Satu Bulan Monumental Tanpa Media Sosial

Ilustrasi media sosial. Gambar : Pixabay.

Monumental, hari ini [14/05/2019] adalah hari bersejarah bagi diri saya sendiri. Selama satu bulan semenjak [14/04/2019] saya tak bersentuhan dengan media sosial. Awalnya, ketika berniat untuk menonaktifkan sementara akun media sosial, saya kira saya akan mati.

Tentu saja, hidup saya akan terasa sepi, dan tanpa hiburan.

Hidup pada era saat ini, berarti juga adalah hidup di tengah lingkungan internet, dunia maya, serta habitat media sosial. Segala informasi mengalir dengan deras melalui media sosial. Tidak terjun dan masuk di dalamnya, berarti mengambil langkah untuk sedikit tertinggal. Informasi begitu deras mengalir melalui media sosial, tanpa bisa ditawar.

Maka dalam beberapa hari diawalnya, pikiran begitu terasa sempit dan perasaan begitu tersiksa.

Pada keseharian sebelumnya, hidup saya begitu lekat dengan media sosial. Interaksi dengan beberapa kawan juga berlangsung melalui media sosial. Sebagian besar informasi yang saya dapatkan dan gunakan, juga berasal dari media sosial.

Tetapi, hidup harus tetap berjalan.

Manusia menentukan sendiri bagaimana hidupnya harus dilalui. Hidup manusia ditentukan oleh pilihan-pilihannya, dan manusia menjalani hidupnya bukan karena sebab hal-hal lain diluar dirinya.

Bagaimanapun manusia berusaha menjadi begitu terbuka, begitu ramah untuk bersosialisasi, pada akhirnya kesemuanya itu adalah karena dirinya sendiri.

Bukan karena orang atau pihak lain manusia bisa bertahan, tetapi karena dirinya sendiri. Orang atau pihak lain, adalah faktor pelengkap yang penting, tetapi bukan yang utama.

Betapa pentingnya orang atau pihak lain, tentu saja masing-masing manusia harus menghadapi kenyataan bahwa ia sendirian berada di alam semesta yang begitu luas serta rumit dalam penanganannya.

Orang atau pihak lain memang membantu, tetapi bukan memutuskan mengenai hidup yang harus dijalani
Mereka memberi kemungkinan atau juga saran, tetapi bukan memutuskan.

Kita, diri kita sendiri lah, yang memutuskan.
Tentang apa dan bagaimana.
Tentang baik buruk serta konsekuensi dari segala pilihan yang dijatuhkan.

Begitu juga kira-kira, dengan posisi media sosial dalam kehidupan saya.

Mungkin saya akan banyak kehilangan informasi yang berasal daripadanya. Tetapi saya juga mendapatkan banyak hal lain yang tidak bisa saya dapatkan ketika masih intens didalamnya.

Saya mendapatkan ketenangan, satu hal yang sulit saya dapatkan ketika masih asyik menyuntuki media sosial.
Semakin gaduhnya media sosial Indonesia oleh berbagai hal yang tak jauh dari kontes politik praktis, membuat saya tidak tenang.

Maka sejenak meninggalkannya adalah pilihan yang saya rasa, cukup baik.

Dengan sejenak meninggalkannya, saya mempunyai banyak peluang untuk mengambil jarak, untuk kemudian mengambil pelajaran.

Bagi saya, beberapa hal baru bisa dilakukan penilaian secara obyektif, ketika kita mengambil jarak daripadanya. Terkadang, kita tak bisa melakukan penilaian secara obyektif terhadap suatu hal, karena terlalu larut berada didalamnya.

Bahkan, hal tersebut berlaku untuk penilaian terhadap diri kita sendiri.

Benarlah apa kata pepatah dan orang bijak, bahwa orang lain lah yang menilai diri kita.

Meski terkadang penilaian orang lain terhadap diri kita cenderung subyektif, dan bahkan terkadang tak sesuai dengan kenyataan kondisi diri kita, hal itu tetap saja mampu dijadikan suatu pembelajaran.
Paling tidak, untuk ancang-ancang bagaimana semestinya kita menempatkan diri di tengah orang lain.

Bukankah, terkadang kita memerlukan topeng untuk digunakan dalam pergaulan sosial?

Kita terkadang perlu menjadi ‘sosok lain’ di dalam pergaulan, agar tepat dan sesuai dengan kondisi masyarakat.
Kita terkadang perlu mempunyai banyak sifat di dalam pergaulan, agar tak terbentur tembok egoisme yang lebih mementingkan diri sendiri.

Terkadang, kita perlu menjadi orang lain agar kita tak menjadi terasing.

Ah….bukankah itu seperti sikap seorang oportunis?
Katakanlah semacam itu, dan memang terkadang kita perlu menjadi seorang oportunis.

Ah ya tulisan ini juga tak harus menjadi demikian serius, Portisio…

Yang jelas, sampai saat ini saya merasa baik-baik saja, dan semakin merasa baik dari hari ke hari, tanpa media sosial.

Jika ada media sosial yang akan terus saya pertahankan, itu adalah blog ini, tidak ada lain.

Blog ini adalah cita-cita saya semenjak lama, meski tak kunjung beranjak banyak pengunjungnya. Hahahaha…tak masalah.

Hal-hal yang bisa saya dapatkan karena luangnya waktu tanpa media sosial, akan saya bagikan di blog ini.

Mulai dari fotografi, olahraga, sampai dengan masakan dan liputan jalan-jalan.

Saya begitu menyukai fotografi, dan luangnya waktu yang tersedia karena tak lagi direcoki hiruk pikuk media sosial, saya gunakan sebaik-baiknya untuk mengakses informasi mengenai fotografi. Kelak, kita akan berbagi mengenai belajar fotografi di blog ini. Kita akan sama-sama belajar tentu saja. Dan bagi anda yang sudah ahli fotografi, saya mohon bimbingannya.

Saya juga menyukai olahraga, meski dalam bentuknya yang paling sederhana. Maka saya juga akan membagi cerita-cerita mengenai olahraga, juga di dalam blog ini.

Maka, beruntunglah anda yang terus mengakses blog ini. Eeeeaaahhhhh….

Seingat saya, dalam bulan Ramadan tahun yang lalu, saya begitu absurd ketika berada dalam media sosial. Saya akan menulis dan membagikan banyak tulisan mengenai pandangan-pandangan saya mengenai ibadah puasa. Absurd tentu saja, sedangkan saya masih banyak kekurangan dalam diri saya sendiri secara personal. Lantas, apa gunanya sok berkhotbah mengenai ibadah puasa di media sosial?

Ramadan tahun ini terasa ringan. Saya tak akan lagi dengan entengnya berbagi informasi mengenai telat sahur, menu berbuka, atau aktifitas selama ibadah puasa. Hal-hal tersebut saya rasa begitu remeh temeh untuk dibagikan di media sosial.

Sementara ini, saya akan banyak belajar, mengenai banyak hal.

Biarlah saya takkan pernah menjadi ahli dalam satu hal, tetapi setidaknya saya bisa berbagi mengenai banyak hal.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *