SEBATANG (D)JARUM, SEBUAH CATATAN PENGINGAT

Mata masih terasa lengket, sedikit sulit untuk membukanya. Masih dengan terpejam, tubuh dipaksa untuk segera bangun, duduk sejenak, dan kembali berusaha membuka mata. Kesadaran belum terkumpul seluruhnya dan masih berserak bersama mimpi tak jelas. Untung saja kaki tak terasa lengket untuk melangkah menuju kamar mandi, melakukan ritual setiap pagi, membuang sisa-sisa metabolisme yang tak terserap tubuh. Keruh. Kurang minum, mungkin.

Cuci muka, ah, kenapa tak sekalian berwudhu. Mumpung bisa bangun dalam pagi yang masih pekat dan belum terkena sinar matahari.

Oh, mendung rupanya. Pantas saja, tak kembali terlihat Merapi dan Merbabu di kejauhan.

Hidung terasa gatal, sebotol air mineral ditandaskan. Beranjak ke cermin, siapa tahu hidung gatal karena bulu-bulu yang tumbuh secara agresif dan membabi buta.
Sialan, kenapa tak tumbuh di kepala saja? Mungkinkah sudah rusak segenap sistem pengaturan tubuh, sehingga rambut-rambut itu tumbuh pada hidung, dan bukan pada dahi yang semakin melebar. Sayangnya tak ada metode reset pada tubuh manusia. Mengembalikan pada pengaturan awal. Setidaknya agar bulu hidung itu berpindah saja tumbuhnya di kepala.

Ternyata bukan bulu penyebab hidung terasa gatal. Entah, hanya saja kini mata juga merasa apa yang hidung rasakan, dan… Hatchiiiiiiiii.
Bersin, sebentuk cairan terasa meleleh dari hidung yang terasa gatal.

Sedikit terasa gelisah. Karena belum bertemu kopi?
Beberapa orang mungkin akan mengatupkan tangan dan mulai merapal mantra atau doa-doa ketika merasa gelisah. Tetapi bagi manusia yang sedikit aneh ini, merapal doa dan mantra untuk mengusir kegelisahan di pagi hari, lebih efektif melalui perantara secangkir kopi.

Secangkir kopi sudah berada di tangan, aromanya menguar dan perlahan, rasa gelisah mulai mengendap dan kembali pada tempat asalnya. Ya, aroma kopi, bagi saya selalu menenangkan. Bagi beberapa orang, mungkin efeknya serupa timbunan emas, isi rekening tabungan yang tak bisa habis, atau mungkin juga serupa pangkat dan jabatan. Hal-hal yang menenangkan, yang rela ditempuh dengan berbagai resiko dan biaya. Tetapi bagi manusia aneh ini, cukup aroma kopi.

Rasanya sama saja, tak pernah berubah. Begitu-begitu saja. Pahit, sedikit manis karena gula, dan tentu saja, enak.
Enak adalah kata relatif. Tak usah diperdebatkan mengenai definisi, apalagi penyebabnya.
Bagi saya, secangkir kopi dua ribuan saja sudah terasa enak.

Ada yang kurang, sebatang kretek. Masih ada sisa beberapa batang (d)jarum dari hari kemarin.
Sejurus kemudian, rasa enak dari kopi mulai menghilang, berganti dengan kata nyamleng. Nyamleng tak ada padanan kata dalam Bahasa Indonesia untuk menggantikannya. Mungkin serupa kata ‘umami‘ bagi orang Jepang.

Yah, sebatang kretek serta secangkir kopi sudah lebih dari cukup untuk menahan rasa gelisah agar tak menguar dan mempengaruhi segala gerak dan laku seluruh tubuh.

Ooh, maaf. Hampir lupa. Hal-hal seperti ini harusnya tak harus diumbar dan dibagikan. Bukankah rokok sudah menjadi larangan serius oleh berbagai lembaga kesehatan dunia. Dan bukankah kemudian semua umat manusia harus mengikutinya.
Seperti halnya semua panduan lain mengenai hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia demi kesehatannya.

Daripada mencari, menelaah, memahami, dan mengerti diri sendiri untuk mencari apa-apa yang baik dan tidak baik, apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, bukankah memang lebih mudah menurut saja apa kata para ahli dari lembaga-lembaga kesehatan dunia, kan?
Bahkan, kalau anda pernah melihat suatu poster atau banner, bahkan etika batuk saja ada tuntunan dari WHO ; ‘etika batuk yang baik dan benar menurut WHO‘.

Oleh karena itu, ketika dulu minyak goreng dari buah kelapa yang menjadi produk unggulan Indonesia diklaim tidak sehat, menyebabkan berbagai penyakit, dan jauh lebih tidak sehat dibanding minyak goreng dari kelapa sawit, maka kita juga harus menurutinya.
Termasuk dengan mulai menebang pohon kelapa, menghentikan produksi minyak goreng dari buahnya, mematikan industri kopra, dan beralih kepada kelapa sawit.
Tetapi, tetapi…ketika saat ini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian muncul kesimpulan sebaliknya, bahwa minyak goreng dari kelapa sawit jauh lebih tidak sehat dari minyak goreng buah kelapa, kita juga harus kembali maklum serta mahfum, bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf.

Sementara, kita kesampingkan berbagai teori konspirasi bahwa apapun produk unggulan Indonesia dari sektor pertanian diklaim tidak sehat, bukan karena lembaga-lembaga besar dunia itu ingin mematikan penghidupan rakyat Indonesia, tetapi semata demi kebaikan dan kesehatan kita semua.

Tak perlu kita repot misalnya dengan melakukan penelitian mandiri mengenai manfaat tembakau, cengkeh, atau kopi. Toh mereka sudah melakukannya untuk kita. Perihal hasilnya, kita juga menurut saja, ya kan?
Sebagai bagian dari tata pergaulan masyarakat internasional, kita tidak boleh berkata tidak terhadap kesepakatan global, meski itu berarti akan mematikan penghidupan kita, ya kan?

Terserah saja para petani tembakau kelaparan nantinya, terserah kan?
Terserah juga nanti para pekerja pabrik rokok tidak mendapat pekerjaan, bukan urusan kita kan?
Terserah saja kalau pabrik rokok HM Sampoerna itu sudah dibeli oleh Phillip Morris perusahaan rokok Amerika, tidak masalah. Iya kan? Padahal Amerika getol mengeluarkan aturan pembatasan rokok bagi seluruh negara di dunia, tetapi kenapa mereka membeli pabrik rokok Indonesia? Tidak usah kita pedulikan juga, kan?
Terserah juga kalau nikotin mulai diekstrak untuk pengobatan, dengan harga mahal. Terserah saja, kita tidak usah peduli, toh yang terpenting wujudnya bukan rokok kan?

Bagi kita kan yang penting rasanya, bukan wujudnya, salah?

Ah, ini tadi hanya tentang secangkir kopi, dan sebatang (d)jarum saja kan, kenapa akhirnya harus sampai kemana-mana. Penikmat kretek tak usah berbicara macam-macam, sebab sudah pasti subyektif bukan. Sudah pasti mengada-ada.

Yang tidak mengada-ada tentu saja kalau sakit harus disembuhkan menggunakan jarum suntik, tak boleh dikerik punggungnya. Setuju?

Jangan sekali-kali membantah apa kata ahli dan orang pintar. Termasuk kalau kelak mereka berkata bahwa cara berjalan yang baik adalah dengan kedua kaki bersamaan, melompat seperti pocongan di film-film, bukan seperti saat ini yang kedua kaki melangkah bergantian.
Pokoknya, menurut saja.

*****

Ah, matahari sudah mulai tinggi, mendung sejenak pagi tadi, menghilang. Berganti gelas kosong sisa kopi, dan rasa tenteram yang menghampiri. Sederhana.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.