Satu Tahun Lima Bulan, Secoret Catatan Di Prambanan

Jika saya sendiri diberi pertanyaan mengenai bagaimana lingkungan kerja yang ideal, saya akan menjawab sederhana saja : asalkan tugas pokok dan fungsi [tupoksi] yang menjadi tanggung jawab bisa diselesaikan dengan nilai minimal, baik.

Di luar urusan tupoksi yang menjadi tanggung jawab masing-masing personil di tempat kerja, saya berharap tak ada saling mencampuri urusan orang lain, apalagi menggunjing. Saya pribadi selalu alergi dengan gunjing-menggunjing. Selain tidak suka digunjingkan, karena saya sendiri tidak suka menggunjing. Apalagi jika tema bahasan masih samar dan cenderung mendekati fitnah.

Selain itu juga saya berharap bisa merokok sembari bekerja, dan tersedia semacam pantry yang memuat aneka kopi. Bisa bekerja sembari merokok dan menyeruput secangkir kopi.

Oh iya, urusan tupoksi tadi bagi saya juga seharusnya tidak terlalu formil dibatasi oleh jam kerja. Pokoknya asal tanggung jawab utama bisa diselesaikan dengan baik. Baik dengan ukuran waktu maupun kualitas jenis pekerjaan yang diselesaikan. Mau lembur silahkan, bisa cepat silahkan, asalkan pekerjaan selesai dengan kualitas baik.

Menurut saya, pekerjaan ASN jika tak berhubungan langsung dengan pelayanan terhadap masyarakat, seharusnya tidak usah terlalu formil terikat dengan waktu jam kerja. Karena pada kenyataannya, mereka yang mempunyai nilai presensi kehadiran baik, belum tentu bisa bekerja dengan baik.

Tetapi kan saat ini ukuran kinerja ASN yang utama masih perihal daftar kehadiran. Baik buruk ASN adalah mengenai presensi kehadirannya.

Yaa tak mengapa juga, toh memang harus seperti itu jaman yang dilalui.

Kembali lagi pada kondisi ideal tempat kerja. Kan ya tak mungkin ada, kecuali kalau kantornya milik sendiri. Atau mungkin kantornya milik orang tua, atau milik keluarga. Dengan catatan kita sudah jadi bosnya.

Kalau masih jadi kroco, masih jadi pekerja, apa yang bisa dilakukan yang tinggal manut dan ikut saja. Seperti bumbu mie instant yang pasrah mau dipakai atau dibuang oleh konsumennya.

Seperti rontokan peyek yang manut saja mau dibuang ditempat sampah, atau disapu, dikukup, kemudian dijadikan makanan ayam.

Tentu Prambanan bukan tempat ideal bagi keinginan saya, dalam bekerja. Tak ada smoking area, apalagi merokok sembari bekerja. Jam kerja serta presensi kehadiran juga demikian ketat, seperti narapidana yang harus terus menerus dipantau untuk memastikan keberadaanya di dalam lapas. Kecuali narapidananya bernama Setya Novanti, yang bisa pergi keluar berbelanja di toko bahan bangunan.

Meski tak ideal, namun tetap saja ada hal-hal yang patut disyukuri. Banyak sebenarnya yang patut disyukuri ketika bekerja di Prambanan. Salah satunya, karena saya bisa gondrong, bisa memanjangkan rambut sampai batas yang saya tentukan sendiri.

Atasan saya tak pernah mempermasalahkannya secara langsung. Dalam arti, tak pernah menyatakannya secara langsung kepada saya. Entah kalau di dalam hati, dan saya tak pernah akan menduga-duga hati orang lain. Hati saya sendiri saja seringkali bingung mengartikulasikannya, apalagi hati orang lain.

Hampir satu setengah tahun saya berada di Prambanan, menjadi bagian di dalamnya. Saya tak akan ber-mellow ria mendiskripsikannya. Jika ada yang harus sedikit saja mendapat catatan khusus, itu adalah peluang untuk bisa pulang dan tidur siang. Karena jaraknya yang dekat dengan rumah saya. Hanya sekira sepuluh menit perjalanan menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang.

Perihal beban kerja, saya tak pernah merasa terbebani. Tak ada pekerjaan yang berat ataupun sulit, selama ada kemauan menyelesaikannya.

Jika nanti ada sedikit saja yang terasa hilang dari lembar-lembar catatan, itu adalah tentang kabut samar yang turun dari barisan pegunungan. Kabut samar dingin yang selalu memberikan bisikan, tentang hingar bingar kehidupan manusia yang semestinya menyublim bersama keterbatasan.

Ya, manusia seharusnya sadar mengenai keterbatasannya, dan kemudian menundukkan kepala atas segala pongah yang pernah dilakukannya.

Oh ya, adakah kekuasaan dan kesewenangan manusia yang abadi?

Jika ada, tentu manusia itu jelmaan Tuhan di muka bumi. Jika memang tak ada, lantas mengapa masih ada manusia yang merasa bangga dengan kekuasaannya?

Saya sendiri sampai di Prambanan oleh karena kekuasaan dan kesewenangan seseorang, yang dengan pongahnya merasa bahwa ia bisa melakukan segalanya. Semoga saja ia adalah jelmaan Tuhan, karena jika tidak, maka kelak ia akan terjungkal dengan banyak derita.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *