SANDIAGA UNO DAN ERICK THOHIR : BLUNDER BESAR KEDUA KUBU

Kontes politik tahun 2019 akhirnya mempertemukan dua sahabat dalam dua kubu berseberangan. Sandiaga Uno pada satu sisi, dan Erick Thohir pada sisi yang lain. Keduanya menambah daftar para sahabat yang kini harus berada dalam barisan berbeda untuk bertempur serta beradu strategi untuk memenangkan pihak yang didukungnya. Sebelumnya, Ma’ruf Amin harus berbeda sisi dengan pihak yang dulu satu kubu dengannya ketika kontes penistaan agama dengan Ahok sebagai aktor utama. Sebelumnya lagi, TGB harus berseberangan dengan tokoh-tokoh Partai Demokrat yang sebelumnya berada dalam satu barisan.
Lebih jauh sebelumnya, kontes politik ini sudah membagi dua pihak yang sebelumnya adem ayem sebagai sahabat, sahabat sesama satwa, yaitu cebong dan kampret. Meski berbeda habitat, cebong dan kampret sebelumnya tak pernah saling serang, saling tuduh, atau saling beradu argumentasi tentang siapa yang paling baik dan paling benar.
Kini, bahkan cebong dan kampret menjadi bermusuhan.

Kedewasaan sikap Sandi dan Erick harus diuji kali ini. Keduanya mengaku sebagai sahabat dekat, dan kini harus saling berhadapan. Apakah kontes ini juga akan mengikuti daftar pecah belah dunia satwa yang sudah dimulai oleh cebong dan kampret, hanya mereka yang tahu. Yang jelas, kedua kubu mempunyai pertimbangan masing-masing ketika mengusung Sandi maupun Erick. Tetapi saya yakin, Sandi dan Erick tak berasal dari dunia satwa, flora dan fauna seperti halnya cebong maupun kampret.

Tetapi saya tak akan membahas mengenai pecah belah, adu domba, cebong kampret, ataupun segala hal absurd yang muncul diantara mereka.
Saya akan membahas, mengenai kesalahan kedua kubu ketika memutuskan memilih Sandi maupun Erick.

Sandiaga Uno, tokoh muda, pengusaha sukses tajir melintir yang diklaim mampu memikat hati emak-emak, akhirnya dipilih untuk mendampingi Prabowo. Diluar isu yang muncul seputar mahar sekian milyar, saya kira pemilihan Sandi untuk memberi perimbangan pada Prabowo yang cenderung terlihat lebih serius, agak tepat adanya.
Begitu juga ketika kubu yang lain memilih Erick Thohir. Pengusaha yang juga sukses, tajir dipelintir-pelintir, mempunyai banyak klub olahraga bernama besar, baru saja menuai kesuksesan sebagai ketua penyelenggara Asian Games, saya rasa pemilihannya, agak tepat juga adanya.

Sandi, ketika baru saja dideklarasikan untuk mendampingi Prabowo, sudah mengeluarkan jurus maut untuk memikat calon pemilihnya. Ia mengatakan akan berpihak kepada emak-emak, dengan akan berusaha menurunkan harga kebutuhan pokok serta menstabilkan harganya, jika kelak terpilih sebagai wakil presiden.
Tentu saja pernyataannya seketika memantik dukungan dari para emak-emak. Emak-emak jelas lebih tertarik dengan modal janji berupa jaminan untuk harga telur, daging, minyak atau beragam kebutuhan pokok lainnya yang lebih murah dan stabil daripada janji untuk penguatan rupiah, tingkat suku bunga, neraca dagang internasional, atau segala ukuran dan istilah ekonomi makro.

Emak-emak tidak akan peduli berapapun nilai tukar rupiah terhadap dolar, ataupun pengaruhnya terhadap harga bahan kebutuhan pokok, tidak akan peduli. Beri emak-emak bahasa yang gampang dan mudah dipahami bahwa kelak, jika memilih Sandi, maka tak perlu khawatir tentang beragam macam harga yang ada di pasar, termasuk tempe.
Sandi, berhasil membuat bahasa komunikasi politik yang rumit, menjadi mudah dipahami.

Dan tak butuh waktu lama, bagi beberapa emak-emak, Sandi sudah menjelma sebagai idola baru. Muda, ganteng, kaya, jago renang, pintar senam, ahli goyang, lihai memakai lipglos, dan yang terpenting pandai mengambil hati.

Di sisi lain, pemilihan Ma’ruf Amin sebagai pendamping Jokowi kurang mendapat ‘respon positif’ dari berbagai kalangan, termasuk para pendukungnya. Pemilihan Ma’ruf dilihat sebagai sebuah upaya untuk menutup serta bertahan dari beragam isu dan pendapat yang selalu memojokkan pemerintahan Jokowi tidak ‘pro‘ terhadap umat Islam, alih-alih memilih calon wakil presiden dengan pertimbangan ‘profesionalitas’ terhadap suatu bidang. Pemilihan Ma’ruf sekaligus menutup kemungkinan Sri Mulyani maupun Susi Pudjiastuti yang sebelumnya lebih diunggulkan. Banyak yang kecewa, sebenarnya.

Maka pemilihan Ketua Tim Sukses Kampanye Nasional menjadi salah satu strategi kubu Jokowi untuk mengimbangi respon heboh terhadap keberadaan Sandi pada kubu lawan.

Keberhasilan penyelenggaraan Asian Games melambungkan nama Erick Thohir. Meski nama Erick sebelumnya sudah cukup mahsyur, termasuk ketika ia membeli klub Inter Milan dari seorang ‘Don’ Italia, namun tak dapat dipungkiri bahwa Asian Games semakin membuat namanya mahsyur dan terkenal.
Meski tak berposisi sebagai cawapres seperti halnya Sandi, tetapi posisi sebagai Ketua Tim Sukses atau Ketua Tim Kampanye Nasional juga mendapat porsi sorot dari lampu utama yang cukup banyak, dan juga menjadi representasi kubu Jokowi bahwa pihak mereka juga berisi para muda yang sukses dan berotak cemerlang.

Erick juga disebut oleh Ridwan Kamil sebagai sosok yang disukai emak-emak. Entah apa dasarnya, tetapi mungkin pernyataannya didasari oleh kenyataan bahwa kesuksesan Erick sebagai seorang suami yang sukses sebagai pengusaha, sukses memimpin suatu event dan atau organisasi, menjadi suatu dasar pernyataan. Terkadang, ketika seorang suami bisa menjadi Ketua RT sukses saja, seorang istri akan merasa bangga.

Tetapi, benarkah pemilihan Sandi maupun Erick sudah tepat untuk menggalang serta menjaring suara juga dukungan?
Benarkah emak-emak memang akan terpikat, karena selain muda, tamvan, mereka juga kaya raya dan sangat stylish ketika berbusana.

Siapa yang tidak akan klepek-klepek?

Ya tentu saja bapak-bapak tidak akan klepek-klepek. Ngapain klepek-klepek?
Bahkan sebagai para suami dari emak-emak, keberadaan Sandi maupun Erick bisa jadi akan membuat mereka tidak menentukan dukungan pada kedua kubu. Bisa jadi akan terjadi tingkat golput yang cenderung tinggi. Suara kedua kedua kubu akan tergerus cukup banyak oleh karena bapak-bapak tidak akan terima istri mereka, emak-emak, dieksploitasi.

Bagaimana analisanya?
Mudah saja.
Apakah bapak-bapak akan merasa senang ketika istrinya memuji laki-laki lain?

Apakah mereka terima istri mereka dijadikan komoditas kampanye untuk mendulang suara?

Atau justru sebaliknya, marah, kesal, dongkol, atau juga cemburu.

Saya kira, banyak bapak-bapak yang akan senewen ketika mengetahui latar belakang atau motivasi istri mereka dalam memilih salah satu calon kelak pada tahun 2019.

“Mas Sandiaga Uno itu udah ganteng, kaya, pintar, cerdas, lucu, masih muda lagi. Cocok ya Pak kalau jadi wakil presiden. Besok tahun 2024 semoga bisa jadi presiden.” Kata seorang emak suatu waktu.

“Arep Sandiaga, Sandi Morse, po Sandi Rumput raurusan. Aku ra milih. Mending milih mancing.” (Mau Sandiaga, Sandi Morse, atau Sandi Rumput ga peduli. Aku tidak memilih. Lebih baik mancing). Jawab si bapak sembari mengambil peralatan memancing dan meninggalkan si emak yang ndlongop mendengar jawaban suaminya.

Begitu juga di kubu sebelah,

“Mas Erick Thohir itu lho Pak, ketua tim suksesnya Pak Jokowi, ganteng banget. Pengusaha, kalem, cool, tidak banyak omong, tetapi pekerjaannya mrantasi. Kemarin sukses jadi ketua penyelenggara Asian Games. Bersama Mas Erick, Pak Jokowi pasti akan lebih sukses Pak.” Kata si emak pada suaminya.

“Arep Erick Thohir, Eric Cantona, Eric Clapton, aku raurusan. Ra arep milih. Mending mancing.” (Mau Erick Thohir, Eric Cantona, Eric Clapton, aku ga peduli. Ga mau milih. Mending mancing) Jawab si bapak sembari mengambil peralatan memancing dan meninggalkan si emak yang ngowoh.

Di sungai, kedua bapak yang baru saja oleh istri masing-masing diumuki kelebihan Sandi maupun Erick, bertemu.

“Masya Allah Kang, bojoku. Belum kenal aja kok ngalem-alem orang. Ketemu aja juga ga pernah.” Kata bapak pertama sembari ngelus dada.

“Maksudnya Kang?” Bingung yang diajak bicara.

“Istriku memuji-muji Sandiaga Uno, cawapresnya Prabowo. Yang muda lah, kaya lah, pinter lah. Lha wong ketemu aja ga pernah, ngasih beras juga ga pernah, kok iso mutusi.” Bapak pertama menjelaskan.

“Owalaaahhh Kang, sama. Istriku tadi dirumah juga ngalem-alem Erick Thohir, ketua tim kampanyenya Jokowi. Sama gitu, yang muda lah, kalem, pinter, kaya. Lha wong lihat langsung orangnya juga belum pernah, ngasih gula teh juga belum pernah, haaa kok le mbanggakke.” Bernasib sama, bapak kedua juga ngudarasa.

Tahun 2019, jelas saya mendukung bapak-bapak yang merasa terdzalimi. Bapak-bapak se-Indonesia, bersatulah.

Untuk tahun 2024, saya sarankan untuk membuat partai baru, partai yang akan membuat bapak-bapak bisa menyalurkan aspirasi, lepas dari belenggu kampanye yang menyerobot kedaulatan rumah tangga dan melunturkan wibawa serta marwah kalian sebagai suami, bapak-bapak.

Partai Bapak-bapak Terdzalimi Teraniaya Terpinggirkan Terlupakan (PBT4) siap ikut kontestasi pemilu tahun 2024.

Bersiaplah.

*****

Foto : ngopibareng.id

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.