Sahabat, Saudara, Selamat Jalan

Suasana rumah duka, pagi itu.

Rabu [10/07/2019] menjadi salah satu hari yang merona kelabu bagi diri saya pribadi. Seorang kawan, sahabat, yang sudah seperti saudara, pergi.

Semenjak Selasa sore [09/07/2019] saya tak memegang hape. Saya sudah beranjak tidur lebih awal dari biasanya. Jika pada hari biasanya saya akan mulai berangkat tidur sekira jam sepuluh atau sebelas malam, hari itu saya tidur sekira jam delapan malam. Lelah saja yang terasa, dan tak ada alasan lain apapun.

Akan tetapi tengah malam saya tetiba terbangun. Saya raih hape di sebelah, dan waktu menunjukkan jam ‘00.03’. Biasanya, saya akan bisa kembali tidur. Tetapi tidak waktu itu. Mata saya enggan diajak terpejam kembali, pun ketika sudah saya paksa sembari pikiran melayang menghitung domba.

Seperti ada sesuatu yang lain, namun saya menepisnya dengan meneguk air putih sampai sebanyak dua gelas besar. Kemudian saya menyulut sebatang rokok setelah sebelumnya berkemih. Hape saya buka sejenak, dan saya isi ulang baterainya diatas meja televisi.

Sampai habis dua batang rokok, mata saya tak kunjung kembali mengantuk.

Pun sampai ketika saya setengah memaksa dengan keluar rumah dan menyulut batang rokok ketiga, mata saya tak kunjung menurut untuk terpejam. Akhirnya saya paksa dengan merebahkan diri di kasur. Biar saja mau sampai seberapa lama mata bertahan. Sialan, cukup lama juga kiranya mata saya tak kunjung terpejam. Saya menyadarinya ketika pada akhirnya bisa terlelap, kumandang adzan Subuh sudah terdengar.

Segera saya kembali bangun dan menjalankan ibadah wajib paling sulit itu, sholat Subuh.

Segelas kopi saya seduh terlebih dahulu untuk menemani melinting tembakau nanti setelahnya. Baru dua linting tembakau terselesaikan, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menggerakkan untuk beralih terlebih dahulu. Menuju tempat hape saya berada, dan mengecek apakah ada sesuatu yang penting disana.

Saya buka WA, terdapat beberapa panggilan, juga pesan yang masuk. Saya lihat penanda waktunya, sekira jam ‘01.30-02.30’. Hati saya terasa mengecil. Hampir bisa dipastikan, kabar kurang baik jika ada kawan atau saudara yang menghubungi pada rentang waktu tersebut.

Beberapa panggilan dan pesan masuk itu berasal dari beberapa kawan, namun dengan satu berita yang sama. Mereka mengabarkan bahwa kawan saya yang sakit : https://anangaji.com/senin-yang-tak-menyenangkan-doa-untuk-seorang-kawan/, telah meninggal dunia.

Pipi saya terasa hangat, tak terasa ada air mata yang tumpah dan mengalir, tanpa sebelumnya mengembang terlebih dahulu di pelupuk mata. Langsung mengalir, tanpa alasan apapun selain kesedihan yang memenuhi seluruh rongga pagi.

Tangan saya terasa gemetar, dan tak bisa meneruskan untuk melinting tembakau. Tak terasa tangis saya pecah, terisak dalam pagi yang masih terasa dingin.

Sudah beberapa kali saya ditinggalkan oleh sahabat atau kawan, tetapi bukan ditinggalkan yang terpisah oleh kematian.

Pikiran saya mendadak kosong, dan sejurus kemudian melayang pada berbagai ingatan mengenai sahabat saya itu. Bagaimana ketika kami bertukar pisuhan, atau bagaimana ketika kami bertengkar dalam tema remeh temeh mengenai negara, dan juga bagaimana ketika kami berbagi rokok sembari tertawa bersama.

Semua mendadak memenuhi segala ruang dan rongga ingatan. Air mata semakin terasa deras, dan hidung saya mulai tersumbat. Beberapa kali saya muntah dalam keadaan perut kosong. Tenggorokan terasa sangat sakit, menahan segala apa yang diruntuhkan oleh perpisahan.

Waktu itu, rasanya ingin segera bertemu dan mensholatkan sahabat saya itu. Perasaan saya terus berkecamuk, dan memaksa langkah untuk segera saja bergegas menuju rumah duka. Di kantor, selepas mengisi presensi, rasanya ingin langsung saja pergi menemui sahabat saya itu. Paling tidak, menjumpai jasadnya untuk terakhir kali.

Dari beberapa informasi, sahabat saya akan dikebumikan pada sekira jam dua siang.

Jam sembilan lebih tiga puluh menit, pagi, saya bergegas memacu Bleky menuju rumah duka di Godean. Melaju dari Prambanan, membelah kota Yogyakarta, lurus ke arah barat menuju Godean. Sepagi itu, saya ingin menemui dan mensholatkan sahabat saya dalam hening dan sepi. Sengaja saya menghindari petakziah yang pasti akan membeludak pada siang hari. Sahabat saya itu memiliki lingkup pergaulan yang sangat luas, sudah pasti banyak yang akan datang menemuinya.

Sampai di rumah duka, suasana sudah cukup ramai, tapi belum terlampau ramai. Mungkin ramai oleh saudara dan tetangga sekitar rumahnya. Saya Salami satu per satu adiknya yang berdiri menyambut para petakziah. Saya sampaikan ikut berbela sungkawa, dengan suara yang tipis dan kering.

Selepas itu, saya bertanya dimana jenazah berada. Ditunjukkan oleh salah satu adiknya, bahwa jenazah berada di ruang tengah. Saya beranjak menuju kesana.

Dari depan pintu, saya bisa melihat jelas keranda yang ditutup kain hijau dengan hiasan renda berwarna emas bertuliskan kalimat tauhid. Foto sahabat saya dalam cetak ukuran 3R berada diujung kanan keranda dari tempat saya berdiri. Saya lihat anak sulungnya duduk di atas tikar bersama beberapa keluarga, melingkar tak jauh dari tempat keranda berada. Saya tak sampai hati dan tak tega menyalami mereka.

Saya langsung menuju ke arah keranda setelah sebelumnya meletakkan tas di dekat pintu. Niat awal, saya akan langsung sholat dan berdoa dengan rapal yang bisa saya ucapkan. Tetapi kaki saya gemetar ketika berada di dekat keranda dan memandang fotonya.

Seketika teringat sapaan khasnya ketika bertemu dengan saya :
“Piye bro?” [Gimana kabarnya?]

“Seko ngendi Nong?” [Darimana Nang?]

Kaki saya semakin gemetar, dan seketika saya terduduk menunduk, menangis.

Setelah tak lagi terasa sakit yang teramat sangat, saya berusaha berdiri dan mengerjakan sholat jenazah.

Selepas mensholatkan, saya keluar dan mencari tempat duduk dalam sudut yang sepi. Saya berniat untuk terus duduk disana sampai waktu pemakaman tiba. Tak ada alasan apapun selain perasaan untuk menemani jasadnya dalam detik-detik terakhir di dunia.

Sampai ketika akhirnya waktu pemakaman tiba, saya hanya bisa memandangnya dari kejauhan dan tak ikut mengantar sampai pada liang kuburnya.

Sampai peti jenazahnya hilang dari pandangan, salah satu kalimat yang seringkali ia ulang kepada saya kembali terngiang :
“Aku ki penggemar berat tulisanmu je Nang.” [Saya itu penggemar berat tulisanmu Nang.]

Selamat jalan kawan, tempat terbaik tersedia untukmu di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Allah menyayangimu, sehingga Ia memanggilmu kembali dalam rentang waktu secepat ini.

Selamat jalan, sahabat.

7 Comments

  1. Good Info Buddy. It Helps a lot. Love to see you posts. Our Indian Escorts in Hyderabad are very discrete, honest and professional with client. Our Escort girls offer in call and outcall services in every major area in Hyderabad. Our most trusted Indian Escorts having great intelligence, humour and charm to seduce the clients.

  2. you’re in point of fact a just right webmaster. The site loading pace is amazing.
    It seems that you are doing any unique trick.
    Moreover, The contents are masterpiece. you’ve performed a
    great process in this subject!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *