Sejumput Cerita Titipan 2

Aku pernah menulis seperti yang akan kutulis kali ini. Semacam cerita, yang aku dengar ceritanya dari orang pertama. Dari orang yang mengalaminya. Jadi, aku tidak mengada-ada.

Aku sendiri heran, kenapa orang-orang itu begitu mudah bercerita kepadaku. Padahal, aku tak mengenal mereka, dan mereka tak mengenalku. Jangan-jangan karena tak saling mengenal, mereka membual? Bercerita sesuatu yang tak nyata kepadaku, dan berharap aku mempercayainya sebagai suatu fakta?
Entah saja, terserah.

Cerita pertama yang mirip, ada pernah aku tuliskan pada Sejumput Cerita Titipan.

Yang akan kutuliskan ini, mirip juga. Tapi sedikit membuatku heran.

Framing waktunya hampir sama, pada malam hari. Juga terjadi pada tempat yang sama. Warung kopi yang sama, dengan tempat duduk dan meja yang juga sama. Ya Tuhan. Sebenarnya aku hampir menyerah terhadap hidupku sendiri. Aku terlalu banyak mengulang kejadian, semacam de javu.

De Javu? Atau jangan-jangan aku yang terlalu banyak berkhayal, membayangkan sesuatu yang belum terjadi, meletakkan frekuensinya sesuai dengan yang aku kehendaki. Oleh karena itu, maka selalu terlihat semacam de javu, padahal jangan-jangan itu hanya bayangan dan pikiranku sendiri.

Cerita kali ini, aku juga sedang duduk di warung kopi, memesan dua cangkir kopi dari jenis yang berbeda. Satu cangkir kopi Gayo Aceh, satu lagi kopi Toraja. Dua jenis kopi yang paling kusukai, keduanya berjenis Arabika. Cocok untuk menemani lamunan malam hari, atau melihat bermacam manusia di warung kopi seperti saat ini.

Tepat setelah kuletakkan cangkir kopi Toraja dan kemudian kusulut sebatang rokok Djarum Super, mataku tertuju pada satu sosok perempuan di meja tak jauh dari tempatku. Meja berjarak sekira lima meter, yang pada beberapa waktu lalu ditempati oleh seorang lelaki yang memakai jaket jeans sedikit belel dengan berbagai ornamen bordir hiasan.

Perempuan yang kumaksud, mengingatkanku pada cerita lelaki dengan jaket jeans itu. Aku melihat ke arah perempuan itu dan kemudian memerhatikannya, karena sebelumnya perempuan itu terus melihat ke arahku. Ketika kemudian aku menoleh dan melihat balik ke arahnya, dia memalingkan muka, menunduk, dan kemudian mengambil cangkir di depannya.

Aku jadi memerhatikannya dengan seksama. Perempuan itu memakai kerudung warna cerah, kaus lengan panjang dengan warna hampir senada, rok panjang berwarna agak gelap, dan sepatu sneaker warna putih. Persis….

Ingatanku kembali melayang pada cerita lelaki dengan jaket jeans belel itu. Perihal pacarnya, yang dia ceritakan hampir detail pada pakaian yang dikenakannya. Aku perhatikan wajahnya, tidak cantik, namun menarik. Persis seperti apa yang didefinisikan oleh lelaki itu.

Tapi, berapa banyak manusia yang mirip di dunia ini? Apalagi jika hanya dari pakaian saja kita melihat serta menilainya. Sedangkan wajah saja, di Korea kini hampir semua artis perempuannya berwajah sama.

Aku mengabaikan kembali ingatan itu, menepis prasangka de javu. Aku memilih mengeluarkan laptop, dan memulai niatku semula ketika datang ke warung kopi ini. Untuk mengerjakan laporan terkait pekerjaan.

Kukeluarkan dari tas laptop yang telah berusia lebih dari lima tahun. Melihatnya dengan sedikit iba. Agak kasihan juga laptopku, setua ini harus masih menanggung beban untuk memuat segala beban pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawabku.

Segera kunyalakan laptop itu setelah kabel pengisi dayanya tertancap pada colokan listrik. Lapotopku sudah aus baterainya, dan tak bisa hidup jika tak terhubung dengan aliran listrik secara langsung. Aku kembali mengambil sebatang rokok setelah menandaskan batang pertama pada asbak. Menyulut, dan menghembuskan asapnya perlahan.

“Maaf.”

Sebentuk suara hampir membuatku tersedak asap. Perhatian dan konsentrasiku sedang ada pada laptop dan rokok. Aku tak sempat lagi memperhatikan keadaan sekitar. Aku mendongakkan kepala. Perempuan yang tadi sempat melihat ke arahku dan aku sempat membalasnya dengan menatapnya secara seksama, kini berada di seberang tempat aku duduk. Dia berdiri menatap ke arahku dengan mengulas sebentuk senyuman.

“Emmm, silahkan. Ada yang bisa saya bantu?” Aku mencoba menjawab kata pertamanya, dengan sebisa mungkin menekan kekagetan.

“Sendirian?” Perempuan dengan kerudung berwarna cerah itu bertanya perlahan.

“Iya.” Aku menjawab singkat, namun dengan tetap mencoba ramah.

“Boleh saya duduk disini.” Katanya sembari menunjuk kursi yang tepat berada di depanku, pada satu meja yang sama.

“Silahkan.”

“Tidak mengganggu?”

“Tergantung.” jawabku.

“Maksudnya?”

“Tergantung anda mau ngapain duduk disitu. Kalau mau bakar meja tentu saja saya merasa terganggu.” jawabku.

Perempuan itu tertawa, “Panggil saja saya Any.”

“Ani?”

“Iya, Any.” jawabnya sembari menarik kursi dan kemudian duduk.

“Any pakai ‘i’ atau ‘y’ huruf paling belakang?”

Perempuan itu kembali tertawa, kali ini cukup keras sehingga menarik perhatian beberapa orang disekitar kami.

“Anda cukup detail. Any, pakai huruf ‘y’.” jawabnya.

“Ohh, oke.” aku menjawab singkat.

“Tetapi semoga kamu tidak keberatan kalau saya tidak menyebutkan nama?” aku menatap perempuan itu.

“Oooh, tidak masalah. Bolehkah saya memanggil dengan sebutan Bung?” jawabnya sembari melontarkan kalimat penawaran.

‘Bung’. Aku kembali merasa de javu kali ini. Terutama pada lelaki berjaket jeans sedikit belel itu.

“Boleh saja, silahkan.” aku menjawab setelah menguasai keterkejutan yang kesekian kali.

“Bung, bolehkah aku bercerita?” katanya sembari menatap tajam ke arahku.

Apa-apaan dunia ini. Jalan cerita semacam apa yang sedang kulakoni. Kali ini aku kembali terkejut.

“Mungkin memang lebih baik kalau aku tidak tahu namamu, Bung. Tetapi perihal namaku, itu nama asli. Silahkan panggil saja kalau kebetulan kita nanti bertemu lagi.” katanya.

“Ooh, ya. Tetapi kamu tidak keberatan, Any, kalau aku mendengarkan sembari menyelesaikan pekerjaan?”

“Ooh tidak masalah, justru juga suatu kebetulan yang baik. Aku takkan merasa terbebani dengan keadaan ini. Keadaan bercerita ini maksudnya.”

“Oke, silahkan, apapun yang akan kamu ceritakan.”

Any mulai bercerita. Akan kubagikan untuk kalian. Any tidak berpesan apapun baik sebelum, ketika, atau sesudah bercerita. Baik pesan mengenai kerahasiaan cerita, atau apapun itu. Maka aku akan membaginya untuk kalian. Bisa sebagai teman untuk menemani makan siang, atau sebagai selingan karena jenuh dengan pekerjaan.

Nanti, kata ‘aku’ yang kupakai, adalah representasi Any. Perempuan yang kutaksir usianya tiga atau empat tahun lebih muda dariku. Tapi entahlah, semakin beranjak tua, semakin aku merasa bahwa orang-orang baru yang kutemui semuanya lebih muda dariku.

Baiklah, simak cerita Any dibawah ini.

*****

Aku pernah mengenal seorang laki-laki. Mengenalnya dengan baik. Padahal, perkenalan kami diawali dengan sesuatu yang kurang baik. Perkenalan kami diawali pada suatu toko swalayan modern. Waktu itu, aku berada dibelakangnya ketika mengantri untuk membayar.

Kau tahu, Bung, laki-laki itu sungguh menarik. Baik dari penampilannya, atau dari gestur tubuhnya. Laki-laki itu tak menunjukkan rasa gentar, bahkan ketika uangnya kurang ketika akan membayar.

-Any tertawa kecil, sebelum kemudian melanjutkan ceritanya-

Ia membeli beberapa barang, dan ternyata uangnya kurang. Yang membuatku tertarik, laki-laki itu sama sekali tidak gugup. Ia hanya meminta maaf pada petugas kasir, dan kemudian berniat untuk mengembalikan beberapa barang ke rak asal. Entah kenapa juga tiba-tiba aku menawarkan untuk membayar belanjaannya. Itu terjadi saja tiba-tiba Bung, ketika lelaki itu berbalik untuk mengembalikan barang yang akan dibelinya.

Awalnya ia menolak, tetapi pada akhirnya ia mau, namun dengan syarat. Bahwa apa yang akan kubayar, akan dihitungnya sebagai semacam utang.

Ketika berada diluar toko, ia menyampaikan perihal utang itu. Ia meminta nomor rekeningku untuk mentransfer sejumlah nilai yang menjadi barang belanjaanya. Aku menolak, dan sebagai ganti ia meminta nomor teleponku. Aku memberikannya.

Entah saja, aku memberikannya. Setelah itu, kami sering bertemu.

Kau tahu, Bung. Bahkan laki-laki itu menganggapku sebagai seorang pacar. Jujur saja, aku terkejut. Aku memang menyayanginya. Sudah kusampaikan, ia sangat menarik, bahkan ketika baru pertama aku melihatnya. Dan ketika semakin aku mengenalnya, aku semakin tertarik padanya. Baik pada penampilan, terlebih lagi pada kepribadian juga jalan pikirannya.

Belum pernah aku menjumpai seorang laki-laki seperti itu.

Tetapi menganggapku sebagai pacar…?

Kau tahu Bung? Pernah suatu waktu dia tiba-tiba meneleponku dan mengajak bertemu. Dia hanya berpesan agar aku naik ojek saja dengan membawa helm sendiri. Dia menyebutkan suatu tempat sebagai tujuan pertemuan kami. Tetapi ketika sampai disana, ternyata bukan tempat itu tujuan akhir kami.

Lelaki itu —yang aku sangat menyayanginya—, sudah menunggu dengan membawa sebuah sepeda motor. Kami berboncengan dan pergi ke suatu tempat yang aku tak pernah bayangkan sebelumnya. Bahkan baru dalam perjalanan itu aku takkan pernah melupakannya. Suara motornya sangat keras, seperti suara helikopter, dan terkadang terasa seperti akan macet.

-Any tertawa kecil, namun pandangannya jauh menerawang. Sejurus kemudian sesungging senyum terhias di wajahnya-

Setelah sekira perjalanan satu setengah jam, kami sampai ditempat yang dia maksudkan. Sebuah bukit tepat di tepi laut. Sore itu cerah, meski beberapa gumpal dan semburat awan hitam menggantung. Matahari sudah mulai bersiap untuk beristirahat di ufuk barat. Bung, aku takkan mendefinisikan arti kata romantis pada sore yang akan kuingat sepanjang hidupku itu.

Motornya yang bersuara seperti helikopter ia parkirkan tepat di tepi tebing. Dia duduk diatas jok motornya, aku berdiri tepat disebelahnya. Lelaki itu meraih tanganku, menggenggamnya erat, dan dengan lembut menarikku, memelukku. Seketika matahari terasa meredup, dan menyelimuti kami dengan kehangatan khas menjelang senja. Bung, andai aku mempunyai dua dimensi waktu dalam satu dunia dan satu waktu kesempatan hidupku….

-Pandangan Any semakin terlihat jauh menerawang, kali ini sendu menghias raut wajahnya, menggantikan seulas senyum yang sempat ada-

Kau tahu Bung, dia membayar lebih jauh lebih banyak dari hutang yang dia maksudkan. Dia hanya pernah menyampaikan sebelum berpisah pada pertemuan kami, bahwa dia meminta nomor hapeku, agar bisa membayar hutangnya, pun andai bukan dengan uang, dia akan membayarnya dengan hal lain. Dan hal lain itu, jauh lebih abadi dari berbagai macam harta benda maupun nominal uang.

Acapkali bersamanya, aku lupa terhadap hal-hal lain. Selalu hanya ada kegembiraan, dan juga kebahagiaan. Penggal-penggal waktu itu terasa seperti sepotong hadiah dari Tuhan untukku. Mungkin hadiah yang tepat, di waktu yang salah….

Kepribadiannya dalam hidup keseharian, membuatku banyak belajar, —bahwa hidup adalah perjuangan—, bukan yang lain.

Perjuangan untuk menggapai apapun, atau menjalani apapun. Hidup bukan sekadar menengadahkan tangan dan menunggu nasib menggores lembar cerita kehidupan kita. Nasib hanya menuliskan apa yang sudah dan akan kita lakukan, bukan sebaliknya. Setidaknya itu yang aku pelajari darinya, lelaki yang aku bersumpah sangat menyayanginya.

Dia berkali mengatakan bahwa sangat mencintaiku, dan aku membalas dengan mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Aku yakin, hingga kelak sudah sampai pada helai nafasku yang terakhir, aku takkan pernah mengenal lelaki semacam itu lagi. Seseorang yang selalu yakin untuk berjuang, meski terjal jalan yang dihadapinya.

-Any tersenyum dengan sorot mata kosong-

Sayangnya, Bung. Ada kesalahpahaman kecil diantara kami.

Dan sepertinya, dia menimpakan kesalahpahaman itu, sebagai hukuman untukku. Aku menerimanya Bung, menerima hukuman itu. Meski sebenarnya aku juga tak seratus persen bersalah. Aku sudah sampaikan perihal diriku, apa adanya, semuanya, dan mungkin dia lupa.

Dia selalu mengatakan, bahwa mendadak semua hal terlupakan ketika sedang bersamaku. Dan mungkin dia juga lupa dengan semua hal yang aku ceritakan tentang diriku, kondisiku, dan latar belakangku.

Aku pernah ceritakan itu, ketika mengantarnya menuju Temanggung. Dia sedang ada pekerjaan disana, dan aku menawaran diri untuk mengantarnya. Awalnya dia menolak, namun akhirnya mau menerima. Pada perjalanan itu, aku sempat bercerita dan mengatakan secara jujur keadaanku. Tetapi mungkin dia lupa….

Karena sebab itu, karena kondisiku, maka aku selalu mengelak ketika dia meminta agar aku menjadi pacarnya. Pun, aku tak pernah melarang menganggapku sebagai pacarnya. Mungkin aku jahat, tetapi aku tak ingin kehilangan tawa dan genggam erat tangannya. Juga disisi lain sebenarnya, aku bersyukur ketika dia lupa tentang segala apa yang kuceritakan mengenai kondisiku.

Aku menikmati segala perhatian darinya, kasih sayangnya, juga semua canda tawa yang selalu ada ketika kami bersama.

Mungkin aku jahat, ketika dia selalu berharap bahwa hubungan kami bisa menjadi sedikit ‘lebih serius’, tetapi aku selalu mengelak dan menolak.

Namun akhirnya hukuman itu datang juga padaku, Bung….

“Di meja itu…”

-Any mengatakan itu sembari mengarahkan pandangannya ke suatu meja, disamping tempat kami duduk. Meja yang tadi ditempatinya-

*****

“Aku harus pergi, Bung.” katanya sembari melihat ke arahku.

“Lhoh, sudah selesai ceritanya?” aku menjawab sembari menyeringai. Agar terkesan aku tak terlalu menyimak ceritanya.

“Yup, sudah. Dan kurasa, aku sudah terlalu banyak menyita waktumu untuk mendengarkan cerita yang tak bermutu itu.” jawabnya.

“Ah, waktuku banyak. Lagipula lumayan juga duduk ngopi, merokok, sembari mendengarkanmu bercerita. Seperti mendengarkan radio.”

Any tertawa, dan kemudian berdiri sembari mengulurkan tangannya.

“Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, Bung. Aku selalu ingin menceritakan hal itu, lelaki itu, kepada seseorang. Namun aku takkan mungkin bercerita pada orang-orang yang sudah aku kenal.” Any masih tersenyum.

Aku membalas uluran tangannya, kami berjabat tangan, “Sama-sama, aku juga berterima kasih karena telah menemaniku bekerja sembari didengarkan cerita.”

“Namun bolehkah aku berkomentar?” kataku.

“Apa? Silahkan saja.”

“Mungkin jika kamu sudah jujur, dan lelakimu itu ternyata lupa, kamu harus mengingatkannya. Apalagi jika maksudmu, kejujuranmu itu, terkait dengan statusmu yang tak lagi sendirian. Misalnya kamu sudah punya pacar, atau bahkan bersuami.”

Wajah Any mengisyaratkan kekagetan mendengar kalimatku. Namun dia segera menguasai lagi perasaannya, dan berbalik beranjak pergi.

Aku kembali menyulut sebatang rokok, dan memanggil pegawai warung kopi untuk memesan secangkir kopi robusta. Aku bersimpati pada kepahitan dalam cerita itu, maka aku memesan secangkir kopi robusta yang cenderung lebih pahit daripada arabika.

Aku kembali memandang meja disebelahku, dan juga kembali teringat pada laki-laki berjaket jeans sedikit belel dengan ornamen bordir hiasan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)