Selama Masih Ada Kendang, Semua Akan Baik-baik Saja

Selama masih ada kendang, dunia akan baik-baik saja. Tak akan ada perang, yang ada adalah kedamaian. Percayalah.

Tahu kenapa semenanjung Korea itu selama puluhan tahun selalu mencekam? Perang, wajib militer, nuklir, adalah frasa yang akrab di telinga dan bibir penduduknya.
Kenapa coba?
Karena tak ada kendang di sana.

Tahu kenapa semenanjung Arab itu selalu bergolak, bahkan dari semenjak abad-abad yang lalu? Darah, kekuasaan, sakit, adalah frasa yang akrab dengan daerah di sana.
Kenapa coba?
Karena tak ada kendang di sana.

Tanpa kendang, urat syaraf mereka kencang-kencang, dan sama sekali tidak bisa kendor dan memikirkan segala sesuatunya dengan kepala dingin dan dada yang lapang. Tanpa kendang, tak ada instrumen untuk menggoyang dan menghentakkan kaki mengikuti irama ritmis perdamaian.

Kendang adalah kuntji.

Kendang melahirkan nada-nada dan kesenian yang tak lekang oleh perselisihan.

Lihat saja dangdut, jathilan, atau bahkan koplonan. Semua menyenangkan.

Silahkan dilakukan survey, siapapun yang menikmati alunan kendang, entah pada dangdutnya Bang Rhoma, dangdutnya Nella Kharisma, atau juga jathilan, mereka adalah orang-orang yang cinta damai.

“Joget saja enak kok, ngapain perang.”

Mereka yang urat syarafnya tegang, yang suka ngotot memaksakan pendapat, pasti tidak suka alunan kendang. Percayalah.

Tidak percaya?
Buktikan besok kalau bulan Ramadhan, mereka yang ngotot marah-marah warung harus tutup, silahkan ditanya suka joged jika ada kendang ditabuh atau enggak. Saya sih yakin, enggak.

Orang-orang yang suka dengan alunan kendang, adalah orang yang selow, tetapi tidak gampangan. Orang yang menikmati kehidupan. Orang-orang yang berani menghadapi dan melawan kehidupan dengan goyangan.

Alih-alih menghadapi kehidupan yang keras dan kadang tidak bersahabat dengan marah-marah, atau menunduk menangis mengelus dada, orang-orang yang menyukai alunan kendang akan memilih bergoyang.

Kendang adalah oase nikmat di tengah gersangnya dunia dari hiburan.

Tak usah mencari rujukan dari berbagai macam penelitian, mengenai hubungan antara alunan nada kendang dan pengaruhnya terhadap para pendengarnya. Apakah benar-benar mereduksi sifat agresif, atau hanya bualan saya saja.
Tak usah sedikit-sedikit manut dan percaya penelitian dari ahli-ahli atau universitas terkemuka. Teliti saja sendiri, amati dengan mata kepala sendiri. Lantas buat kesimpulan sendiri.

Hidup cuma sekali kok manutan.

Saya sendiri kenal beberapa orang yang kalau hanya melihatnya sekilas, sudah pasti dapat disimpulkan orangnya suka kekerasan. Tetapi bahkan salah satu orang itu, kawan saya, begitu mendengar suara kendang, bibirnya akan lekas mengembangkan senyum. Selanjutnya? Dia akan tertawa serta berjoget.

Sama sekali tak ada sifat menyukai kekerasan dari orang-orang bertampang sangar itu, kecuali kalau sudah menyangkut harga diri ya.

Mereka lebih suka berjoget daripada memuncratkan ludah beradu argumen yang terkadang tak berujung dan hanya menimbulkan perselisihan.

Lhah?
Lantas bagaimana dengan pentas dangdut yang lebih dari lima puluh persennya menimbulkan kericuhan?

Kericuhan tak hanya ada di pentas dangdut, bung dan nona.

Lagipula itu hanya kericuhan, bukan tindak-tindak kriminil yang berujung pada kekerasan atau bahkan perang. Sama sekali tidak. Lagipula hampir seratus persen kericuhan di pentas dangdut dipicu oleh pengaruh minuman keras. Mabuk, dan kemudian lepas kontrol. Bukan karena memang keinginan untuk berbuat kericuhan.

Nah, berarti menyebabkan orang mabuk dan berbuat kericuhan kan?

Daripada mabuk kekuasaan dan membuat perpecahan?

Pilih mana?
Jelas pilih kumpul-kumpul dan joget bersama donk?

Hampir bisa dipastikan juga kalau elite politisi yang suka membuat gaduh itu tidak menyukai alunan kendang dan apalagi dangdut atau jathilan. Sebab mereka sama sekali tidak bisa dikategorikan sebagai orang selow yang lebih suka joget daripada membuat kegaduhan.

Kalau ada yang menyaru dengan gaya joget-joget, saya pastikan juga itu hanya gimmick belaka.

Tidak percaya?
Teliti lah secara mendetail dan mendalam.

Tipologi manusia yang menyukai kendang tidak menyukai kegaduhan yang mengarah pada perpecahan dan permusuhan. Lebih baik energi digunakan untuk berjoget dan mengikuti ritmis alunan kendang.

Lhah, di Afrika itu ada kendang, tetapi kok perang?
Lhah ya karena disana kendangnya untuk pengantar sebelum perang kok. Bukan untuk njathil atau apalagi ndangdutan.

Coba saja ada duta dangdut atau kendang ke daerah konflik di Afrika, saya yakin akan cukup bisa mereduksi tindak kekerasan dan potensi perang. Mungkin Bang Rhoma dan Soneta Grup berkenan?
Siapa tahu kalau berhasil akan memperoleh Nobel Perdamaian.

Kok nyuruh Bang Rhoma?
Kok tidak anda sendiri?

Wah ya mbok jangan kebangetan goblognya. Kalau saya punya uang, saya sudah ke Afrika membawa kendang untuk ndangdutan di sana. Ndak usah disuruh-suruh juga.

Berjoged dengan nikmat sembari kepala bergoyang menikmati alunan kendang, menghayatinya, adalah penyerahan total kepada fitrah dasar manusia. Yak, fitrah dasar manusia adalah bergoyang sembari kaki menghentak. Tak percaya lagi?
Silakan tanya ibu-ibu hamil, kok bayi menendang-nendang?
Bukan memukul-mukul, apalagi ini :
“Duh, bayi dalam perut kok kayak mau nembak-nembak.”

Gak mungkin, pasti menendang-nendang.
Belum lagi kalau lahir, pasti kakinya menendang-nendang sembari menangis.

Dan itu sebenarnya bukan menangis. Itu sebenarnya menyanyi, tetapi karena perbendaharaan nadanya masih belum lengkap, yang keluar adalah suara tangisan menurut sudut pandang manusia dewasa.

Padahal begitu lahir sebenarnya, bayi manusia itu bernyanyi, sembari kakinya menghentak-hentak

Lebih jelasnya ia menyanyi dangdut, koplo pula. Ealah ga percaya.

Dengarkan baik-baik kalau ada bayi baru saja lahir, pasti ia sedang berdendang :

//Dudu klambi anyar sing neng njero lemariku,
Nanging ndonya anyar, sik mbok pamerke neng aku//

Itu judulnya “Pamer Ndonya Anyar”.

Nah kan, selama masih ada kendang, dunia akan baik-baik saja.

Bersyukurlah anda hidup di Indonesia, dengan ragam macam kendang dan langgam nadanya. Dengan itu, perdamaian masih akan selalu ada dan terjaga.

Yang perlu anda khawatirkan, adalah ketika kelak kendang mulai diharamkan. Karena dengan itu, perdamaian juga akan mulai terancam.

Maka selama kendang masih halal, lestarikan. Dan seharusnya anda bangga ketika ada alunan nada kendang, kaki anda ikut bergoyang. Karena itu berarti anda juga ikut menjaga perdamaian.

Selamat bergoyang..OAA OEEE…..

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

37 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *