Sebelum BBM Mati

PING!

PING!

PING!

Kelak tak akan ada lagi, pesan dengan suara khas, dari Blacberry Messenger [BBM] itu. Tak ada lagi PING!, berwarna merah, dengan suara dan penanda yang khas.

BBM sudah benar-benar akan menjadi legenda, yang dikenang setelah kematiannya. Tak disangka juga bahwa BBM akan kalah sehat, dan kalah panjang umur dibandingkan layanan SMS.

Eh tapi, saya sih tidak pernah mempunyai gadget dari Blackberry. Ketika kawan-kawan saya sibuk dengan PING! mereka, dengan hape QWERTY berwarna hitam dengan bentuk kotak bersudut membulat, saya masih sibuk dengan hape Nokia yang baterainya sudah melembung.

Tak satu pun gadget dari Blackberry yang pernah saya punya. Tak juga seri Gemini yang larisnya melebihi gorengan pinggir jalan itu. Tak pernah saya merasakan empuk tombol-tombolnya, yang kata teman-teman bisa menimbulkan ketagihan. Saking ketagihannya, bahkan tak bisa katanya jika dalam satu jam saja tak mengetik diatas tuts-tutsnya. Bahkan lagi, tak bisa jika tak mendengar suara PING! yang dikirimkan kawannya.

Tetapi PING! tak akan mati. Itu adalah peninggalan terhebat dari Blackberry, atau dari layanan BBMnya.

Saya sering mendapat kiriman pesan dengan tulisan ‘PINK’. Atau kalau tidak ‘ping’. Tanpa tanda seru, pada aplikasi layanan kirim pesan yang lain, bukan pada BBM. Bahkan terkadang sampai lebih dari enam kali jika saya tak kunjung membalas pesan itu. Padahal, PING! yang asli maksimal hanya bisa terkirim tiga kali dalam satu pengiriman terus menerus.

PING! sudah menjadi semacam identitas dan atau pengganti kata sapaan seperti ‘hai’, atau ‘hallo’, atau bahkan ‘assalamualaikum’ untuk orang muslim. PING! adalah bahasa universal, untuk mengetahui apakah kawan yang kita kirim pesan, sedang bersiaga ataukah tidak. Jika ia membalas PING! kita, maka ia sedang bersiaga dan bisa dipastikan akan membalas pesan kita. Kalau tidak, berarti ia tak sedang bersama gadgetnya.

Tetapi begitulah teknologi, akan cepat mati bagi yang tak cepat beradaptasi.

Tetapi BBM mati bukan karena tidak beradaptasi. Ia mati karena serangan gencar dari kompetitornya. Dari Android dimulai sekira sembilan tahun yang lalu. Mulai tahun 2010 dan 2011. Android mulai gencar menyerang, dengan berbagai layanan baru yang ditawarkan.

Android membawa satu paket holistik tentang bagaimana ‘menggenggam dunia’ benar-benar hanya dengan satu genggaman tangan. Bukan hanya menawarkan eksklusifitas kirim-terima pesan seperti halnya Blackberry. Android membawakan hampir semuanya. Lengkap, komplit.

Blackberry terperangah, tak siap.

Blackberry yang dulu pada awal kemunculannya menjadi pembunuh utama dari hape ‘jadul’ seperti Nokia dan Siemens, akhirnya harus berhadapan dengan pembunuhnya. Mungkin waktu itu Blackberry serupa Hulk, yang begitu perkasa melawan tentara-tentara semacam Nokia dan Siemens. Tetapi Android mungkin adalah Thanos, yang Hulk bukanlah lawannya. Hanya dengan satu kibasan tangan kiri, Hulk terkapar. Mungkin Android adalah Thanos yang memiliki paket ‘batu akik’ lengkap, sedang Blackberry yang Hulk, hanya mempunyai power dan kekuatan, yang berupa BBM untuk bertukar pesan.

Saya ingat, sekira sepuluh atau sebelas tahun lalu, tidak memakai BBM berarti setara dengan manusia purba. Saya merasakan betul hal itu. Di saat kawan-kawan saya asyik senyam-senyum sendiri dengan menggenggam gadget Blackberry mereka, saya hanya mendengarkan MP3 dari hape Nokia saya. Hape yang baterainya sudah melembung serupa hamil.

Tetapi saya pun tahu diri, sebagai Homo Phitencantropus Giritontrus, saya sebenarnya tak benar-benar tertarik dengan Blackberry waktu itu. Apa yang membuat saya kurang tertarik, adalah nyawa untuk menghidupinya.

Blackberry tak bisa hidup dengan jenis pulsa biasa. Harus dengan suatu paket tertentu, yang harganya, alamak…..

Ketika akhirnya mempunyai sejumlah uang untuk menceraikan Nokia dan membuka peluang ijab qabul lagi, saya tak memilih Blackberry. Waktu itu, tahun 2012, Blackberry sudah terlihat keriput di mata saya. Meski masih ramai penjualan dan pemakainya, saya lebih tertarik pada Android. Waktu itu, akhirnya saya meminang sebentuk Android seri 4.0.

Banyak yang bertanya kenapa saya tak memilih Blackberry, yang bagi kebanyakan orang masih terlihat seksi. Saya jawab Blackberry hampir mati, sudah sekarat, dan Android jauh lebih seksi.

Layarnya lebih lebar, dan saya bisa berselancar di internet dengan cukup nyaman. Meski waktu itu, diagonal layar dari Android pertama saya hanya 4 inchi. Tetapi itu lebih dari cukup, dan jauh lebih luas dari layar Blackberry semacam seri Gemini.

Meski tak pernah mempunyai gadget dari Blackberry, tetapi saya pernah juga menggunakan BBM, versi Android. Ketika pada akhirnya waktu itu tahun 2013 BBM dilepas menjadi sharing paltform yang bisa digunakan pada Android maupun iOS.

Akhirnya, saya bisa menggunakan PING!, pikir saya waktu itu.

Namun kata kawan-kawan saya [lagi], masih lebih enak BBM yang digunakan pada gadget Blackberry asli, bukan yang ada pada Android ataupun iOS. Tetapi saya tak ambil pusing, yang penting tetapi bisa berkirim pesan tanpa harus menguras pulsa layaknya SMS.

Tetapi siapa sangka, jika akhirnya BBM harus ‘bunuh diri’?

Dengan sadar mengakui kerentanan serta kekurangan dirinya, dan kemudian memilih mati. Kalau di Jepang, mungkin harakiri. Mengakhiri hidup sendiri dikarenakan kehilangan kehormatan, atau kalah dalam pertempuran. Daripada hidup berkalang malu, lebih baik mengakhiri diri sendiri. Demikian harakiri.

Tetapi kan BBM bukan dari Jepang, kenapa harus harakiri?

Mungkin karena pada awalnya BBM memang bukan platform kirim-terima pesan. Pada awalnya BBM adalah platform eksklusif untuk gadget mereka. Perusahaan induk awal mereka, Research In Motion [RIM], adalah produsen gadget, bukan pencipta aplikasi kirim terima pesan layaknya WhatsApp, WeChat, atau juga Line.

Maka tentu kekalahan telak dari Android maupun iOS yang masing-masing diusung oleh Google dan Apple, membuat BBM harus mengakhiri dirinya sendiri.

Melalui pesan yang dikirim oleh mereka pada para penggunanya, BBM akan mulai mematikan diri per 31 Mei 2019. Semenjak saat ini, Blackberry sudah bersiap diri.

Meski patut disesali, juga disayangkan, tetapi BBM tetap layak mendapatkan penghormatan tertinggi.

Sebab, berapa banyak hal atau makhluk yang kemudian mati tanpa persiapan?
Dan BBM bisa mempersiapkan kematiannya.

Luar biasa, bukan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.