SAMA-SAMA (BERSAMA) MI INSTAN

Arjo dan Lasiyem sedang menikmati sarapan pagi berdua. Sarapan pagi yang penuh rasa cinta, penuh obrolan, bersahaja, sekaligus sederhana. Mereka masing-masing menghadap satu piring berisi nasi putih, dan satu piring berisi mi instan goreng berada diantara mereka. Satu bungkus mi instan yang di dapat dari acara kenduri tetangga, tanpa telur, dan hanya berhias satu sendok garpu.

“Alhamdulillah ya dek kita masih bisa sarapan.”

“Iya mas, Alhamdulillah.” Lasiyem menanggapi perkataan suaminya sembari membagi satu mi instan itu, pada piring suaminya dan kemudian piringnya sendiri.

“Banyak lho dek yang tiap pagi ga bisa sarapan seperti ini.”

“Sarapan mi dan nasi seperti ini mas?”

“Eeeng, iya.”

“Kok ragu mas?”

“Maksudku, banyak yang tidak sempat sarapan bersama keluarganya dek. Bersama istri, suami, atau anak-anaknya. Kalau menu yang seperti ini, kita banyak temennya.”

“Ooh, iya mas. Aku bersyukur kita bisa sarapan tiap pagi bareng kamu mas.”

“Iya Lus. Kadang aku bersyukur keadaan kita seperti ini.”

“Seperti ini bagaimana mas?”

“Ya seperti ini.” Arjo menyendok satu suap nasi, mengunyahnya perlahan, dan melanjutkan “coba misalnya saja aku ini mempunyai pekerjaan sebagai manajer atau direktur perusahaan, atau paling tidak pejabat pemerintahan di kecamatan. Pasti aku sudah akan sangat sibuk, dan tidak mempunyai banyak waktu, meski sekadar sarapan bersama.”

“Eeeng, iya mas.”

“Kok ragu dek?”

“Bukan berarti mas tidak ingin kita sarapan dengan mi tambah telur dadar kan?” Tanya Lasiyem sembari menyendok satu suap nasi dan mi, mengunyahnya dengan perlahan.

“Maksudnya dek?” Arjo mengernyit.

“Bukan aku tidak bersyukur mas, tapi kalau bisa sarapan bersama, dengan menu yang lebih dari mi instan, kan ya gapapa to?”

“Wooo lha iya. Lha kok ini tadi ndak goreng telur?”

“Telur apa mas?”

“Telur gajah. Lha ya telur ayam.”

“Sejak kapan celengan ayam bisa bertelur mas?”

“Welah Lus, kamu kok dari tadi ndagel je?”

“Lha ya wong kita ndak punya ayam kok, adanya juga celengan ayam, tanya telur.”

“Punya telur kan ndak mesti punya ayam dek.”

“Lha terus telurnya dari mana maaassss.”

“Ya beli dek.”

“Beli telur pakai apa?”

“Pakai kreweng. Ya pakai duit to.”

“Lha kita aja ga punya duit.”

“Lhoh, duit yang kemarin itu?”

“Mana? Yang buat bayar listrik sama bayar arisan terus sama buat bayar cicilan panci?”

“Wew. Habis to?”

“Masih mas.”

“Lha itu masih.”

“Masih menyisakan utang bayar beras. Kemarin ngutang tempat Mbak Nem.”

Arjo hampir tersedak. Piringnya sudah kosong, menyusul pikirannya yang sudah terlebih dahulu kosong demi mendengar istrinya berkata tak ada lagi uang.

“Sudah mas, ga usah dipikirkan. Syukuri hari ini, insya Allah besok ada uang lagi.” Lasiyem berkata lembut sembari meraih tangan suaminya, menggenggam erat memberi semangat.

“Coba aku ini punya pekerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup ya dek.”

“Lhah tadi katanya bersyukur kita seperti ini?” Ganti Lasiyem mengernyit dan lekat menatap Arjo.

“Aku tu cuma kasihan sama kamu Lus.”

“Kasihan kenapa mas?”

“Ya karena aku tidak mempunyai pekerjaan dengan penghasilan lumayan, makanya kita tidak bisa sarapan lebih dari nasi dan mi instan.”

“Disyukuri mas. Paling tidak, kata mas tadi sarapan kita seperti ini banyak temennya. Lagipula, kita masih cukup beruntung lho mas.”

“Beruntung gimana dek?” Arjo menatap istrinya sembari meneguk segelas air putih.

“Banyak lho, kemarin aku baca berita, cuma mau makan mi instan saja harus masuk penjara.”

“Weh, iya po?”

“Iya.”

“Dimana?”

“Di berita.”

“Maksudnya itu tempatnya dimana?”

“Ooh, di Australia mas.”

“Berita bener atau hoax itu? Sekarang kan banyak hoax dek, jangan langsung percaya. Lagian, mosok makan mi aja harus masuk penjara.”

“Iya mas. Di Australia narapidana dapat jatah mi instan produk dari Indonesia.”

“Woooo, lha ya bukan berarti mereka harus masuk penjara buat makan mi.”

“Ya setidaknya karena masuk penjara mereka bisa makan mi instan imporan dari Indonesia.” Lusy mengambil piring kosong dari depan Arjo, menumpuknya dengan piring kosongnya sendiri dan juga piring kosong bekas mi.

“Kok sama ya nasibnya?”

“Sama gimana mas?”

“Sama kayak narapidana Australia, sama-sama makan mi instan.”

“Kok narapidana Indonesia ga dikasih jatah mi ya mas? Atau napi-napi yang dipenjara karena kasus korupsi itu, dijatah mi instan saja buat makan hariannya.” Lusy bertanya pada Arjo yang kini sudah bersiap berangkat bekerja dan sedang memakai jaket jeans merk Lea yang dibeli dari pedagang awul-awul pasar malam di lapangan kecamatan.

“Wah, kalau napi kasus korupsi kok dikasih mi instan, ya mereka senang lah.” Jawab Arjo.

“Cuma dikasih mi kok seneng mas?”

“Lha kan berarti penjaranya harus pindah di Australia? Seneng dong mereka malah piknik-piknik ke Australia?”

“Mas.”

“Apa dek?”

“Sini salim cium tangan sekarang aja, wis gek ndang berangkat. Aku selak kepising mas.” Lusy meraih tangan suaminya, mencium takzim, sembari berdoa bagi kesehatan serta kewarasan suaminya.

Arjo ndomblong, dan beringsut menuju pintu untuk segera berangkat bekerja. Lusy beranjak menuju WC, dan bersyukur setidaknya ia mempunyai suami yang tidak mungkin korupsi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.