Sembilan Bulan Hampir Sepuluh Hari

Sudah sembilan bulan, tetapi baru hampir sepuluh hari lebihnya. Sepuluh hari lebihnya masih besok hari Jumat tanggal 10 Juli 2020.

Kalau perempuan sedang hamil, berarti hari-hari terakhir termasuk hari ini adalah hari persiapan. Hari persiapan sekaligus menegangkan. Tentang bagaimana nanti proses kelahiran yang akan dialami dan dilalui.

Apakah akan lancar. Apakah akan sehat. Apakah akan melahirkan secara normal ataukah sesar. Dan yang terpenting, apakah ia dan bayinya akan selamat.

Tentu saja, esensi dan hakikat melahirkan adalah tentang satu hal : keselamatan.

Hamil, mengandung calon bayi adalah suatu kebahagiaan bagi mereka yang dikaruniai. Tetapi ketika sampai pada titik hendak melahirkan, segala kebahagiaan itu akan dibalut tipis oleh rasa kekhawatiran.

Namun meski hanya tipis saja balutan rasa kekhawatiran itu, takkan bisa diungkapkan dengan kata-kata tentang bagaimana gejolak yang ada di dalam dada.

Degup cemas bercampur dengan debar was-was yang akan terus melebar sampai nanti dipastikan, bahwa proses melahirkan berlangsung lancar, dan semuanya sehat serta selamat.

Saya tidak sedang membicarakan perempuan hamil, dan apalagi calon bayi. Saya sedang membicarakan proses yang hampir sama, yang sedang terjadi.

Saya yang menjadi calon bayi itu. Yang selama sembilan bulan hampir sepuluh hari dikandung dalam rahim kekhawatiran, serta diasuh dan dirawat oleh kecemasan dan kebahagiaan.

Tak terasa bahwa dalam sembilan bulan terakhir, saya menuju fase untuk terlahir kembali. Sembilan bulan terakhir ini adalah masa adaptasi untuk terlahir kembali.

Jangan sampai ada masa kehamilan diperpanjang, dan masa adaptasi yang terlampau lama untuk dilalui.

Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, nanti tepat ketika sampai pada sembilan bulan sepuluh hari, saya sudah harus terlahir kembali. Menuju masa renaissance.

Dalam kondisi normal, tak ada satu pun manusia hidup yang mau dikembalikan ke dalam rahim, untuk kelak dilahirkan kembali. Takkan ada manusia yang mau, pun tak ada rahim yang bersedia menerima.

Namun ternyata saya harus melalui fase abnormal. Fase yang memaksa saya untuk mau dan bersedia kembali ke dalam rahim, dan menunggu dilahirkan kembali.

Prosesnya sungguh menyakitkan, dan secara eksplisit sudah beberapa kali saya sampaikan di dalam blog ini. Itu adalah proses yang memaksa saya untuk benar-benar menjadi manusia baru. Manusia baru dalam hal dan segi apapun. Secara pribadi maupun sosial.

Dalam kredo yang paling mudah dipahami : kini tak ada lagi Anang, dan hanya ada Aji.

Begitulah.

Dalam kurun empat belas tahun terakhir, mungkin lingkungan mengenal saya sebagai Anang. Tetapi kini dan kelak ketika terlahir kembali, hanya ada Aji.

Saya bersyukur bahwa dulu orang tua saya memberikan nama yang terdiri dari tiga kata, dan mungkin memang sudah begitu garis takdirnya. Bahwa suatu ketika saya harus sampai pada fase ini. Fase ketika harus berganti nama panggilan.

Yaa, meski terlahir kembali, untungnya saya tak harus mengubah nama secara keseluruhan. Cukup mengubah nama panggilan, karena nama lengkap saya bisa menyediakan nama panggilan lain.

Mungkin dulu Anang adalah pribadi yang supel dan banyak bicara. Dalam pergaulan sosial mungkin ia adalah sosok yang suka mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk menawarkan cangkir persahabatan.

Tetapi ketika kini harus menjadi Aji, ia akan menjadi pribadi yang berbeda. Baik sikap pribadi terhadap dirinya sendiri, dan terlebih dalam sikap pergaulan sosialnya.

Tak ada seorangpun yang mau ketika ditawari untuk mengubah sikap pribadi maupun sosial yang sudah terbentuk dan terbangun sekian belas tahun lamanya. Tentu sikap yang sudah terbentuk dan terbangun itu begitu melekat dan menjadi ciri khas serta modal dasar hidupnya. Tetapi, apa yang terjadi bukanlah penawaran. Apa yang terjadi adalah kondisi untuk harus mau berubah, harus bersedia terlahir kembali sebagai manusia dan pribadi yang berbeda.

Tidak berbeda drastis seratus delapan puluh derajat, tetapi sudah cukup berbeda untuk tidak lagi mudah dikenali seperti ketika masih hidup sebagai Anang. Kondisi yang memaksa, dan kondisi juga yang mengharuskan untuk berbeda.

Mengkambinghitamkan kondisi mungkin bagi beberapa orang hanya dianggap sebagai suatu negasi. Tetapi bagi saya pribadi, begitulah kenyataannya. Tak ada kemungkinan lain saat itu, dan saat ini, untuk menghindar dari kondisi yang memaksa untuk terlahir kembali.

Namun tak seperti calon bayi dan juga ibunya yang berdebar tak tentu tentang bagaimana nanti proses kelahiran yang akan dialami, sedikit banyak saya sudah tahu dan bisa memprediksi. Tentang bagaimana nanti, dan jalan-jalan panjang ke depan yang akan saya lalui.

Sebagai bayi yang baru terlahir kembali, kelak saya akan kembali belajar berjalan, berbicara, menyesap semua ilmu dan pengetahuan, serta bergandengan tangan dengan pengalaman. Semua akan kembali saya pelajari, dengan pendekatan dan metodologi yang berbeda dari sebelumnya.

Tentu saja, karena Anang sudah memberikan bekal yang cukup. Agar Aji tak mengulang lagi kesalahannya. Kesalahan secara personal maupun sosial komunal.

Anda mencari Anang? Ia sudah hilang, kalau tidak boleh dikatakan mati.

Kalau terpaksa harus mencarinya, carilah disudut-sudut sempit tempat anda pernah menginjak dan mencoba mematikannya.

Selamat pagi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *