SELAMAT JALAN, KAWAN

//Kowe lungo pas aku sayang-sayange…

Hampir saja bulir air mata menetes ketika melihat kedip lampu belakang ‘my lovely fucking red‘ Great Corolla saya (mantan) menyala di kejauhan. Mungkin terakhir kali saya akan menatapnya dengan kesengajaan. Sebelumnya, saya nyalakan mesin fucking red, duduk di belakang kemudi yang hampir tiga tahun setia menemani, dan saya bisikkan sedikit kata perpisahan.

Sore kemarin saya mendapat kabar dari peminat red, bahwa red akan dijemput selepas Maghrib. Segera saya mengambil kunci, membuka kerudung yang menutupi Corolla tua kesayangan itu, dan sejenak menatapnya dari belakang hingga ke depan. Begitu membuka pintu untuk menghidupkan mesinnya, sejenak saya merasa ada sesuatu yang tajam masuk ke dalam kerongkongan, perlahan turun ke rongga dada, dan berhenti disana. Sesak, sekaligus perih.

Pertemuan pertama saya dengan red terjadi pada bulan Maret tahun 2016. Ketika itu saya memang membutuhkan kendaraan untuk rutin dipergunakan mengantar bapak mertua berobat.

Red saya pinang, dari seorang penjual, yang uniknya ternyata hanya bertetangga dengan bapak mertua, beda RT. Sebelumnya, saya sempat mencari kesana kemari, dari berbagai iklan dan referensi, namun tak ada yang cocok (cocok di dompet maksudnya).

Dari niat awal hanya sekadar untuk mengantar berobat, lambat laun saya pun mulai jatuh hati pada bajingan tua itu.
Ya, harus saya akui bahwa red memang bajingan tua yang menyenangkan.

Baru beberapa hari menikmati kebersamaan, ia berulah dengan ban yang seringkali kempis. Dan saya harus mengalah memberinya empat ban baru sebagai sepatu (ban second tapi).

Selesai dengan ban, audionya mendadak bisu. Lagi-lagi saya harus memberi pengobatan yang layak untuknya.

Selesai dengan audio, selang beberapa bulan, red kembali berulah dengan tuas wipernya yang korslet. Begitu mesin menyala, wipernya akan langsung ikut menari ke kiri dan ke kanan. Terang saja saya menyumpahinya dengan sepenuh hati dan tenaga. Sempat seorang tetangga membantu, dan cukup untuk membuat wiper itu berhenti bergoyang sendiri seperti orang dimabuk koplo. Tak ada tuas baru yang tersedia di toko sparepart. Para penjual sparepart bekas di pasar klithikan Solo juga tak menyediakan. Saya harus order pada seorang penjual sparepart eks Singapura atau Malaysia di Batam. Harganya cukup lumayan. Tetapi demi wiper red agar tak lagi ayan, saya rela.

Setelah itu drama demi drama selalu tertulis diantara kami. Pernah red saya tendang sekeras mungkin pada rodanya, gegara kumat perihal ban bocor. Dia diam saja, sedang saya misuh-misuh kesakitan. Ban bocor kembali terus berulang, bahkan bisa sampai dua kali dalam seminggu. Akhirnya saya mengalah membelikannya empat ban baru (bukan second).

Yang paling teringat tentu ketika menjelang pernikahan adik saya. Red saya gadang-gadang bisa menemani dan membantu mengurus segala keperluan yang memerlukan kendaraan, tetapi apa daya, baru juga saya sampai di Banteran, red kembali mengalami masalah. Ternyata ada korsleting kabel. Saya misuh lagi, karena sebelumnya ia memang baik-baik saja. Akhirnya sama sekali red tidak membantu ketika pernikahan adik saya berlangsung, karena ia harus seminggu berada di bengkel untuk penggantian kabel yang cukup rumit.

Hampir semua bagian pada badan tubuh red, pernah mengalami kerusakan yang membuat saya mengumpat tak habis-habis. Selalu berganti satu ke yang lain. Selesai yang satu, pindah ke yang lainnya. Mulai dari radiator, master rem, master kopling, sampai dengan delco atau pengapian. Semua saya ganti dengan part asli dan terbaik. Tak pernah ada niat untuk berpisah dengan red, sebenarnya.

Tetapi memang romansa kebersamaan antar makhluk hanyalah fana, dan perpisahan adalah keabadian yang selalu menang pada tiap-tiap cerita.

Meski sering membuat jengkel, red adalah cinta pertama saya kepada benda bernama mobil. Ia menjadi anomali terhadap saya yang sebenarnya mabuk terhadap kendaraan roda empat. Bersama red, saya merasakan kenyamanan yang terkadang tak pernah saya dapatkan dari mobil lansiran terbaru. Dengan segala keterbatasannya, red membuat saya nyaman dan menikmati setiap momen yang ada.

Red melindungi saya dari hujan, dengan tubuh rentanya. Mengantar kemana saja saya ingin, dengan bising tua suara mesin. Red melayani saya, sedang saya menyayanginya.

Ah, berlebihan.

Mungkin memang berlebihan. Ia hanyalah benda, hanya gabungan mesin, roda, dan kaleng pembungkus body. Tapi saya terlanjur memberinya nama. Dan perihal nama, tak pernah saya menyematkannya pada sesuatu yang tidak berharga atau istimewa.

Red, ia adalah keistimewaan.
Keistimewaan, kemewahan yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Keniscayaan yang mewujud nyata dari lembah dalam bernama angan. Sebelumnya, tak pernah saya membayangkan akan mempunyai sebuah mobil meski hanya kaleng tua seperti red.

Tetapi apa yang diberikan red jauh melebihi ekspektasi. Jauh melebihi harapan, jauh melebihi angan-angan. Red, lebih dari sekadar kendaraan.

Kemarin sore, hampir saya menangis melihatnya perlahan melaju menjauh pergi. Ada gumpalan menyesakkan yang tak bisa digambarkan dengan kalimat atau kata-kata. Seperti tak ada alasan untuk merelakan.
Jika ada sedikit pelipur, paling tidak kami pernah selalu saling menjaga. Dan saya melepasnya dalam kondisi terbaik. Dalam kondisi dimana ia dalam waktu dekat, takkan menyusahkan sahabat barunya.

Ya, kami pernah menjadi sahabat. Dan semoga saja pemilik barunya juga menganggapnya sebagai sahabat, lebih dari sekadar benda yang hanya bisa diambil manfaatnya.

Selamat jalan red, semoga sehat selalu.
Maaf jika aku takkan merindukanmu. Tapi kamu tahu, aku akan selalu mengenang mu. Kamu yang terbaik, selalu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)