Sakit, Tapi Tak Pernah Sesakit Ini

Gigi, iya gigi, bukan yang lain.

Hati? Enggak!

Sakit hati tidak pernah sesakit seperti sakitnya gigi.

Lagipula, hati saya sudah mati. Serius. Hati saya sudah mati. Ia meranggas, hancur berkeping dan hilang larut bersama waktu. Oleh karena itu, saat ini saya hidup tak menggunakan hati.

Kalau dilakukan rontgen dengan sinar X, paling hanya terlihat segumpal daging. Itu pun tak lagi berwarna merah, melainkan hitam. Hitam legam, seperti Hajar Aswad yang menghitam karena dosa-dosa manusia.

Ah ya, kita sedang membicarakan apa? Tak penting.

Kita mengobrol saja kesana-sini, sembari silahkan menyiapkan secangkir kopi. Laiknya kawan lama, mari berbincang sembari menikmati secangkir kopi yang kini mahal harganya. Mahal oleh karena sempitnya kesempatan.

Iya, kelak anda akan merindukan saya, juga tulisan-tulisan saya, ketika saya tak lagi bisa sering menulis. Entah karena kesibukan, atau oleh karena saya memang sudah malas menulis.

Anda tahu Bung dan Nona sekalian? Menulis semacam ini menguras tenaga, celakanya….tak bisa ditukar beras apalagi pulsa dan paket data.

Kebiasaan, melantur, mari kembali ke gigi, yang sedang sakit ini. Gigi geraham bawah saya, yang sebelah kiri.

Bangsat betul, berulah dan membuat sakit yang rasanya minta ampun. Padahal, kurang apa coba saya sama gigi geraham ini?
Semua benda, terutama makanan yang masuk ke dalam tubuh saya, dia yang saya beri kehormatan untuk melumat dan melembutkan. Tak saya berikan kesempatan serta kehormatan semacam itu kepada telinga atau mata, selalu hanya untuk gigi geraham tercinta itu.

Tetapi apa? Dia berulah, membuat sakit yang teramat sangat.

Ah, sepertinya ada juga manusia semacam itu dalam lingkar kehidupan kita. Sudah kita berusaha sebaik mungkin padanya, akhirnya ia menikam menyakiti juga.

Banyak? Atau anda berada dalam lingkaran gigi yang selalu baik-baik saja? Bersyukurlah kalau begitu.

Kadang terbersit untuk mencabutnya saja, membuangnya. Ah, tapi selagi masih ada cara lain, bolehlah dicoba.

Saya pernah menambalnya, gigi geraham yang sedang berulah itu. Dulu, ketika pada awal mula dia berulah. Saya memilih menambalnya alih-alih mengikuti saran dokter untuk mencabutnya.

Dokter puskesmas tentu saja. PNS kasta sudra seperti saya ini tak mampu jika harus periksa ke klinik plat kuning. Saya pilih fasilitas kesehatan plat merah, yang gratisan. Yang sudah ditanggung dengan BPJS, yang iurannya menurut kabar akan segera dinaikkan. Ah, peduli setan.

Pernah ditambal, pernah sehat lagi, pernah menemani saya makan dan minum serta menjalani hidup dengan bersuka hati. Namun apa daya, hancur tambalan gigi itu. Bukan karena saya hanya menambalnya di puskesmas, tetapi mungkin karena makanan saya sehari-hari demikian kerasnya. Batu, koral, besi, dan segala macam aneka makanan yang jauh dari kata lembut.

Kini, gigi geraham keparat itu sakit lagi, berulah kembali.

Bukankah ada juga yang semacam itu?
Yang baik kembali untuk sementara waktu?
Selepas kita berusaha menambal dan mengobatinya?

Namun kembali menyakiti suatu waktu?

Ah ya, gigi.

Kini harus diputuskan, apakah hanya akan saya berikan perawatan sementara [lagi], atau mencabutnya.
Mungkin kali ini, saya akan mencabutnya, dipuskesmas tentu saja. Gratis. Nanti akan banyak cicak yang tertawa kalau sampai PNS golongan kasta sudra seperti saya ini periksa gigi di klinik swasta.

Jika kelak saya mencabutnya, saya akan kehilangan gigi geraham yang sudah menemani sekian puluh tahun itu. Kehilangan banyak kenangan bersamanya. Kenangan ketika makan pete, makan jengkol, atau ketika dulu diam-diam makan semangka curian.

Tentu saya akan kehilangan teman makan yang [pernah] baik itu.

Namun, ah….semua romansa akan sampai juga pada ujungnya. Senja tetap akan tenggelam betapa pernah indahnya. Begitu juga dengan gigi geraham saya ini. Betapapun pernah kami berjibaku saling membantu menguntungkan, saling menjaga dan menyayangi, toh kini dia lebih banyak menyakiti.

Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari gigi kurang ajar semacam ini. Betapa tidak kurang ajar, setiap hari bahkan saya selalu membersihkannya. Merawatnya, toh menyakiti juga. Asulah….

Mentang-mentang saya hanya bisa merawatnya dengan sikat dan pasta gigi berharga murah. Mentang-mentang saya hanya bisa merawatnya dengan air sumur biasa. Kok ya lantas menjadi tega.

Andai saya ini tak berkasta sudra, tentu dari dulu bisa saya berikan perawatan berkala di klinik swasta. Minimal dua atau tiga bulan sekali. Berjaga-jaga agar dia tak berulah menyakiti.

Tetapi ketika saya tak mampu, lantas kenapa harus menyakiti?
Tak bisakah saling mengerti?

Toh saya tak pernah menuntutnya untuk selalu sempurna dalam melembutkan makanan. Bahkan saya cenderung memanjakannya. Hanya dalam beberapa kunyahan, saya terbiasa langsung menelan makanan. Seringkali karena keburu lapar.

Tetapi kok ya….dasar gigi keparat.

Tunggu saja, sampai jumpa lagi kita di puskesmas. Kelak jika saat itu tiba, itulah saat terakhir engkau akan menyadari, bahwa meski tak bisa memberikan yang terbaik dalam merawatmu, setidaknya aku satu-satunya yang bisa menerimamu….apa adanya.

Ah, gigi yang pernah ku sayangi, engkau yang memaksa berpisah, bukan aku….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *