SATU SURO ; AKIK, KERIS, DAN PERBUATAN SYIRIK

Semenjak memakai cincin batu akik, puluhan kali saya mendapatkan banyak komentar, mulai dari sebutan dukun, sampai tak kurang menyebut saya menyimpan ‘aji pengasihan‘ di dalam batu akik tersebut. Luar biasa. Kenapa tak menyebut saya menyimpan Aji Pangestu atau Aji Guritna sekalian. Hehe.

Batu akik yang saya pakai memang terlihat intimidatif. Satu di tangan kiri adalah red baron Pacitan dari jenis batuan Kalsedon, berwarna merah dengan ukuran cukup besar. Sementara di tangan kanan adalah batu combong kantong semar (batu berlubang), berwarna kuning juga dari jenis batuan Kalsedon.
Keduanya memang terlihat mencolok ketika melingkar di jari tangan saya, dan seringkali mengundang pertanyaan dari orang yang melihatnya.

Saya hanya sering menjawab dengan tawa ketika ada orang bertanya mengenai ‘isi‘ atau ‘penunggu‘ yang bersemayam di batu akik tersebut. Dengan tertawa, saya berharap akan terkesan semakin misterius, dan juga berharap batu akik itu di kemudian hari akan seharga satu unit Pajero Sport. Amin Ya Allah.
Sejujurnya, saya memang hanya bisa menjawabnya dengan tertawa, mau menjawab bagaimana lagi?

Namun jika yang bertanya terlampau memaksa, maka saya menjawab :
“Yang merah ini, saya dapatkan ketika nenepi di sebuah gua di Pacitan. Tiba-tiba seorang tua datang, mengulurkan sebuah bungkusan, yang ternyata isinya batu akik ini. Dia berpesan agar saya selalu menjaganya. Sedang yang kuning, saya dapatkan ketika secara tidak sengaja melewati sebuah sungai yang cukup wingit. Saya saat itu sedang tirakat puasa, dan ketika bepergian melewati sungai yang wingit itu, sebuah benda terlihat terjatuh tepat didepan saya. Saya ambil setelah sebelumnya merapal mantra, dan jadilah batu akik berwarna kuning ini. Malamnya, saya bermimpi didatangi seorang wanita cantik, dan berpesan agar saya selalu menjaga batu akik ini seperti saya menjaga diri sendiri.”

Jika yang dimaksud isi atau penunggu adalah aspek esoterik, aspek tak kasat mata dari suatu benda, atau katakanlah manfaat terselubung lebih dari sekadar bentuk batu akik, saya menganjurkan mereka untuk mencari referensi dari para ahli perbatuan saja.

Bagi beberapa orang, batu akik memang dipercaya mempunyai suatu khasiat tertentu, bahkan beberapa meyakini bahwa batu akik dipakai bersemayam oleh makhluk dari dimensi lain, yang kemudian memberikan ‘manfaat’ secara tidak langsung terhadap pemilik atau pemakainya. Untuk hal itu, saya hanya bisa menyerahkan kesimpulan pada masing-masing orang.
Tetapi tak kurang banyak orang tidak mempercayainya, dan menuduh orang lain yang percaya mengenai khasiat batu akik, dengan sebutan ‘syirik’. Sembari berkata, di salah satu tangan mereka melingkar sebuah gelang ‘kesehatan’. Gelang yang dipercaya mampu menjaga kesehatan, melancarkan peredaran darah, dan mereduksi segala racun di dalam tubuh.
Sudah cukup absurd belum?
Menuduh bahwa batu akik menyebabkan syirik, tetapi sekaligus juga memakai sebuah benda yang dipercaya mampu memberikan khasiat tertentu.

Pada akhir tahun, sekaligus menjelang awal tahun Hijriyah seperti ini, yang oleh orang Jawa disebut menjelang satu Suro, semakin banyak perdebatan mengenai kata syirik.
Apalagi jika sudah menyangkut mengenai beberapa orang yang ‘menjamas‘ pusaka pada malam atau hari pertama bulan Suro.

“Percaya itu hanya kepada Allah. Meminta hanya kepada Allah. Bukan kepada batu akik, atau juga kepada keris. Benda mati kok dimandikan, pakai kembang segala.”

Begitu yang sering saya dengar.

Lagi-lagi, saya juga hanya tertawa.
Saya juga mempunyai sebilah keris, cukup tua, peninggalan dari Mbah Kakung, kakek dari pihak ayah. Keris itu setahu saya, juga menurut beberapa sumber referensi, ‘berdapur‘ Nogososro. Sebilah keris ber’luk‘ sembilan dengan hiasan ukiran seekor naga berwarna emas. Sungguh indah. Setiap kali malam satu Suro, saya selalu memberinya minyak untuk menjaga keutuhannya.
Dulu, ketika pertama kali mengambilnya dari tempat Paklik, bahkan saya memandikannya. Karena keris itu ketika pertama kali tiba dirumah saya, penuh karat dan jamur.

Saya memandikannya, membersihkannya, semata agar karat dan jamur tidak merusak keindahan keris tersebut. Seumur hidup, baru sekali ini saya mempunyai sebuah benda ‘bersejarah’ yang sangat indah. Bersejarah karena keris pada era sekarang ini sudah jarang yang bisa membuatnya, tak banyak lagi empu yang tersisa. Sekaligus bersejarah karena keris itu menjadi penjaga gawang terakhir untuk terus mendekatkan dan menghidupkan segala kenangan saya bersama Mbah Kakung.

Entah keris itu mengandung sesuatu atau tidak, saya juga tidak tahu.
Keris itu juga hanya saya letakkan di dalam lemari pakaian, bercampur bersama kemeja dan seragam kerja saya.

Lantas, apakah hanya keris dan juga batu akik yang berpotensi menyebabkan syirik? Dan oleh karena itu kepada keduanya pantas disematkan suatu penghakiman?

Bagaimana dengan uang?
Apakah uang tidak memberikan khasiat serta manfaat tertentu?
Lalu, apakah uang juga tidak membuat pemiliknya merasa aman, nyaman dan tenteram?
Seberapa jauh orang menempatkan uang di dalam kehidupannya?
Apakah kita khawatir atau tidak ketika tak ada lagi uang tersisa, dan tanggal gajian masih cukup lama untuk tiba?

Beberapa orang bahkan memperlakukan uang melebihi benda pusaka. Menumpuknya didalam peti-peti, di dalam rekening, bahkan terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Melalui penipuan, ketidakjujuran, korupsi, mark up proyek, dan lain sebagainya, dengan tidak mengingat bahwa cara-cara tersebut dilarang oleh agama apapun.

Apakah ada koruptor yang teringat kepada Tuhan ketika melakukannya?
“Dengan menyebut nama Tuhan, saya terima uang hasil korupsi ini dengan ikhlas, semoga berkah.”

Demikiankah?

Ketika uang membuat siapapun mereka yang mengejarnya menjauh dari nilai-nilai agama, lupa terhadap Tuhan, lalu mengapa tak disematkan kepada uang sebagai benda yang menyebabkan ‘syirik’?

Bagaimana dengan jabatan?
Bagaimana ketika banyak orang menghalalkan segala cara untuk meraih atau menduduki jabatan tertentu? Sogok sana sini, suap kesana kemari, dan tak ada seorang pun menganggapnya perbuatan syirik.
Bahkan saya yakin, ada diantara Anda pembaca tulisan ini yang pernah menjadi agen pelegalan tindak syirik semacam itu. Ketika suatu kali anda menerima amplop berisi sejumlah nominal uang tertentu, agar memilih calon lurah A, calon bupati C, atau calon anggota legislatif E. Pernah?
Kalau pernah, bahkan secara langsung anda juga sedang membantu orang berbuat syirik.

Lalu, seseorang sedang merawat Vespa tua peninggalan kakek atau bapaknya. Tiap berapa Minggu sekali Vespa itu dicuci, dirawat sedemikian rupa, menganggapnya benda yang terlampau sangat berharga. Vespa itu dirawatnya sedemikian rupa karena menautkannya kepada kenangan kenangan terhadap kakek atau bapaknya, menuliskan cerita sejarah yang tak dimiliki oleh sepeda motor terbaru keluaran dealer, atau bahkan mobil sport mewah terbaru. Vespa itu mampu memberikan tenaga lebih kepadanya setiap kali memandang, menaiki, atau sekadar me-lap membersihkannya. Seolah ada dorongan energi dan semangat dari kakek atau bapaknya melalui keberadaan Vespa itu.
Syirik juga kah ia?

Dimanakah letak syirik itu?
Pada benda, atau sikap kita?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.