Sate Sapi Pak Prapto, Lapangan Karang Kotagede

Dalam jagad per-sate-an, dari dulu lidah saya hanya mengenal ayam, dan juga kambing. Sapi baru beberapa tahun terakhir, setiap kali Idul Adha. Lain itu, tak ada sate, apalagi babi….

Sate kambing saya kenal dari sate Mbok Sabar Mulungan, Jalan Magelang. Sate kambing yang enaknya sundul langit. Tentu ini klaim sepihak, dan anda tidak dapat mengujinya. Warung Mbok Sabar sudah tutup semenjak saya belum menginjak bangku SMP. Saya terus merindukan warung sate kambing tersebut, selain karena rasa, juga karena nostalgia. Di warung tersebut saya akan lupa kalau di rumah tidak ada tivi, tidak ada listrik, karena saya bisa minum sprite langsung dari botolnya. Botol beling berwarna hijau.

Sate ayam, saya sak pleng-an lupa, dimana pertama kali mengenalnya. Bahkan pertama kali membeli dimana, saya juga lupa. Hanya saja jika boleh memberi nilai dan rujukan di mana sate ayam paling enak, maka saya akan menyebut ‘asalkan penjualnya asli orang Madura’. Itu sudah. Mau yang gerobak dorong, atau tenda, asal penjualnya orang asli Madura, saya jamin enak.

Kalau sate sapi, tadi malam saya baru saja menyantapnya. Rasanya, sundul ubun-ubun. Lidah bisa mengalami trance, dan mendadak hal-hal tidak menyenangkan menjadi terlupakan. Baru menyelesaikan satu suapan, saya sudah berjanji lain kali akan menyantapnya lagi.

Sate Sapi Lapangan Karang Kotagede. Pak Prapto. Kalau dari arah timur, Gedongkuning, lurus ke selatan, dan setelah sampai Kantor Pegadaian anda mengambil arah kanan untuk seterusnya melaju ke arah barat. Nanti sekira dua kilometer pada kiri jalan akan anda temukan Lapangan Karang. Sate sapi Pak Prapto tepat berada di tepi jalan, di pinggir lapangan.

Sudah semenjak beberapa tahun lalu saya tahu perihal sate sapi ini. Salah satunya dari almarhum Pak Bondan, yang memberi tahu secara langsung kepada saya. Lewat acara tivi itu. Yang mak nyus-nya legendaris itu.

Tetapi karena ketidaktahuan saya mengenai Kotagede, dan kemalasan terstruktur untuk menjelajahi dunia nyata serta lebih memilih menjelajah dunia maya, saya terlambat mengenalkan pada lidah sate sapi yang sungguh keterlaluan ini.

Anda sudah tahu?

Ya sudah, itung-itung berbagi cerita.

Bagi yang belum tahu, rugi!!!

Sate sapi lapangan karang dengan merk Pak Prapto ini tersedia dalam tiga bumbu penyajian. Bumbu kacang, bumbu kecap, dan bumbu kocor.

Bumbu kacang dan kecap disajikan dalam piring beserta sate yang masih ada tusuknya.

Sedang kalau memilih bumbu kocor, satenya sudah diceraikan talak tiga dari tusuknya.

Rasanya?

Yo enak.

Yang bumbu kacang, mirip dengan sate bumbu kacang lainnya. Hanya saja, kacangnya ditumbuk, tidak terlampau halus, namun butiran kacangnya juga sudah tak terlampau besar. Pada beberapa tempat, saya menemui bumbu kacang yang diblender. Bumbu kacang yang ditumbuk dengan masih menyisakan tekstur kasar kacang, lebih terasa menggoyang lidah dan memberikan sensasi rasa menyenangkan. Berbeda dengan bumbu kacang yang diblender, lebih mirip bubur.

Yang bumbu kecap, sayangnya saya tidak tahu, karena semalam tidak memesannya.

Yang bumbu kocor, yang dagingnya sudah cerai talak tiga sama tusuknya, bumbunya entah dibuat dari apa. Cair, encer, berwarna kehitaman, dengan rasa manis segar. Manis tetapi tidak eneg. Sampai tetes terakhir, tidak membuat mual. Hampir seperti bumbu kupat tahu, tetapi beda. Satu suapan, jelas terasa kurang, dan akan terus menyambungnya dengan suapan yang lain. Lidah terasa dimanjakan.

Dagingnya, baik yang masih bersama tusuknya atau sudah bercerai, sama-sama empuk. Sama sekali tidak terasa kalau ini adalah daging sapi, yang menurut mitos akan terasa alot kalau tidak paham cara mengolahnya. Porsinya juga tidak membuat kecewa indera utama pendukung nikmatnya makan dan jajan. Dilihat mata, porsinya banyak. Sepuluh tusuk. Sehingga mata tidak lantas menghakimi dengan gurat kekecewaan akibat porsi pelit.

Secara keseluruhan, rasa sate sapi ini cenderung manis. Namun meski manis, tidak menimbulkan rasa eneg dan mual sampai pada gigit dan potongan daging terakhir. Entah mantra apa yang menyelimuti daging sapi ini.

Ataukah, kunci ada pada pelengkap satenya….?

Lontongnya itu….?

Yang disajikan dalam piring terpisah itu….?

Yang berkuah itu….?

Surprise terbesar saya ketika menyantap sate sapi ini adalah, lontongnya.

Lontong disajikan dalam kondisi tidak polos dan sendirian. Lontongnya bergumul berselimut bersama sayur tempe kuah santan bumbu kuning. Nah lhooo…..

Apa-apaan….sate kok sama kuah sayur begituan.

Rasanya kuah dari sayur tempe ini, gurih namun ada sedikit rasa pedas dari cabai merah. Kuah santannya ringan, tidak terlalu pekat, cenderung agak bening. Rasa tempe yang diiris berbentuk kotak dadu ini, lekat dengan bumbu, gurih segar. Tempenya masih dalam kondisi ‘matang’ yang pas. Tekstur kedelai dalam tempe juga masih sedikit crunchy. Memberikan sensasi rasa aneh ketika dikunyah bersamaan dengan daging, namun anehnya, ingin terus mengulang dan mengulang.

Saya sampai menambah satu porsi lontong sayur ini. Untuk menemani menandaskan irisan daging yang serasa tak habis-habis, karena porsinya yang banyak itu.

Saya sedikit menyesal karena tak semenjak dahulu mencari keberadaan sate sapi di lapangan karang Kotagede ini. Penyesalan yang paling mendalam adalah, karena lidah saya melewatkan sebentuk makanan surga yang tumpah ke dunia fana.

Bagi saya, sate sapi ini adalah pengejawantahan aneka ragam macam bumbu dan masakan, dalam tingkatan paripurna. Sudah tidak ada kombinasi rasa lagi yang akan melampaui kelindan rumit daging sapi bumbu manis, lontong tawar legit segar, dan tempe renyah gurih dengan santan ringan.

Bagi anda yang sama sekali belum pernah kesana, saya sarankan sekali seumur hidup, anda harus mencobanya.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.