemana?”

“Belum tahu.”

“Maksudnya?”

“Ya aku belum tahu akan pindah kemana, dan bekerja apa.”

“Memangnya kenapa dengan pasar tempatmu bekerja?”

Sedikit menggelitik mengenai kejadian di pasar tempatku bekerja sebagai buruh kasar. Ada serombongan preman datang ke pasar, mendaku sebagai ‘penguasa baru’. Siapapun yang masih ingin bekerja disana, harus menurut pada aturan mereka. Kawanku yang tukang parkir langsung memutuskan pindah dan tak lagi menjadi penjaga parkir disana. Ia tak mau membayar ‘pajak penghasilan’ yang dipungut oleh rombongan preman itu. Lik Darman juga katanya mikir-mikir, apakah akan terus berjualan disana, atau juga pindah. Pertimbangannya juga karena rombongan preman itu mengambil atau meminta ‘pajak’ terlalu tinggi.

Sedangkan aku, tak ada pilihan selain pergi. Bukan ‘pajak’ lagi yang mereka minta, melainkan bahwa aku akan dijadikan ‘buruh’ mereka. Aku yang bekerja, mereka yang terima upahnya, kemudian aku akan diupah setiap hari oleh mereka. Dengan besaran dan perhitungan yang sudah ditentukan oleh mereka. Tak sudi, lebih baik menyingkir pergi.

Menurut desas-desus, rombongan preman itu mendapat bekingan dari seorang tokoh politik yang menjadi anggota dewan. Rumor yang lain menyebutkan bahwa pejabat setempat menjadi beking mereka, dan mengambil keuntungan dari ‘pajak-pajak’ yang dihasilkan oleh mereka.

Entah mana yang benar, aku tak terlalu peduli.

“Lantas kamu mau kerja apa?”

“Gampang nanti, masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dengan menggunakan tenaga.” kataku, mencoba tenang. Padahal, aku sama sekali tak tenang.

“Kenapa tidak melawan? Kamu kan bisa mengajak yang lain untuk melawan mereka?”

“Melawan? Dengan bermodal apa? Sedang melawan nasib sendiri pun kami terhuyung sempoyongan.”

Aku memang kemudian mendapatkan pekerjaan baru, menjadi tukang sapu taman kota kabupaten pada pagi hari, dan sore sampai malam hari bekerja pada sebuah warung tenda sebagai pencuci piring dan pembuat minuman. Bagiku, itu lebih dari cukup. Tetapi tentu saja tak cukup untuk dibanggakan sebagai suatu pekerjaan yang memenuhi standar kelayakan. Baik layak secara penghasilan, atau layak untuk diceritakan. Entahlah, aku juga selalu merasa rendah diri, apalagi dihadapanmu.

Aku mempunyai waktu senggang di siang hari, dan oleh karena itu aku masih bisa menemanimu ketika ada urusan di ruas jalan utama itu. Aku bisa mengingat beberapa kali masih menemanimu disana, ketika kamu menyelesaikan urusan-urusan seperti terdahulu.

Aku tak pernah tahu apa urusanmu di ruas jalan utama itu, dan aku merasa tidak perlu tahu. Yang kutahu bahwa menunggumu menyelesaikan urusanmu, sudah lebih dari cukup bagiku. Aku jadi mempunyai secuil waktu untuk menatap wajahmu, mendengar suaramu, dan itu sangatlah berharga.

Mungkin kamu takkan pernah mengingatnya lagi, pun seberapa banyak dulu kita sering menghabiskan waktu bersama disana.

Aku juga tak memintamu untuk mengingatnya, karena tentu saja tak ada manfaat dari mengingat kejadian semacam itu. Tertawa, berbincang, bertukar canda, bukankah itu hal yang sangat biasa?

Maka ini adalah saat yang tepat, untuk menyampaikan semuanya. Aku hanya ingin menyampaikan ;

Aku tak lagi menyapu di taman kota kabupaten pada pagi hari.

Aku tak lagi mencuci piring dan membuat minuman di warung tenda pada malam hari.

Aku tak lagi mempunyai hape, karenanya aku tak menghubungimu dan memberitahumu mengenai keberadaanku.

Aku juga takkan bisa lagi menemanimu di ruas jalan utama itu, menemanimu berbelanja, atau melihat wajahmu sembari menyaksikan senja yang menua.

Ada perasaan entah yang tiba-tiba menyeruak untuk tak lagi menemuimu, meski aku takkan pernah tahu apakah aku mampu bertahan untuk tak bertemu denganmu.

Ada kesungguhan dalam niatku, sungguh-sungguh agar tak perlu lagi ada waktumu yang terbuang sia-sia sekadar untuk tertawa bersama orang sepertiku.

Ada energi dan tenaga yang sangat besar dalam niatku, untuk melangkah sejauh mungkin dari jarak yang mungkin mempertemukan kita.

Ada kebodohan dalam pilihan sikapku, karena tentu saja kamu takkan pernah membaca ini. Dengan itu kamu takkan pernah tahu alasanku, dan mungkin saja kamu akan membenciku.

Tapi ini adalah saat yang tepat, entah apapun alasannya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *