Semarang Panas, Dik..

Semarang adalah kota pertama yang saya kunjungi sendirian, dan disertai dengan menginap. Kunjungan pertama sekira tahun 2007, mengunjungi seorang kawan, dan menginap satu malam di kediamannya. Kunjungan kedua sekira tahun 2008, bersama adik pertama saya, menginap semalam di sebuah masjid. Kunjungan ketiga adalah tahun 2009, menginap selama lebih kurang dua puluh hari, di sebuah hotel, karena harus mengikuti semacam pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan [waktu itu masih bernama Departemen Keuangan]. Kunjungan keempat adalah study tour selama dua hari satu malam pada sekira tahun 2011 bersama istri, bwahahaha….

Selain waktu-waktu tanpa menginap itu, saya pun sering berkunjung ke Semarang. Lebih sering datang pagi, pulang sore. Saya cukup karib dan akrab dengan kota Semarang. Dengan jalanannya, pun dengan udara panasnya.

Dalam sekian kali dolan ke Semarang itu, saya menegaskan satu hal, pun setengah berjanji pada diri sendiri untuk memegang teguh hal ini :

“Semarang tidak cocok bagi saya untuk bekerja maupun bertempat tinggal.”

Pernyataan maupun janji sepihak itu saya ucapkan karena dalam beberapa kali kunjungan itu, saya merasakan pening luar biasa. Semarang macet, dan panas total.

Saya pernah mengalami kemacetan parah di seputar pasar Ambarawa, ketika menuju ke Semarang. Pernah juga macet dan ramai parah di Bawen, pun di Ungaran. Belum lagi di tengah kotanya, dengan arus lalu lintas jalan yang kebanyakan satu arah. Kepala mendadak serasa mau meledak. Oleh karena beberapa pengalaman kurang menyenangkan itu, saya tahbiskan Semarang sama dengan Jakarta, tidak enak untuk bekerja, apalagi bertempat tinggal.

Saya tidak menyukai kemacetan. Maka ketika mencari rumah untuk bertempat tinggal ketika masih berada di selatan Gunung Merapi, saya mencari rumah di pelosok desa. Di Piyungan, tempat yang sepi dan jauh dari hingar bingar perkotaan dan apalagi kemacetan. Meskipun dengan itu saya harus menempuh perjalanan untuk bekerja sejauh 80 kilometer pergi pulang, setiap hari.

Pun rumah saya di Piyungan mempunyai hawa yang sejuk, karena tepat berada di bawah barisan pegunungan seribu. Tepat di bawah Bukit Bintang yang tersohor itu, di Patuk, Gunungkidul.

Saya tak pernah mempunyai pikiran, bahkan jika itu sekadar lamunan, untuk dapat bekerja di kota Semarang.

Ketika akhirnya pada tahun 2019 ini saya berpindah tugas di Semarang [padahal saya tak pernah memasang taggar #2019pindahtempatkerja] saya sempat tertegun. Kok bisa? Bhadalah…..

Jika pada tahun sebelumnya ada hal besar yang saya rencanakan, dicanangkan, adalah migrasi hosting web anangaji.com ini menuju rumah yang lebih besar. Dengan kapasitas yang lebih besar, agar paling tidak saya bisa menyertakan banyak foto atau video dalam muatan konten yang saya publikasikan. Senyatanya, malah saya sendiri yang bermigrasi ke kota Semarang.

Apa mau dikata, dan tak perlu banyak kata-kata, saya hanya perlu banyak tertawa…bwahahaha….

Saya seperti lupa pada pengalaman-pengalaman tak menyenangkan perihal jalanan kota Semarang. Saya pun lupa pernah berjanji pada diri sendiri.

Yaaa, begitulah manusia, sering lupa pada janjinya. Apalagi hanya manusia semacam diri saya ini.

Semarang masih panas, dik … dan senja seakan tak pernah singgah di kota ini.

Setidaknya itu yang saya alami selama beberapa pekan terakhir ini, ketika semenjak tanggal 1 Oktober 2019 mulai berpindah tidur di Semarang. Di kosan saya, kipas angin selalu menyala, berputar, bergeleng ke kanan dan ke kiri, tanpa lelah dan tanpa henti [modyar ra kowe kipas angin].

Tetapi anda tahu, saya merasakan kebahagiaan di tengah pengingkaran janji itu. Semarang menerima saya dengan tangan terbuka, dengan kemacetan jalanan dan hiruk pikuk kendaraan. Saya tak merasakan hal yang sama ketika dulu hanya sekadar bertandang untuk dolan ke kota ini. Bukan hal yang menyebalkan dan menakutkan ketika pada akhirnya secara tak resmi saya menjadi warga kota ini. Bagaimana mau resmi, saya masih ber-KTP Sleman, berumah tinggal di Bantul, dan sekarang bekerja dan tidurdi sebuah kos-kosan di Semarang.

“Senja mungkin memang tak pernah singgah di kota ini, tetapi bukankah manusia selalu menuju kepada terang dan kehangatan? Untuk menghangatkan hatinya sendiri yang cenderung sepi.”

Mungkin akan sangat naif ketika kemudian saat ini saya menyatakan bahwa saya berbahagia bekerja dan hidup di Semarang. Karena pada kenyataannya, kebahagiaan manusia bersifat relatif, dan hanya berada pada dimensi dan ruang-ruang waktu tertentu. Namun tak ada salahnya juga bukan, ketika beberapa hari yang masih menjadi awal mula ini, seluruh apa yang terjadi pada diri ini, saya selimuti dengan berbagai bentuk kebahagiaan?

Kebahagiaan yang beraneka rupa, dan beraneka macam.

Bahkan kemudian pada akhirnya Semarang memberikan saya pelajaran yang sangat berarti, bahwa kebahagiaan manusia harusnya melingkupi seluruh kehidupannya. Tak terpenggal dan tak terbatas pada dimensi serta ruang waktu tertentu. Ia harus meliputi, dan melingkupi. Pada semua hal yang terjadi, dan tak hanya pada hal-hal tertentu.

“Susah senang, duka bahagia manusia seharusnya menjadi satu, berkelindan dalam kehidupan. Engkau hanya perlu menaikkan dosis pengakuan dan perasaanmu, bahwa duka dan susah serta nestapa pun adalah juga bahagia dalam bentuk yang berbeda dari apa yang selama ini kamu pahami.” -berkata kota Semarang pada suatu waktu, di tengah kemacetan antara Srondol menuju Banyumanik-.

Sampai pada entah kapan nanti, mungkin Semarang masih akan tetap panas, dan bahkan mungkin bertambah panas, bertambah ramai dan riuh. Tetapi satu hal yang seharusnya dimengerti, bahwa panas dan ramainya kota ini adalah satu pertanda, bahwa Tuhan selalu memeluk dan tak membiarkan kita berada dalam sepi dan kedinginan.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *