Satu Hari Setelah Corona Pergi

Saya ingin kemah di bulan. Iya, bulan yang itu. Yang Neil Armstrong pernah kesana dan mengibarkan bendera Amerika.

Saya ingin kemah, semenjak hari pertama bumi bebas dari corona, sampai paling tidak tujuh atau sebelas hari lamanya. Sekadar duduk di bulan sembari melihat bumi purnama. Bumi yang manusianya mulai bisa bernafas lega.

Saya tak akan membawa banyak bekal berupa uang. Saya hanya ingin membawa beras, telur, tempe, magic jar, wajan penggorengan, beserta kompor dan gasnya.

Tak lupa juga piring, sendok dan gelas, juga sebungkus kopi.

Saya tak akan membawa selimut, cukup kasur lipat saja dan sebuah dingklik untuk duduk bersantai. Kamera Nikon D3300 kesayangan takkan terlupa. Akan saya pakai untuk mengambil gambar bumi purnama.

Dari bulan saya akan duduk melihat kawan-kawan berkumpul, bercengkerama, dan kembali bercanda. Dari bulan saya akan memandang keceriaan yang kembali membuncah. Dari bulan saya akan mulai mendengarkan nada deru kendaraan yang menggeliat setelah sekian lama terkekang.

Tak lupa saya akan membawa tujuh atau sebelas bungkus rokok Djarum Super isi dua belas. Tergantung nanti berapa hari jadinya saya berkemah disana. Satu bungkus rokok untuk satu hari.

Saya ingin merayakan bebasnya manusia bumi dari kecemasan masal, dari sisi keheningan. Saya tidak ingin ikut hingar bingar perayaan itu. Saya ingin ikut merayakannya dari jarak sekian tawa dan senyum lega.

Mungkin di bulan saya akan tertawa, tapi cukuplah saya saja yang tahu kalau sedang tertawa. Biarlah semua orang tertawa bersama, saya yang akan merekam dan melihatnya.

Hari pertama di bulan akan saya isi dengan sedikit observasi. Berjalan-jalan dan melihat kondisi. Mencari tempat terbaik untuk dapat melihat bumi. Mungkin di puncak salah satu kawah bulan, atau mungkin malah di bagian lembah. Tentu saja yang terpenting, bukan di tempat yang bertanah terlalu keras. Yang sedang saja, karena saya harus memasang pasak untuk mendirikan tenda. Seharian saya akan menghabiskan waktu untuk mencari tempat terbaik itu, harus benar-benar yang terbaik.

Hari kedua di bulan akan saya habiskan dengan mendirikan tenda. Saya pernah ikut pramuka, dan mungkin masih akan ingat cara mendirikan tenda. Waktu satu hari kiranya cukup, andai saya sedikit lupa cara mendirikannya. Sebenarnya cukup membutuhkan waktu satu atau dua jam saja paling lama. Tetapi biarlah, saya juga akan menikmati waktu mendirikan tenda itu.

Hari ketiga akan saya habiskan untuk mencari hal terbaik untuk dilakukan pada hari-hari setelahnya. Apakah di pagi hari saya akan ngopi sembari merokok seperti ketika di bumi, ataukah mengambil foto terlebih dahulu. Mengambil foto bumi di pagi hari. Ataukah akan saya putuskan bahwa cukup di malam hari saja mengambil fotonya, ketika bumi purnama. Entahlah, yang jelas saya akan melewati hari ketiga dengan trial&error. Mencari formulasi terbaik untuk menghabiskan waktu sampai hari ketujuh atau bahkan kesebelas.

Sore pada hari ketiga akan saya habiskan untuk menikmati senja. Senja ditepian bulan. Ah, sepertinya cukup menyenangkan.

Hari keempat akan saya habiskan setelah mendapat kesimpulan dan keputusan dari trial&error hari ketiga. Besok, ketika sudah berada disana. Yang jelas, hari keempat akan saya mulai dengan secangkir kopi. Entah saja kalau setelahnya saya memutuskan untuk mengambil foto bumi, atau merokok dan kemudian tidur kembali.

Di bulan saya akan banyak-banyak menulis. Menulis apa saja, yang terpenting bisa membuat jari tangan berolahraga.

Oh iya, saya hanya akan makan kalau benar-benar sudah merasa lapar. Selain untuk sedikit berhemat -karena saya merasa disana belum ada warung seandainya kehabisan beras- kiranya waktu juga terlalu berharga kalau hanya dihabiskan untuk makan. Saya hanya akan makan sehari sekali saja. Kalau terpaksa ya tetap tiga kali sehari. Kalau malah sering merasa lapar ya makan empat atau lima kali sehari. Lihat besok ketika sudah berada di bulan. Kalau kehabisan beras, saya akan merebus batu.

Di bumi, banyak orang mungkin akan saling mengunjungi ketika hari pertama kasus corona dinyatakan berakhir. Mungkin banyak yang akan makan bersama, tamasya bersama, bahkan mungkin juga berdoa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mungkin banyak juga yang akan menyiapkan segala sesuatu untuk mulai bekerja, mencari nafkah, setelah cukup lama gairah untuk bekerja tertahan oleh corona.

Anak-anak sekolah akan merayakan hari-hari pertama mereka kembali bertemu dan bercanda. Mulai kembali mencium tangan guru mereka, dan berterima kasih kepada Ibu karena sudah mendampingi belajar ketika di rumah.

Saya akan melihat semuanya sembari mencari sudut terbaik bagi lensa kamera Nikon saya yang sederhana, untuk mengabadikan semuanya. Kelak foto itu akan saya unggah di blog ini, setelah kembali ke bumi. Saya tidak yakin di bulan ada sinyal internet.

Mungkin mulai saat ini saya harus mulai merencanakan mengambil cuti. Saat ini bulan masih menjadi rencana terbaik saya menghabiskan hari-hari pertama selepas bumi bebas dari corona.

Kalau anda, apa yang ingin anda lakukan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *