Selamat Hari Ibu Untuk Mamak

Di Indonesia, seharusnya masih besok [22 Desember] diperingati. Hari ibu. Hari untuk mengingat ibu, atau hari untuk menghormati ibu?

Atau sebenarnya sekadar untuk monumentasi saja? Karena menghormati dan menyayangi ibu seharusnya selalu konstan, dari waktu ke waktu, dalam ruang-ruang yang tak tentu.

Ruang yang tak tentu, karena semestinya memang tak ada ruang, tak ada sekat, bahkan tak ada dimensi apapun yang kita jadikan alasan untuk tidak menghormati ibu. Apapun alasannya.

Tetapi hari ini saya mengunggah tulisan mengenai ibu, bukan besok. Saya terbiasa prematur untuk hal apapun. Termasuk ketika mengucapkan dan merayakan sesuatu. Tak mesti tepat pada tanggal atau waktu monumentasinya. Terkadang terlambat, namun lebih sering terlalu cepat.

Berbahagialah anda yang mempunyai ibu. Mempunyai sosok yang anda panggil ibu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, semenjak anda kecil.
Saya tak mempunyai seseorang yang harus saya panggil dengan sebutan ibu, semenjak kecil.

Lantas apakah saya tidak bahagia?

Justru saya sangat bahagia karena tak memanggil orang yang melahirkan saya dengan kata ibu. Berbeda dengan kebanyakan kawan atau orang lain. Saya memanggilnya, Mamak. Perempuan yang melahirkan saya. The one and the only, Mamak.

Seorang perempuan super.

Jelas saya harus menyematkan kata super itu. Kalau tidak super, jelas Mamak tidak akan mampu mengasuh, membimbing, mendidik, dan menemani makhluk semacam saya ini. Makhluk yang sampai berusia lebih dari kepala tiga masih juga sering merepotkannya. Merepotkan dalam ucapan, tindakan, maupun perbuatan.

Sudah sering saya menuliskan mengenai keluarga. Baik bapak, mamak, atau adik-adik saya yang dua orang itu.

Bagaimana saya menjelaskan dan mendeskripsikan tentang mereka, terutama Mamak.

Maka saya tak harus mengulang-ulang untuk menuliskan sesuatu yang sama untuk kesekian kali. Toh mau saya tuliskan seperti apapun, 96,45% Mamak tak akan membaca tulisan saya ini.

Hanya ada peluang 3,55% bahwa Mamak akan membaca tulisan saya ini. Tetapi justru karena itu, saya bisa bebas menuliskan tentang beliau. Tanpa tendensi bahwa saya akan dimarahi, atau ditangisi [karena mungkin terharu?].

Mamak saya adalah jenis manusia super yang tahan banting. Dalam artian harfiah maupun istilah. Benar-benar tahan banting. Mamak baru akan benar-benar tidak menyiapkan segala keperluan keluarganya terutama kami anak-anaknya, jika tidak benar-benar kesulitan untuk sekadar bangun dari tempat tidur. Ketika vertigonya kambuh, atau maag nya yang kambuh.

Mamak akan selalu siap sedia mengurusi segala keperluan kami, bahkan ketika kami sudah beranjak dewasa [menua], seperti sekarang ini.

Fisiknya sudah semakin ringkih, tetapi yang bisa saya rasakan, jiwa dan mental Mamak justru semakin tangguh.

Bagaimana tidak tangguh, bahwa diusianya yang sudah semakin beranjak sepuh, Mamak harus menghadapi kenyataan bahwa salah satu anaknya harus bekerja jauh dari rumah. Setelah anak keduanya, kini anak pertamanya.

Tetapi apakah anda tahu kalimat apa yang diucapkan Mamak ketika saya untuk pertama kali mengutarakan niat bahwa akan berpindah kerja keluar kota?

“Orapopo, watone kowe seneng le nglakoni, nyaman le njalani.” [Tidak apa-apa, asalkan kamu senang melakukannya, dan nyaman menjalaninya].

Jawaban itu saya dapatkan tepat tiga hari selepas hari raya Idul Fitri, beberapa bulan yang lalu. Ketika pada akhirnya saya berani untuk mengungkapkan, dan meminta ijin, perihal niat untuk berpindah kerja keluar kota.

Pada awalnya, saya menyangka bahwa kalimat pertama dari Mamak adalah pertanyaan. Tentang alasan kepindahan saya.

Tetapi tidak, bahkan Mamak tidak bertanya tentang alasan kepindahan saya. Beliau hanya menyampaikan hal tersebut, bahwa tak mengapa jika saya harus atau menginginkan pindah. Asalkan saya senang dan nyaman menjalaninya.

Seketika itu juga justru kerongkongan saya yang tercekat, dan tak mampu lagi untuk meneruskan kata-kata, selain hanya mengangguk mendengarkan kata-kata beliau. Sebisa mungkin air mata saya tahan dan perintahkan untuk jangan dulu bergulir jatuh, meski sudah terasa berat dan panas.

Saya tak ingin timbul rasa gusar dan penasaran dari Mamak, kenapa saya menangis.

Meski saya rasa tak mengapa juga jika saya menangis seketika itu juga. Sudah sering saya menangis di pelukan Mamak. Jika hidup sudah terasa demikian sesak dan penat, tempat pertama yang akan saya kunjungi untuk meringankannya adalah kedua kaki Mamak.

Beliau akan memeluk saya, mengusap kepala saya, sedangkan kepala dan sebagian tubuh saya rebah dipangkuan kedua kaki beliau. Seketika, lepas semua perasaan berat dan penat.

Sampai sejauh ini, Mamak adalah alasan terbesar bagi saya untuk berani menjalani hidup dengan berpegang teguh pada prinsip. Bukan hanya sekadar menjalani hidup dan terombang-ambing kesana kemari tanpa memiliki prinsip dan pegangan yang kuat.

Mamak selalu mempercayai saya. Selalu percaya bahwa apapun yang saya putuskan adalah keputusan terbaik, maka beliau selalu mendukung.

Bahkan semenjak sekolah, kuliah, Mamak tak pernah memaksa saya untuk bersekolah di sekolah tertentu, atau kuliah dengan mengambil jurusan tertentu. Tak pernah. Mamak selalu percaya bahwa saya mampu mengambil keputusan terbaik.

Dan saya akan selalu mampu mengambil keputusan-keputusan, dengan tak asal, dengan suatu pertimbangan, karena percaya bahwa Mamak akan selalu mendukung dan mendoakan.

Mamak adalah alasan bahwa saya tak menyesal dengan pilihan-pilihan yang sudah saya ambil, karena Mamak akan selalu dibelakang saya.

Saya tak membutuhkan orang-orang hebat, kuat, bahkan sakti untuk menguatkan langkah. Saya hanya membutuhkan senyum Mamak untuk menyokong satu per satu langkah kaki saya yang rapuh. Tak lain dan tak lebih.

Cukup dengan senyum Mamak, maka kaki kecil dan rapuh saya akan mampu melangkah menjangkau tempat-tempat jauh, jalan-jalan terjal, dan waktu-waktu yang samar. Akan mampu menerobos ruang-ruang yang gelap dan pengap.

Selamat Hari Ibu, Untuk Mamak.

Maafkan jika sampai sejauh ini, anakmu belum bisa mengabulkan harapan-harapan, atau menghadirkan kebahagiaan-kebahagiaan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *