Sebuah Proses, Tentang Tulisan Yang Tak Pernah Meningkat Kualitasnya

Saya memulai menulis ketika duduk di bangku SD. Bukan, bukan menulis dibuku tulis pelajaran. Menulis yang memang bertujuan untuk menuliskan sesuatu, selain yang berkaitan dengan pelajaran dan sekolah.

Itu adalah menulis sebuah peristiwa pendek, dalam sebuah kartu pos, dengan ditulis tangan. Itu adalah tulisan yang sedianya akan dikirimkan ke redaksi Majalah Bobo, tapi gagal. Perihal gagalnya, saya lupa karena apa. Yang jelas, sebuah peristiwa pendek yang saya tuliskan dengan tema mengenai adik pertama saya itu, tak pernah terkirim ke redaksi Majalah Bobo.

Majalah Bobo, itu adalah majalah yang membuat saya bermimpi untuk (bisa) menulis. Paling tidak, menulis cerpen dan mengirimkannya, untuk kemudian nama saya terpampang dibawah judul sebagai penulisnya. Ketika membayangkannya (nama saya terpampang sebagai penulis cerpen di Majalah Bobo) kok gagah betul.

Pada masa setelah mimpi-mimpi dan harapan itu, pulpen saya lebih banyak menulis pada kertas-kertas yang berakhir ditempat sampah. Tak satupun yang menjadi tulisan, apalagi cerpen. Semua hanya sampah, dan karena itu berakhir ditempat sampah.

Majalah Bobo tetap menjadi bacaan dan kiblat referensi saya sampai ketika masuk SMP, selain kemudian ditambah tabloid Bola dengan kolom-kolom tulisan dari banyak penulis yang membuat saya terkesima. Terutama adalah tulisan dari Rayana Djakasurya, yang membuat Serie A Liga Italia begitu mempesona dimata saya. Sepakbola tak hanya sekadar mencetak gol, ya?

Setelah Bobo, tabloid Bola menjadi kiblat saya selanjutnya untuk bisa dan belajar menulis. Masa-masa setelahnya, saya berusaha menulis semirip mungkin dengan tulisan para penulis terkenal itu. Hasilnya lumayan, semakin banyak kertas ditempat sampah, dan semakin tipis buku tulis sekolah saya karena diambil bagian tengahnya.

Apakah lantas saya menyerah?
Tentu saja tidak!!!
Saya jarang menyerah, kecuali ketika dikhianati, dalam hal apapun. Bagi saya tak ada upaya dan pembelaan apapun yang berguna ketika dikhianati. Menyerah adalah satu-satunya jalan untuk berdamai, kemudian pergi dan tak lagi peduli, selesai.

Tetapi menulis belum mengkhianati saya, setidaknya sampai saat ini, maka saya belum menyerah. Maka kemudian muncul pula blog ini. Karena saya belum menyerah.

Tetapi sebenarnya kemunculan blog ini pun didasari oleh rasa kalah dan karena saya juga ‘menyerah’. Menyerah mengirim tulisan ke redaksi-redaksi media. Dari sekian puluh tulisan yang saya kirimkan, tak satupun yang diterima untuk diterbitkan. Hampir semua redaktur atau admin penerima naskah menjawab : “Masih banyak yang harus diperbaiki dari tulisan anda. Mungkin lain waktu kami akan menerbitkan tulisan anda.”

Begitulah, dan blog ini pun akhirnya lahir dari rahim keputusasaan.

*****

Pada tahun 2016 saya menemukan seorang guru menulis. Bukan menemukan, tetapi dipertemukan. Pada saat itu —setelah tahu teknik dan cara menulis yang baik—, saya yakin kelak pada akhirnya akan bisa menulis. Setelah itu, cita-cita saya adalah bisa menulis sebuah buku. Entah buku fiksi ataupun non-fiksi. Sebegitu yakinnya, sampai kemudian saya kembali dihempaskan oleh harapan dan keyakinan saya sendiri.

Selama empat tahun semenjak 2016 sampai 2020, tulisan saya tak pernah berkembang. Baik secara kuantitas dan apalagi kualitas. Saya tak pernah bisa disiplin menulis setiap hari, pun saya tak pernah selesai dengan berbagai macam teknik untuk bisa menulis berbagai macam tulisan. Esai, fiksi, feature, kolom —tak pernah saya kuasai—.

Saya hanya bisa menulis tentang apa yang saya inginkan, dan dengan cara yang terpikirkan. Tak pernah saya menulis sesuai standar baku mengenai berbagai macam tulisan yang layak baca. Tetapi setidaknya, menulis tak pernah mengkhianati saya. Mungkin ia mengecewakan, tetapi tidak sampai menikam dan menghancurkan.

Sampai saat ini semua masih mengenai sebuah proses, tentang tulisan yang tak pernah meningkat kualitasnya.

Saya tak pernah bisa menuliskan tentang sepakbola seperti ketika Rayana Djakasurya menuliskan Liga Italia, bahkan jika yang saya tuliskan hanyalah mengenai sepakbola dalam rangka memperingati hari kemerdekaan.

*****

Empat tahun berlalu setelah saya mengikuti ‘kursus formal’ kepenulisan, dari sebuah kelas menulis, kini saya mawas diri. Menulis ternyata tak semudah seperti ketika membaca. Masih jauh lebih mudah membaca, meski sama-sama membutuhkan tekad dan kemauan.

Hanya saja, entah kenapa saya terus dan terus menulis, meski saya sendiri merasa tak ada peningkatan dari kualitas tulisan saya.

Ada semacam dorongan untuk terus menulis, meski disaat yang bersamaan keinginan untuk berhenti juga menguat. Saya menemukan kebahagiaan ketika menulis, meski juga disaat yang bersamaan menemukan kesedihan. Saya menemukan semangat ketika menulis, meski juga selalu didampingi rasa putus asa.

Suatu waktu, alasan untuk terus menulis begitu menggebu, dan sekaligus berjuta alasan untuk berhenti juga menyebar laiknya debu.

Mungkin kelak saya akan berhenti menulis. Berhenti menuliskan omong kosong dan beragam macam sampah yang memenuhi blog ini. Tetapi sementara waktu ini, keinginan untuk terus menulis dan berhenti masih dalam kondisi seimbang. Belum ada yang memenangkan hati serta perasaan saya secara total. Terkadang saya ingin menulis, maka saya menulis. Terkadang saya tak ingin menulis, maka hal itu juga saya lakukan.

Mungkin kelak saya akan berhenti dan tak peduli, ketika menulis juga mulai mengkhianati.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)