SANTRI DAN IKAN LAUT, SEBUAH INGATAN

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, bagi beberapa orang dan golongan disambut dengan gembira dan suka cita. Bagi beberapa yang lain disambut dengan acuh, dengan sedikit sinis. Bagi saya sendiri, bertambahnya suatu ‘hari peringatan’, berarti menambah jadwal mengikuti upacara, yang berarti menambah jatah tisu untuk melap keringat.

Bukannya saya tidak setuju dengan adanya peringatan atau penetapan Hari Santri, tetapi tentu ada catatan-catatan yang harus disematkan. Misalnya saja, apakah dengan penetapan Hari Santri dan berbagai seremonial peringatannya, lantas menjadikan kita juga berperilaku seperti santri, dan dengan itu kita layak dianggap menjadi santri?
Lebih jauh, perilaku seperti apa yang seharusnya dicontoh atau diteladani dari santri?

Itu hanya sekelumit kegelisahan saya dari beragam macam banyaknya agenda upacara dengan berbagai tema peringatan. Selama ini saya mengikuti berbagai macam upacara dengan berbagai tema dan agenda. Tetapi hampir selalu, tak ada sesuatu yang mendasar dan substansial mengena dalam berbagai upacara peringatan tersebut.

Misalnya saja semenjak SD, sampai ketika sudah bekerja, saya selalu mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Lalu apakah saya otomatis menjadi pancasilais?
Ataukah orang yang mengikuti upacara tersebut lantas juga layak disebut sebagai pancasilais, atau paling tidak mengendapkan makna nilai-nilai Pancasila di dalam diri, hati, jiwa, serta pikirannya sehingga setiap sikap dan tindak-tanduknya adalah cerminan Pancasila?

Saya rasa tidak sesederhana itu, apalagi jika setiap peringatan hanya ditandai dengan upacara atau gemerlap perayaan.

Hampir tidak ada gerakan yang secara mendasar menyentuh sendi-sendi kehidupan atau pergaulan masyarakat untuk mengarahkan serta menanamkan nilai-nilai ‘santri’ dan segala hal baik yang patut dicontoh darinya.

Sementara kesampingkan cerita, konon, yang memberitakan bahwa santri-santri, apalagi di pondok pesantren, ndugalnya ngudubilah. Mencuri-curi waktu untuk merokok, membolos mendaras kitab, dan segala kenakalan yang lain. Toh kenakalan seperti itu juga ada pada mereka yang selain santri, bukan?
Coba sedikit saja kita contoh dan kedepankan mengenai kesederhanaan hidup para santri, tekadnya dalam belajar, penghormatannya pada orang tua dan para guru, serta santunnya sikap, ucapan, dan perbuatan.

Sejauh ini, apa yang sudah dilakukan untuk merayakan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri, selain berbagai upacara bendera dan rangkaian seremonial perayaaan yang sama sekali jauh dari esensi dan makna?

Penetapan Hari Anak Nasional sudah lebih jauh dilakukan. Dengan berbagai peringatan yang berulang dilakukan setiap tahun. Lantas apakah kemudian kita juga mulai peduli hak-hak anak?
Bukan hanya hak untuk mendapatkan penghidupan, perlindungan, atau hak mendapat pendidikan baik formal maupun non formal. Terutama adalah haknya untuk menyatakan pendapat, hak untuk didengarkan oleh orang tua atau orang yang lebih tua, hak untuk menyatakan keinginan, serta hak-hak lain yang selama ini diabaikan.

Sejauh ini, apakah ada kepedulian sedikit saja, ketika anak anda sebenarnya menginginkan untuk ikut les atau kursus olahraga, tetapi anda memaksakan argumen serta pendapat bahwa ia harus ikut les matematika? Dengan berbagai dalih dan alasan mengenai masa depan?
Sejauh ini, dalam peringatan Hari Anak Nasional yang setiap tahun berulang, apakah ada semacam refresh untuk bisa melihat segala sesuatu mengenai anak, bukan dari sudut pandang orang dewasa?
Saya kira, belum.

Jika tidak ada tindakan nyata serta mendasar, saya kira penetapan peringatan Hari Santri juga hanya sekadar sebagai suatu seremonial. Gegap gempita yang tak menyentuh nilai-nilai makna.

Seumur hidup, saya belum pernah menjadi santri. Dalam maksud jika itu berarti saya harus menjadi benar-benar santri di dalam kehidupan. Rajin belajar, sederhana, rendah hati, dan mungkin pantang menyerah.
Saya paling jauh hanya menjadi santri ketika kecil, pada Taman Pendidikan Al Qur’an, membaca buku Iqra’ jilid satu sampai dengan enam.
Selebihnya, tak pernah saya menjadi atau merasa sebagai santri.

Saya merasa tak pantas menyebut diri saya sebagai santri, dan dengan itu ketika mengikuti upacara bendera, saya hanya sekadar mengikutinya sebagai pemutus kewajiban. Serta ikut bergembira untuk orang lain yang benar-benar bisa memaknai Hari Santri di dalam keseluruhan hidupnya.

Bahkan jika setelah mengikuti upacara bendera peringatan Hari Santri kemudian saya dinobatkan sebagai santri, saya akan lekas berlari dan tegas menolaknya.
Biarkan keringat saya ketika upacara bendera tidak menjadi noda dalam kekhusyukan serta pemaknaan Hari Santri yang sesungguh-sungguhnya.

Di luar itu semua, saya mempunyai kenangan serta narasi tersendiri mengenai santri. Bukan mengenai arti harfiah dari kata santri, atau tentang bagaimana seharusnya santri. Tetapi mengenai seseorang yang saya kenal sebagai seorang santri dari sebuah pondok pesantren yang berdekatan dengan tempat tinggal saya. Sebut saja namanya Ahmad, saya mengenalnya tahun 2012, waktu itu ia masih duduk di bangku Tsanawiyah, berasal dari Ternate.

Perkenalan atau persinggungan kami dimulai ketika Ahmad mulai sering menyambangi tempat rental PlayStation yang saya kelola. Biasanya ia datang pada malam selepas Maghrib, atau kalau tidak selepas pukul sembilan.

Seperti kebanyakan orang yang datang dan pergi pada rental PS, saya sedikit acuh untuk tidak banyak bertanya kecuali nama dan tempat tinggal. Tetapi suatu ketika ia datang pada siang hari, dengan masih memakai seragam. Saya menegurnya.

“Sudah pulang Mad?”

“Belum mas, saya bolos.” Jawabnya polos.

Mampus, saya membatin.

“Kenapa membolos? Balik sana ke sekolah. Kau mau buat aku mati ya?”

“Tolong mas. Ijinkan saya kali ini. Besok-besok saya ga akan ulangi lagi.” Katanya sembari menatap dengan mata mengiba.
Saya balas tatapannya dengan cukup lekat.

Pada kesempatan itu Ahmad bercerita, bahwa ia sebenarnya tidak betah tinggal di pondok. Sejenak ia terlihat ragu untuk melanjutkan cerita, tetapi tak butuh waktu lama untuk mengetahui sebab kenapa ia merasa tak betah berada disana. Ahmad akhirnya bercerita, tidak panjang, tetapi menjelaskan semua.

Ia bercerita, bahwa orang tuanya mengirim cukup uang, dititipkan pada pengurus, untuk memenuhi segala kebutuhan sekolah maupun penunjangnya. Suatu waktu, ia meminta pada pengurus, dalam satu Minggu dua atau tiga kali ingin makan ikan laut. Ahmad hanya ingin makan ikan laut untuk mengaburkan rasa rindunya pada orang tua dan tempat asal.

“Di Ternate, saya tiap hari makan ikan mas. Di sini, tiap hari hanya dikasih tempe. Saya tak suka tempe.” Ujarnya.

“Makan ikan bisa mengobati kangen saya pada ibu, atau rumah saya mas. Saya hanya ingin makan ikan, dan tidak harus setiap hari. Tetapi ditolak dan tidak diperbolehkan.” Lanjutnya.

Saya terkesiap, sesederhana itu.

Setelah kejadian itu, beberapa kali Ahmad masih menyambangi rental pada malam hari, dan tak pernah datang dengan berseragam. Tetapi setelah beberapa kali itu, ia tak lagi pernah terlihat. Saya penasaran.
Hingga akhirnya saya bertanya pada salah satu temannya yang dulu sering datang bersama. Temannya berkata bahwa Ahmad pindah ke salah satu pondok pesantren di Surabaya.

“Kenapa Ahmad pindah?” Tanya saya pada kawannya itu.

“Orangtuanya setuju ketika Ahmad bilang ingin pindah ke pondok pesantren yang tempatnya berdekatan dengan laut. Agar bisa sering makan ikan katanya.” Teman Ahmad menjelaskan, singkat, namun cukup jelas.

Sampai saat ini, enam tahun berlalu, saya masih terkenang dengan percakapan itu. Sebuah percakapan yang jujur mengenai keinginan seorang anak, sekaligus seorang santri. Keinginan yang sederhana.

Saya tak kemudian menyalahkan pondok yang tidak mengakomodir keinginan santrinya seperti itu. Masing-masing pondok tentu mempunyai tata aturan yang harus diikuti serta ditaati oleh semua penghuninya.

Tetapi saya bersimpati pada Ahmad, seorang anak yang sendirian berada jauh dari tempat tinggal dan akar budayanya, untuk menuntut ilmu. Seorang anak yang bersedia untuk menekan segala rasa gegap gempita rindu demi berbakti kepada orang tua.

Sampai saat ini, narasi saya terhadap kata ‘santri’, berpusat kepada Ahmad. Saya tidak menilainya sebagai seorang santri yang gagal dan tidak tahan terhadap kepungan keterbatasan. Tidak seperti itu. Saya melihat dan menilainya sebagai seorang santri yang berani berjuang. Berjuang untuk mengutarakan pendapat, memperjuangkan haknya, serta menjaga adat tradisi serta budayanya. Toh apa yang ia perjuangkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, budaya, maupun kemanusiaan. Ia hanya ingin makan ikan, dan ia berjuang.

Bagi saya, santri haruslah demikian. Bukan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

  1. A lot of thanks for all your efforts on this site. Gloria enjoys doing investigation and it’s easy to understand why. Almost all know all concerning the dynamic means you deliver great information on the web blog and as well encourage contribution from other people on that concept plus our own simple princess is without question understanding so much. Take pleasure in the rest of the year. Your performing a wonderful job.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.