Sarjana Ketelitian

Kalau saja ada universitas atau perguruan tinggi yang menyelenggarakan prodi ‘ketelitian’, hampir bisa dipastikan maka penempuh studinya akan bergelar ‘SK’ ketika lulus. SK, Sarjana Ketelitian.

Teliti dalam hal apa? Entah saja. Yang pasti diharapkan bahwa lulusannya akan menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam ketelitian. Pertama teliti bagi dirinya sendiri, dan selanjutnya diharapkan akan bisa teliti bagi lingkungan sekitarnya.

Tentu teliti dalam hal yang positif. Bukan teliti untuk mencari celah-celah korupsi dan pelanggaran hukum.

Saya sudah kepikiran hal ini, semenjak beberapa hari yang lalu. Ketika diminta untuk menjadi panitia dan membantu seleksi penerimaan pegawai. Dari sekian ratus pelamar, untuk ‘hanya’ menempati lima lowongan atau posisi, beberapa puluh diantaranya tidak lolos seleksi administrasi.

Berbagai macam sebab yang melatarbelakangi kegagalan administrasi dari beberapa puluh orang itu. Rata-rata karena hal sepele : tidak membaca persyaratan dengan cermat, dan mendaftar tidak dengan teliti.

Misalnya mereka membuat surat lamaran tidak sesuai dengan permintaan. Padahal, format surat lamaran sudah disertakan dalam lembar pengumuman pendaftaran. Pun dengan syarat serta ketentuannya.

Misalnya ketentuan surat lamaran adalah dengan ditulis tangan, secara keseluruhan.

Mulai dari kata ‘Kepada’, sampai dengan kata ‘Tertanda’. Dari awal sampai akhir, harus ditulis tangan. Kenyataannya, beberapa menuliskannya dengan bantuan komputer, diketik dan dicetak dengan komputer. Beberapa ditulis dengan tangan, pada bagian biodata saja. Bagian lain ditulis dengan komputer.

Saya tidak akan mempermasalahkan syarat yang menyentuh substansi : ‘apa bedanya ditulis tangan dan diketik?’
Toh sama saja?

Saya berbicara mengenai ketentuannya, yang sudah ditetapkan. Perihal pertimbangan kenapa harus ditulis tangan, bukan ranah saya untuk memutuskan.

Syarat dan ketentuan sudah disampaikan dengan jelas pada surat pengumuman. Dan masih banyak yang tidak teliti membacanya, atau memahaminya.

Padahal, banyak dari yang gagal administrasi itu, yang tidak membuat surat lamaran sesuai ketentuan, adalah sarjana-sarjana fresh graduate, dengan nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) lebih dari angka tiga. Beberapa bahkan tiga koma sekian disertai dengan pujian, cumlaude.

Maka sangat disayangkan ketika kemampuan kognitif mereka tidak disertai dengan kemampuan sederhana lainnya, teliti.

Nanti, dalam bekerja jika mereka diterima, kepintaran dan kecerdasan kognitif saja tidak cukup dijadikan modal. Mereka juga harus teliti, cermat sampai dalam hal-hal detail, untuk melaksanakan tanggung jawab pekerjaannya.

Masih dalam hal surat lamaran, beberapa diantara mereka tidak teliti menuliskan formasi atau posisi yang mereka inginkan untuk dimasuki. Misalnya mereka memasukkan berkas lamaran untuk formasi penjaga gawang, tetapi dalam surat lamaran mereka menuliskannya sebagai penyerang. Menurut saya, hal itu sangat fatal.

Padahal ketentuannya juga sudah sangat jelas, bahwa mereka harus menuliskan formasi yang mereka inginkan dalam surat lamaran, sesuai dengan ‘kamar’ tempat mereka memasukkan berkas lamaran. Kalau memasukkan berkas untuk mendaftar menjadi penjaga gawang, maka isi surat lamarannya juga harus menyebut ingin menjadi penjaga gawang. Bukan memasukkan lamaran sebagai penjaga gawang, namun surat lamarannya dituliskan ingin menjadi penyerang.

Tentu saja tidak sinkron dan tidak sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan.

Ketidaktelitian lain dari para pelamar yang gagal seleksi berkas administrasi itu, diantaranya adalah pengumpulan item berkas.

Misalnya saja, mereka diminta menyertakan SK akreditasi universitas atau jurusan program pendidikan, jika dalam ijazahnya belum melekat keterangan akreditasi dari lembaga berwenang. Dan beberapa diantaranya tidak menyertakan itu. Padahal sama dengan ketentuan surat lamaran, pemberitahuan itu sudah disampaikan dengan jelas pada pengumuman.

Menjadi sedikit miris ketika saya menyeleksi berkas itu, dan mendapati bahwa beberapa dari mereka yang gagal administrasi karena sebab-sebab sederhana tersebut, mempunyai nilai ijazah yang tinggi. Beberapa cumlaude seperti sudah saya tuliskan diatas.

Saya tidak bisa membayangkan betapa kecewanya mereka yang gagal itu.

Namun saya sendiri juga kecewa. Kenapa anak-anak muda itu tidak teliti? Untuk hal-hal sederhana, yang bahkan hanya bersangkut paut dengan kepentingan pribadi mereka sendiri?
Bagaimana jika nanti mereka bekerja, dan dituntut untuk teliti, karena apa yang mereka kerjakan menyangkut hajat hidup orang banyak?

Tentu akan banyak yang dirugikan oleh ketidaktelitian mereka, dalam hal-hal kecil dan sangat sederhana.

Namun saya enggan menjadi hakim, untuk hal-hal yang belum tentu terjadi, seperti yang saya tuliskan dalam paragraf sebelum ini. Saya hanya sekadar mengandaikan.

Mungkin ketidaktelitian itu timbul akibat dari ketergesaan, atau hal-hal lain. Mungkin karena kurangnya persiapan diri, atau karena mereka menerima pengumuman sudah mendekati akhir pendaftaran. Bisa saja terjadi karena hal-hal semacam itu.

Tetapi ketentuan tetaplah ketentuan, ia harus kaku dan lurus, serta tegas. Seperti halnya hukum, atau undang-undang. Agar tak mudah dibelokkan demi kepentingan-kepentingan tertentu. Mereka yang tak lulus administrasi karena kekurangtelitian itu, semoga mendapatkan jalan yang lebih baik. Mungkin memang bukan jalan dan rejeki mereka untuk bekerja di tempat itu. Semoga ada tempat-tempat bekerja dan berkarya yang lebih baik bagi mereka.

Dan untuk perguruan tinggi, semoga dapat dipertimbangkan, untuk membuka prodi Ketelitian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

758 Comments

  1. Ping-balik: sildenafil tablets
  2. Ping-balik: slipped viagra mom
  3. Ping-balik: 100mg viagra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *