Selamat Jalan Kawan, Sahabat, Saudara

Arfyn, berkaus hitam.

“Ape meninggal cok.”

Itu adalah salah satu pesan yang dikirim kawan saya via WA, beserta banyak pesan lain serta panggilan tak terjawab yang dia kirimkan karena saya tak kunjung membalas. Saya sedang bersepeda, dan tak sempat membuka hape. Hape baru saya buka setelah sampai pada tujuan, dan seketika itu pula mendadak membuat tenggorokan dan dada terasa sakit.

Pikiran saya mendadak melayang kepada Ape (begituah sebagian besar dari kami memanggilnya), dan oleh sebab itu jelas bahwa pandangan saya kosong dan melayang. Istri yang menemani bersepeda bertanya kenapa, dan saya hanya bisa menjawab dengan suara yang tercekat nyaris tak keluar : “Arfyn meninggal.”

Nama aslinya Arfyn, dan kebanyakan kami memanggilnya Ape. Anggap saja itu panggilan kesayangan karena ia memang sangat karib dengan kawan-kawannya, dan mungkin juga dengan saya. Maka ia tak keberatan kami memanggil bukan dengan nama aslinya.

Sepagi itu di Candi Banyunibo mendadak saya merasa linglung. Istri saya tahu persis bahwa saya tak mempunyai banyak teman, maka kehilangan satu teman tentu adalah pukulan telak yang membuat saya limbung. Istri segera menawarkan kepada saya untuk pulang, agar saya bisa bergegas melayat ke rumah duka.

Sepanjang perjalanan pulang bersepeda itu, hanya penyesalan demi penyesalan yang bergelayut dalam pikiran saya. Bahwa ada satu permintaan sederhana dari almarhum yang belum saya sanggupi. Berkali-kali Arfyn meminta untuk sekadar bertemu dan ngobrol sembari ngopi, tetapi berkali itu pula saya belum mampu menyanggupinya. Hanya sekadar bertemu untuk berbincang sembari ngopi, dan saya tidak sanggup berjanji. Sampai kemudian Arfyn pergi.

Saya tahu persis bahwa Arfyn adalah orang baik dan pemaaf, maka saya yakin ia sudah memaafkan saya yang sampai saat ini belum membersamainya ngopi. Sejauh itu saya meyakini bahwa ia orang baik, karena saya masih ingat satu nasihatnya ketika kami masih duduk di kelas 1 SMA. Nasihat yang ia utarakan atas dasar kepedulian, bahkan ketika kami masih belum jauh untuk saling mengenal. Nasihat itu selalu saya ingat dan saya pegang sampai sekarang.

Mungkin sembari menulis ini Arfyn menemani dan melihat saya sembari tertawa. Tawanya yang khas masih melekat erat di gendang telinga.

Saya banyak belajar dari Arfyn, terutama perihal untuk tak menyerah dengan kehidupan. Bertahun-tahun selama SMA Arfyn berjuang melawan sakit yang mengharuskannya menambah darah minimal satu bulan sekali. Dan sekian belas tahun selepas SMA, ia masih sehat serta bersemangat serta lepas dari kebiasaannya ‘meminum’ darah itu. Ketika sempat lama tak bersua dan saya menanyakan tentang sakitnya itu, ia sampaikan bahwa sudah lepas kebiasaan ‘minum’ darah itu, dan saya sempat tertegun sebelum kemudian menepuk pundaknya. Tepukan pada pundaknya bukan saya tujukan untuk Arfyn, tetapi lebih ditujukan untuk saya sendiri agar tak cengeng menjalani hidup. Arfyn mengajarkan itu bukan hanya dengan kata-kata.

Kalau anda sama seperti saya —tidak mempunyai banyak teman—, maka anda akan merasakan betapa kehilangannya ditinggalkan oleh salah seorang teman baik yang pernah ada.

Ketika tadi Bayek —kawan yang memberi kabar bahwa Arfyn meninggal— mengajak untuk mengantar Arfyn sampai ke makam, saya menolak. Bukan karena saya tak menghormati Arfyn dengan hanya melepasnya masuk ke dalam mobil ambulan, tetapi saya terlalu rapuh untuk sanggup mengantar sampai ke rumah terbaiknya. Saya tak pernah sanggup mengantar teman, kawan, sahabat yang sudah seperti saudara sampai ke rumah terbaiknya. Setahun yang lalu, saya pun juga tak sanggup mengantar salah seorang kawan baik yang juga meninggalkan saya terlalu cepat.

Saya hanya bisa berdoa dan sekaligus meyakini bahwa Ibu Bumi sudah menerima, memeluk dengan hangat, dan kembali mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Saya yakin bahwa Arfyn sudah sampai pada salah satu checkpoint membahagiakan dalam ritus hidup manusia. Sudah jauh lebih beruntung dan berbahagia daripada kami yang ditinggalkannya.

Kelak jika kembali bertemu, maka yang pertama akan saya lakukan adalah memeluk dan meminta maaf kemudian mengajaknya ngopi seperti rencana kami yang belum terlaksana.

Tetapi kini sebelum Pemilik Semesta menjadwalkan saya untuk menyusulnya, saya akan menjalani hidup sepertinya. Hidup dengan tidak mudah menundukkan kepala dan apalagi menyerah. Hidup dengan penuh optimisme serta semangat.

Terima kasih untuk hal-hal baik dan luar biasa yang sudah kau ajarkan, selamat jalan kawan sahabat saudara.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

17 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *