Satriaku, My Beloved Bleky

Bleky dan Pak Londo di workshop Londo Tech Garage

Bahkan dengan benda-benda mati di dalam kehidupan, saya memberikan mereka nama. Jika ada yang tak saya berikan nama, paling hanya celana dalam. Bukan karena saya tak sayang celana dalam, tapi karena mereka tak sering saya pegang. Itu saja.

Bleky —begitu saya memanggilnya—, adalah nama sepeda motor yang menemani saya semenjak pertengahan tahun 2014. Sebuah sepeda motor dari Suzuki dengan jenis F 150, atau yang sering biasa disebut Satria FU.

Suzuki Satria FU

Ini adalah sepeda motor yang berada diluar jangkauan ekspektasi saya.

Begini, seumur hidup saya tak pernah naik motor dengan kubikasi mesin lebih dari 125cc. Maka ketika mendapatkan Bleky yang berkubikasi mesin 150cc, saya terkesima.

Ah ayolah, saya bukan orang kaya. Bisa mengendarai sepeda motor saja sudah menjadi semacam privilige, kok apalagi memilikinya.

Sepeda motor Bapak saya, yang dengan begitu dulu saya juga sering mengendarainya, adalah Honda C70 dengan kubikasi mesin hanya 70cc, dengan rasio gigi percepatan hanya 3 tingkat. Bisa anda bayangkan?

Ketika akhirnya Bapak membelikan sepeda motor untuk saya sendiri semasa SMA, itu adalah Honda Astrea C100 dengan kubikasi mesin 98cc. Itu adalah motor terkencang yang pernah saya kendarai sampai usia SMA.

Sebenarnya ketika sudah bekerja, saya pernah memiliki sebuah motor legendaris, yaitu Yamaha RX King, keren kan? Motor yang sangat kencang dan menawan.

Tetapi saya kurang ‘prigel’ atau lincah menggunakan sepeda motor dengan tangki bensin terjepit di paha.

Motor legendaris itu akhirnya saya jual. Sayang beribu sayang, ternyata itu adalah keputusan yang sedikit keliru. Yamaha RX King sekarang ini serupa harta karun, mahal harganya. Hah….

Sudahlah, itu masa lalu….

Sampai ketika saya memiliki Bleky, ternyata ada legenda lain dalam hidup saya. Bleky begitu mempesona. Bleky sampai saat ini adalah sahabat saya yang paling setia.

Motor dengan kubikasi ‘lumayan’, namun dengan body dan rangka kecil serupa motor bebek. Ringan, dan saya bisa lincah mengendarainya.

Satria FU standar kurang kencang

Begitu juga dengan yang saya rasakan sampai dengan 2 bulan pertama pemakaian. Bleky kurang kencang di jalanan. Atau hanya perasaan sepihak saya saja?

Angka speedometernya tak pernah menunjuk angka lebih dari 140 kilometer per jam. Ahay…

Bagi beberapa orang mungkin mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 100 kilometer per jam saja sudah terasa kencang dan mengerikan, tetapi bagi saya kok….belum terasa.

Pada kondisi standar, Bleky terengah mengail angka 135 kilometer per jam di speedometernya. Terasa lambat dan lama. Maka dua bulan setelah memilikinya, saya memasukkannya ke bengkel spesialis modifikasi mesin.

Dan mencari bengkel modifikasi mesin terasa sangat memusingkan. Saya terkendala waktu. Dalam artian, tak bisa meninggalkan Bleky dalam waktu lama di bengkel. Bukan apa-apa, karena Bleky adalah satu-satunya kendaraan yang saya miliki, hahaha.

Saya sempat trauma dengan bengkel modifikasi mesin, ketika ‘mengorek’ sebuah Suzuki Shogun. Waktu pengerjaannya lebih dari satu bulan.

Akhirnya setelah banyak bertanya dan mencari, saya bertemu seorang mekanik di daerah Babarsari. Sebelum ketemu, kami sempat bertukar pesan melalui aplikasi WhatsApp. Si mekanik sanggup mengerjakan Bleky untuk sekadar korek harian hanya dalam waktu tak lebih dari tiga jam.

Jadilah…

Setelah itu, Bleky sanggup mengail angka 150 kilometer per jam di speedometernya, tetapi sembari menundukkan kepala dan membungkukkan badan. Kencang, bagi saya. Bahkan bagi Bleky pun saya rasa sudah cukup kencang. Mengingat rangka dan bodynya yang ringan. Pada kecepatan seperti itu, motor serasa melayang. Tidak aman sebenarnya. Tapi, kecepatan itu yang saya cari.

Ganti karburasi PE 28

Modifikasi ringan itu bertahan sampai lima tahun lamanya.

Ketika modifikasi pertama kali di Babarsari, si mekanik menyarankan untuk sekalian mengganti karburasi dan juga knalpot. Karburasi dengan lubang venturi yang lebih besar dari standar, dan juga knalpot freeflow. Saya mengelak. Saya berdalih tak ingin motor bersuara berisik. Padahal….karena saya tak punya uang untuk mengganti karburasi dan knalpot. Juga karena saya tak bisa membeli BBM beroktan tinggi jika terlalu boros…hahaha.

Maka ketika harga BBM beroktan tinggi bukan lagi suatu masalah serius, saya berkeinginan menaikkan tingkatan modifikasi Bleky. Ganti karburasi.

Saya pilih jenis PE 28. Jenis karburasi sejuta umat yang banyak digunakan untuk modifikasi mesin dalam kategori ringan. Saya pilih juga yang harganya murah, hahaha.

Sebagai informasi, karburasi jenis PE 28 sejatinya adalah keluaran dari merk Keihin, yang dulu secara default digunakan untuk sepeda motor Honda NSR.

Saya beli replikanya saja, yang dari Thailand, terjangkau harganya. Bukan dari Jepang. Yang buatan Jepang bisa membuat dompet saya kejang-kejang.

Londo Tech Garage

Setelah membeli karbu, saya mencari mekanik atau bengkel yang bisa memasangnya.

Terbalik, sebelumnya saya menghubungi seorang mekanik yang sebenarnya saya sudah mencarinya semenjak tahun 2014. Semenjak saya ingin memodifikasi Bleky untuk pertama kali. Menurut kabar dan informasi, dulu nama bengkelnya TRB.

Saya mencari pada alamat yang banyak ditunjukkan, tutup waktu itu. Berkali-kali saya datang ke lokasi, selalu tutup. Maka kemudian saya datang ke mekanik yang di Babarsari.

Kini ketika ingin ganti karbu, saya mendapatkan kontak mekanik yang saya cari pada tahun 2014 itu. Saya mendapatkannya secara tak sengaja dari sebuah website yang membahas khusus mengenai Satria FU.

Nama mekaniknya, Londo.

Nama workshop atau bengkelnya, Londo Tech Garage.

Dapat nomor hapenya, saya langsung menghubungi, beliau membalas.

Senang tentu saja. Dan langsung saya kemukakan niat untuk meminta bantuan mengganti karbu. Pak Londo menyarankan pada saya untuk membeli sendiri karburasinya. Setuju, saya membeli sendiri.

Karbu berharga miring saya dapatkan di komplek penjualan sparepart Jejeran, pada toko Bursa Karbu Jogja milik Eric Tanjung yang sangat kondang di kalangan penunggang Yamaha RX King itu. Setelah dapat, saya bawa ke workshop Londo Tech Garage.

“Masih antri banyak, mas. Besok lain waktu saya hubungi saja.” kata Pak Londo ketika saya pertama kali kesana.

Sedikit kecewa tentu saja, tetapi saya memilih untuk bersabar. Kekecewaan itu pun sedikit tereduksi karena tuan rumah sangat ramah. Baru bertemu pertama kali, saya sudah dibuatkan secangkir kopi dan juga diajak berbincang kesana kemari perihal permesinan sepeda motor. Saya mengangguk-angguk, padahal sama sekali tidak paham.

Kapan-kapan saya tuliskan secara khusus mengenai Pak Londo dan workshopnya, Londo Tech Garage.

Bleky tak lagi terpasung

Selang dua minggu dari pertama kali ketika berkunjung ke Londo Tech, akhirnya Bleky mendapatkan nomor antrian. Tepat pada hari Senin [29/07/2019] yang lalu.

Seperti antri dokter saja….

Sembari menyesap kopi yang (kembali) disuguhkan tuan rumah, saya melihat Bleky dioperasi oleh Pak Londo dan asistennya. Jantung saya terasa berdegup kencang. Penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti pada Bleky nanti.

Tak sampai satu jam, selesai sudah semuanya. Pak Londo dua kali mencoba Bleky ke jalanan untuk mencari settingan yang pas.

Begitu selesai, saya sulut sebatang rokok dan kembali berbincang ringan dengan Pak Londo sembari menghabiskan kopi suguhan.

“Coba dulu mas ayam jagonya.” kata Pak Londo mempersilahkan saya mencoba. Ayam jago adalah sebutan kebanyakan orang untuk sepeda motor Satria FU.

“Tak perlu Pak, saya percaya.” saya jawab singkat.

Pamit…..

Di jalanan, saya sengaja melewati jalan-jalan sepi namun lebar dan beraspal halus ketika menuju rumah untuk makan siang. Saya ingin menyiksa Bleky dan mencari tahu bagaimana perbedaan performanya kini.

Impresif, angka 140 kilometer per jam didapat dengan mudah, tanpa bersusah payah, tanpa menundukkan kepala dan membungkukkan badan.

Jadi teringat beberapa kata Pak Londo sebelum saya berpamitan,

“Ganti knalpot nanti akan tambah enak mas, tarikan nafas atas akan semakin panjang.”

Ah, saya kira kini, suara motor sedikit berisik dengan knalpot freeflow juga tak mengapa. Hehehe….

3 Comments

  1. Our company https://www.fullbax.com deals with import from China at our clients’ request.
    We deal with everything from A to Z:
    – we search for a supplier;
    – we check the merchandise in terms of customs and tax;
    – we visit factories;
    – we control the production;
    – we are present during the loading;
    – we send the merchandise from China;
    – we custom clear the merchandise in Poland;
    – we deliver the merchandise from the port to Your warehouse;

    https://www.fullbax.com does not only provide the above mentioned services, please visit our website.

    We have competitive rates, we also work with smaller companies.

    If you have ever thought about importing from China and you do not know how to go about it or if you import from China and need help at some stage, we are available with our services.

    Write to us, and we will answer all your questions. It does not cost anything!

    Feel welcome
    https://www.fullbax.com

  2. I just now wanted to thank you yet again for that amazing site you have developed here.
    It is full of useful tips for those who are really interested in this subject, specifically this very post.
    You’re really all so sweet plus thoughtful of others as well
    as reading the blog posts is a fantastic delight with me. And exactly what a generous present!
    Mary and I will certainly have excitement making use of your tips in what we must
    do next week. Our record is a mile long and simply put tips will
    definitely be put to great use.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *