Sego Jagung

Sego Jagung.

Sarapan pagi tadi berasa istimewa, dengan sego (nasi) jagung dan bothok teri serta rempeyek. Yang membuat jauh lebih istimewa, karena gratisan.

Seorang tetangga yang asli Purwodadi membawakannya. Rasanya enak. Tepatnya, lidah saya tidak menolak. Bagi beberapa orang, makan adalah perkara enak atau tidak enak. Tetapi bagi saya, makan lebih sering adalah perkara lapar, yang harus dipenuhi hingga kenyang, dan lidah tidak menolak. Perkara makan, kadang saya tidak nurut sama Kanjeng Nabi. Karena saya lebih sering tidak tahu dimana ‘kenyang’ itu berada, sehingga saya harus berhenti sebelumnya.

Kadang makan sepiring nasi dengan sayur, tanpa lauk, saya sudah kenyang. Tetapi pernah saya makan dua mangkuk mie ayam, tambah semangkuk bakso kuah, belum terasa kenyang. Pernah juga tidak makan sehari semalam, hanya minum kopi setengah manis, serasa kenyang dan tak ingin makan.

Entah, sesuatu yang bersama diri saya, semuanya menjadi serba tak jelas. Pekerjaan tak jelas, rambut tak jelas (mau gondrong atau botak), apalagi isi dompet, jelas tidak jelas. Yang jelas ada di dalam dompet hanya KTP dan SIM, lain itu tidak jelas.

Sarapan pagi tadi pun agak samar juga. Bukan perihal nasi jagungnya yang terasa agak seret di kerongkongan tetapi sangat nyaman ketika sampai perut. Tetapi sesuatu yang lain…

Jika ada yang membuat samar, itu karena nasi jagung pertama yang saya makan adalah made in Purwodadi. Padahal Mbah Putri, simbah dari Bapak, asli keluaran Wonogiri.

Iya Wonogiri yang katanya daerah tandus itu, daerah tertinggal itu, daerah pelosok, daerah yang hanya ‘makmur’ setiap kali menjelang pemilu, daerah yang generasi mudanya lebih memilih merantau ke kota-kota, Wonogiri yang tempat tumbuh kembang Presiden RI ke-2.

Berarti saya ini mempunyai darah Wonogiri, darah saya pasti semerah tanahnya. Warna darah yang paling dekat dan lekat dengan asal tanah penciptannya. Darah dan tanah yang tak mungkin berkhianat, tetapi rentan dikhianati.

Ketika simbah masih sugeng, sebanyak apapun sering ke sana, tetapi sebanyak itu pula saya melewatkan kesempatan menyantap nasi jagung buatan tangan beliau.

Wonogiri memang bukan daerah subur, dalam arti dengan masa tanam komoditas pertanian sepanjang tahun. Sebagian besar wilayahnya terdiri pegunungan kapur, dan tanah merah. Airnya tak melimpah, bahkan cenderung kurang apalagi di musim kemarau. Lahan-lahannya hanya bisa ditanam kacang tanah, kacang koro, jagung, kedelai, dan juga cor semen serta aspal.

Dan sego jagung tadi pagi tiba-tiba membawa ingatan yang samar. Apakah saya benar-benar belum pernah makan sego jagung buatan Mbah Putri?
Ya ternyata memang belum pernah, sekalipun.

Saya merasa sangat gondok. Ingin saat tadi juga saya segera nggedruk bumi dan meminta Mbah Putri kembali pada saya untuk membuat dan memasak sego jagung. Tapi ya tidak mungkin juga. Sejauh ini kehebatan saya hanya membangkitkan ingatan yang mati, bukan kehidupan orang yang sudah mati.

Dulu, saya sering melihat jagung kering di gantung di dapur, atau di emperan belakang rumah simbah, tetapi tak pernah tertarik untuk mencicipi hasil olahannya. Jika ada cucu goblog yang enggan mencicip makanan pokok dari tanah moyangnya, buatan simbahnya sendiri, dan kemudian menyesal karena sampai simbahnya meninggal tak pernah melakukannya, itu pasti hanya saya.

Sego jagung made in Purwodadi itu akhirnya tandas juga, tak tersisa. Hanya menyisakan piring dan sendok kotor, serta sejumput penyesalan. Jika itu patut disesali, saya akan terus melakukannya sampai sore nanti. Toh, saya bukan penganut mahzab ‘penyesalan tak ada gunanya’. Saya selalu percaya hal apapun mempunyai fungsi dan guna, termasuk penyesalan.

Maka saya akan menyesali kebodohan saya yang tak pernah sekalipun mencicip sego jagung buah tangan Mbah Putri.

Sembari menyesal, saya juga melamun. Melamun jika suatu saat Wonogiri bisa menjadi daerah makmur, meski tanpa lahan yang subur. Generasi mudanya tak lagi menggebu untuk pergi merantau ke kota, dan daerah yang dilewati Jalur Jalan Lintas Selatan dari Pangandaran sampai Trenggalek itu tak hanya menjadi perlintasan. Tetapi menjadi pemberhentian bagi beragam kesetaraan terhadap akses perekonomian, dan juga kesejahteraan.

Tetapi nanti, meski sudah maju Wonogiri itu, saya tidak akan pernah tinggal di sana. Yaa karena saya sudah kehilangan kesempatan untuk menyatu, ketika melewatkan sego jagung buah tangan simbahku…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1.117 Comments

  1. I’m commenting to let you be aware of of the beneficial discovery my child developed browsing the blog. She came to find a lot of details, including how it is like to have a great coaching character to get certain people completely comprehend a number of complex issues. You actually did more than her desires. Many thanks for imparting the interesting, safe, explanatory and even easy thoughts on the topic to Janet.

  2. Thanks for one’s marvelous posting! I seriously enjoyed reading it, you happen to be a
    great author. I will make sure to bookmark your
    blog and will come back sometime soon. I want to encourage you continue your great work, have a nice
    afternoon!

  3. I think that is one of the so much significant information for me. And i’m glad studying your article. However want to remark on few general things, The web site taste is wonderful, the articles is in point of fact nice : D. Good process, cheers|

  4. Thanks for some other fantastic post. Where else may just
    anyone get that kind of information in such an ideal means
    of writing? I have a presentation next week, and I am
    on the look for such information.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *