Semar Bumi

Terdapat satu pesan pendek dari WA masuk ke hape saya, ketika sedang duduk sembari ngopi di teras rumah. Bukan (lagi) nomor asing, meski tak ada namanya. Itu adalah nomor yang beberapa waktu lalu pernah mengirim pesan kepada saya. Nomor yang pernah dipakai Gareng, yang katanya adalah milik salah seorang perawat atau tenaga medis di Italia.

Begini bunyi pesan tersebut :

Di dalam kuncung Semar itu, tersemat Mustika Manik Astagina. Tak perlu kujelaskan itu jenis mustika apa, dan darimana Semar mendapatkannya. Tetapi aku ingin sampaikan tentang daya atau khasiat dari mustika itu. Ada delapan daya dari Mustika Manik Astagina atau kuncung Semar itu (karena sudah menyatu) dengan dirinya, yaitu :

  1. Tidak pernah lapar
  2. Tidak pernah mengantuk
  3. Tidak pernah jatuh cinta
  4. Tidak pernah bersedih
  5. Tidak pernah merasa capek
  6. Tidak pernah menderita sakit
  7. Tidak pernah kepanasan
  8. Tidak pernah kedinginan

Berulang kali saya membaca pesan yang tak terlalu panjang itu, bahkan cukup pendek untuk bisa saya baca ratusan kali sembari menghabiskan sebatang rokok.

Tentu saya juga sudah tahu kalau yang mengirim pesan itu adalah Gareng, dan bukan si perawat. Mungkin mereka sedang duduk berdua, dan Gareng (kembali) meminjam hapenya, entah kali ini dengan alasan apa.

Saya tak berniat membalas pesan yang berisi ‘informasi’ itu, mengenai delapan daya dari kuncung Semar. Berulang kali, bahkan ratusan atau ribuan kali saya bertemu dengan Semar —lebih sering daripada saya bertemu dengan Gareng—, namun hanya satu dua kali saya benar-benar memperhatikan kuncungnya. Kuncung yang serupa jambul diatas ubun-ubunnya.

Saya kira dulu kuncung itu berisi uang logam, tetapi ternyata bukan.

Saya beralih membaca berita, menunggu pesan berikutnya dari Gareng. Saya yakin dia akan kembali mengirim pesan, paling tidak penjelasan atau pisuhan-pisuhan. Itu karena dia tahu bahwa saya memang cukup goblog untuk bisa memahami pesan pertamanya itu.

Benar saja, sekira sepuluh menit berlalu, kembali sebuah pesan masuk. Begini pesannya :

Kamu tahu kenapa Semar itu kalau sangat terpaksa harus berkelahi, dia sama sekali tidak mengeluarkan ajian? Paling pwol dia hanya akan kentut saja, dan semua lawannya sudah klenger tak mampu melawan lagi. Bahkan jika dia diserang dengan berbagai ajian dan pusaka sakti oleh lawan-lawannya? Semar tidak akan membalas dengan tindakan agresif. Kenapa?

Karena sehebat apapun ajian lawan, sesakti apapun pusaka lawan, dan seberapa banyak yang ditujukan ke tubuh Semar, dia tak akan merasa kesakitan. Bahkan jika diserang terus menerus selama tujuh hari tujuh malam, Semar tak akan kelelahan. Pada akhirnya, lawannya yang akan menyerah dengan sendirinya. Karena lawannya akan putus asa, kelelahan, dan merasa takkan pernah bisa mengalahkan Semar.

Itu karena daya dari Mustika pada kuncungnya, yang juga sudah menyatu dengan dirinya. Semar takkan pernah merasa sakit, apalagi merasa lelah. Bahkan Dewa masih merasakan sakit dan juga lelah, tetapi Semar tidak merasakannya.

Oleh sebab itu, Bathara Guru pun akan merasa ketakutan kalau Semar sudah ‘menuntut keadilan’ ke kahyangan, jika dia merasakan suatu ketidakadilan sedang terjadi di bumi.

Saya baca pesan itu beberapa kali, dan tetap tak memahami maksudnya selain bahwa Semar memang sakti. Sakti karena tak mempan dihantam ajian dan pusaka apapun.

Saya yakin akan ada pesan ketiga dari Gareng, maka saya tetap tak membalas pesan kedua. Saya lebih memilih melanjutkan membaca berita, tentang empat puluhan tenaga medis yang terpapar corona di Semarang.

Jeda antara pesan kedua dan ketiga cukup lama. Pesan ketiga baru masuk setelah saya selesai sarapan. Begini isi pesan ketiga dari Gareng penceng kurangajar itu :

Mungkin kamu ingat ketika Semar pernah berselisih dengan Kresna. Ketika itu Semar ingin ‘Mbangun Kahyangan’, dan karena suatu hal, mereka berselisih. Sebenarnya berselisih karena kesalahpahaman saja, miss komunikasi, tetapi imbasnya cukup ngeri. Mereka sempat terlihat akan bunuh-bunuhan.

Tetapi ya tidak terjadi bunuh-bunuhan, gelut pun tidak. Padahal saat itu Kresna sudah sangat marah terhadap Semar, dan wajahnya sudah terlihat sangat memerah karena amarah.
Banyak orang sudah ngompori Kresna agar membunuh Semar, atau paling tidak memberinya pelajaran. Kresna mempunyai senjata Cakra yang sakti mandraguna. Sembarang makhluk dan benda yang terkena tuah senjata Cakra, akan hancur lebur dan sirna. Laut akan surut dan gunung akan lebur jika dilemparkan senjata Cakra.

Pun begitu, kenapa Kresna tetap bergeming saja dan tak lekas menghunus senjata Cakra untuk melibas Semar?

Itu karena Kresna tahu, Semar bukanlah makhluk yang terdefinisi untuk bisa dilibas dan dikalahkan dengan pusaka, bahkan jika itu adalah Cakra. Senjata Cakra yang kehebatannya membuat para Dewa pun akan lari ketika menghadapinya, takkan membuat Semar mati. Jangankan mati, sakit dan gatal pun tidak akan.

Kresna tahu itu, dan dia tak mau mempertaruhkan harga diri dan kewibawaannya untuk hal yang sia-sia. Jika dia nekat menggunakan senjata Cakra kepada Semar, dan ternyata senjata itu tidak mempan, maka pendapat orang-orang perihal senjata Cakra yang kehebatannya tembus langit akan mulai memudar.

Kresna lebih memilih untuk menahan amarah dan ambisinya untuk berkelahi, tak lebih dari sekadar amarah dan ambisi itu sendiri. Tak pernah diwujudkan dalam tindakan. Karena dia tahu, ambisi dan amarah kepada Semar dan kemudian diwujudkan dalam perbuatan serta tindakan, hanyalah kesia-siaan. Hanya akan membuatnya wirang, malu, dan merugikan dirinya sendiri.

Pesan ketiga cukup panjang, dan saya cukup bisa mengingat kejadian itu. Kejadian ketika Kresna dan Semar baku hantam. Sebagai penggemar yang penasaran dengan kesaktian keduanya, sebenarnya saya berharap mereka akan saling pukul dan adu jaya kawijayan.
Eeeeee kok ya akhirnya malah damai. Sebenarnya seru juga kalau Kresna dan Semar gelut. Keduanya sama-sama berkulit keling hitam, sama-sama sakti, dengan satu bertubuh kurus tinggi dan satunya gemuk pendek, pasti sangat terlihat artsy kalau berkelahi. Diambil foto dari sudut manapun ketika mereka gelut, pasti hasilnya akan sangat bagus.

Tapi ya itu tadi, Kresna tidak terpancing dan hanya sekadar marah, dan Semar, jangankan marah….dia tetap seperti biasanya —samar—, tak jelas benar apakah dia juga marah atau tidak.

Pesan keempat datang tak lama berselang, sepertinya pesan terakhir. Maksud saya, pesan terakhir dari rangkaian pesan yang dikirimkan Gareng. Begini isinya :

Semar itu di alam manusia, di dunia, adalah perwujudan filosofis dari bumi. Anggap saja Semar itu adalah gambar perwujudan bumi dalam bentuk wadag yang lebih bisa dipahami oleh manusia pada umumnya.

Baik sifat batiniyahnya, ataupun sifat fisiknya, Semar itu perwujudan bumi. Diinjak ya tetap begitu saja, diludahi ya tetap santai saja, dicemari juga tak khawatir terluka. Tak pernah tidur, tak pernah istirahat, selalu memberikan manfaat. Hanya saja memang, manfaat yang diberikan Semar atau bumi itu, tergantung dari upaya yang dilakukan manusia.

Menanam padi, bumi akan merawat dan menumbuhkannya. Menanam pohon jati, bumi akan menjaga sampai sekian puluh tahun lamanya.

Tetapi kemanfaatan itu pun bersifat dua arah dengan ‘kerugiannya’. Tetap saja Semar atau bumi juga memberikan kerugian, tetapi itu tergantung dari perbuatan manusia juga. Mencemari sungai, bumi akan mengurangi ketersediaan air bersih bagi manusia. Merusak hutan, bumi akan mengurangi udara bersih bagi manusia. Membuat polusi di udara, bumi perlahan akan mengurangi lapisan ozon diluarnya.

Semar atau bumi, hanya ngemong dan momong manusia. Manusia adalah tuan dari bumi. Bumi tidak akan menolak apapun yang dilakukan manusia. Apapun itu.
Tetapi bumi juga akan memperingatkan tuannya, manusia itu, jika mereka berlaku berlebihan.

Ketika akhir-akhir ini manusia merasa alam tak lagi bersahabat, merasa bumi tak bisa lagi mengayomi, itu bukan salah dari bumi. Sepenuhnya itu salah manusia yang rakus mengeruk sumber daya, dan merusak keseimbangan alam yang ada. Cuaca yang tak bisa diprediksi hanya salah satu contohnya. Seringnya terjadi gempa bumi adalah contoh lain. Naiknya tingkat polusi udara adalah yang paling absurd dari tingkah polah manusia.

Sebagai tuan, pemimpin di muka bumi, manusia harusnya bersifat dan bersikap laiknya pemimpin yang sejati. Merawat dan mengayomi, bukannya merusak dan mengumbar nafsu duniawi.

Nanti takutnya kalau sudah oleng, Semar akan kentut.

Pesan keempat dari Gareng lebih panjang dari ketiga pesan pertama. Sepertinya ini yang terakhir. Maka kemudian saya tinggal untuk menyelesaikan beberapa urusan.

Tetapi ketika membuka hape kembali, ternyata masih ada pesan kelima. Begini isinya :

Dengan kedelapan daya dari kuncungnya, maka Semar sepenuhnya mendedikasikan diri untuk menjadi ponokawan. Mengabaikan dirinya sendiri, untuk merawat para tuan. Bekal delapan daya itu sudah lebih dari cukup bagi Semar untuk momong para tuan yang sakti. Sehingga para tuan itu tidak keblinger.

Puntadewa dengan Pusaka Myang Jimat Jamus Kalimasada pun tak berani melawan Semar. Puntadewa yang sulung dari Pandawa itu tahu, titah Semar adalah titah semesta. Maka nasihat dari Semar adalah nasihat yang tak boleh diabaikan. Peringatan dari Semar berarti adalah peringatan yang akan membawa pada keselamatan.

Puntadewa selalu berusaha menyelaraskan tindakannya, dengan nasihat dan peringatan dari Semar. Tak pernah grusa-grusu dan menuruti hawa nafsunya sendiri.

Idealnya, manusia paling tidak harus mendekati sikap penerimaan Puntadewa, terhadap nasihat dan peringatan dari Semar. Paling tidak manusia harus memiliki dengarkan nasihat dan peringatan bumi, ketika banyak sungai dan sumber air tercemar, ketika lapisan ozon mulai menipis, ketika gempa bumi mulai sering terjadi. Berarti ada sesuatu yang salah dari manusia, sikap hidupnya, sehingga bumi memberikan peringatan.

Menyelaraskan hidup dengan nasihat dan peringatan dari Semar atau bumi bukanlah untuk kepentingan Semar atau bumi itu sendiri. Tetapi untuk kepentingan para tuan, manusia.

Ketika banyak sungai tercemar, bumi tidak merasa sakit dan tak merasa itu sesuatu yang merugikan dirinya. Bumi memberi peringatan, semata agar manusia kelak masih selamat dan tidak punah gara-gara tak lagi ada air bersih yang bisa dikonsumsi.

Jika ozon berlubang, bumi tidak akan merasa kepanasan, tetapi manusia yang akan kepanasan dan mati terbakar. Bumi tidak akan merasa kepanasan atau kedinginan, seperti Semar itu.
Manusia lah yang harusnya khawatir jika ozon berlubang. Bisa jadi, mereka akan punah terpanggang.

Semar dan atau juga bumi, hanyalah cermin dari perilaku manusia itu sendiri. Memantulkan dan mengembalikan semua yang dilakukan oleh manusia, persis dalam titik koordinat yang sama.
Jika melakukan kebaikan dan kemanfaatan, manusia pun akan mendapat kebaikan juga kemanfaatan.
Jika melakukan keburukan dan kerusakan, manusia pun akan mendapat keburukan juga kerusakan.

Selalu seperti itu, dan mau tidak mau, suka atau tidak suka, manusia yang harus menyesuaikan sikap budayanya sesuai dengan nasihat dan peringatan dari bumi.

Ah sudahlah, aku mau menemani pemilik hape ini untuk makan malam dulu. Makan malam yang sudah sangat terlambat. Lumayan, ditraktir pizza, tapi ga pakai hat.

Membaca keseluruhan pesan Gareng itu, saya kok tiba-tiba pengen ketemu Semar. Pengen ngantemi dan nggajuli juga nginjak-injak Semar. Kapan lagi bisa ngantemi selain diri kita, tapi dia ga bales, ga sakit, ga lapor polisi, dan kalau sudah capek ngantemi, dia bisa disuruh mijit.

Mar Semar, mreneo. Sun matek ajiku gelap ngampar.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)