Semenjak ‘Bodoh’ Menjadi Nama Tengahku

Tak hanya sesekali…aku ingin selalu bisa, tidur di antara ilalang, teduh pepohonan, beserta semut yang melewati kaki ku. Dengan semilir angin, dan terkadang melihat jatuhnya beberapa daun kering.

Ah…tak hanya sesekali…..

Aku ingin selalu bisa, berjalan di antara kerikil, tanpa alas kaki, tanpa merasa kesakitan. Dengan kotoran dan debu jalanan yang melekat, kemudian membasuhnya di bening sungai kecil dalam beberapa ratus langkah ke depan. Sekadar mendinginkan kaki, dan melegakan pikiran.

Terkadang…ah, tak hanya terkadang…aku selalu ingin mengunduh angin yang matang disela helai nafas dan ranting pepohonan. Menyimpan, dan menggunakannya suatu waktu ketika tak ada angin yang menyejukkan di dalam hidupku. Atau sekadar menyimpannya sebagai kenang-kenangan, ketika kelak tak ada lagi semilir angin yang bergerak.

Aku ingin berjalan, bertelanjang kaki, melompat dari satu batu, ke batu lainnya di sela deras aliran air, di sungai yang bersih tanpa sampah plastik dan limbah. Bening air sungai terkadang akan menggodaku untuk sejenak melompat, berendam di dalamnya sembari mendengar gelegar aliran air yang deras mengalir. Mungkin tanpa disengaja aku akan terpeleset, oleh karena lumut di bebatuan, dan karena kekuranghatian sendiri. Memar mungkin, pada lengan dan tulang kering. Tetapi aku hanya akan meringis, melihat memar yang membiru, dan tegak lagi berdiri sembari melanjutkan melompat sembari bernyanyi.

Tak hanya terkadang….

Aku selalu ingin bisa berbaring diatas rerumputan, sembari sesekali mata mengerjap karena silau sinar matahari menerobos dari ranting dan dedaunan. Di bawah teduh bayang pohon, sembari mendengar kasak-kusuk hewan kecil di sela rumput, di samping tempatku berbaring.
Mungkin tak harus setiap hari, tetapi alangkah baiknya selalu bisa, setiap aku ingin.

Aku tak pernah ingin banyak uang, banyak harta, atau tinggi pangkat jabatan, jika itu merenggut segala ketenangan dan kenyamanan hidupku. Aku hanya selalu ingin melakukan hal-hal sederhana, setiap saat, setiap waktu, acap kali aku ingin. Bukan karena idealisme, tetapi karena kesederhanaan lebih mudah untuk dicapai oleh orang-orang yang mudah menyerah sepertiku.

Orang-orang yang mudah menyerah sepertiku lebih memilih berbaring di bawah teduh pepohonan pada siang hari, daripada bekerja keras menggali banyak kekayaan. Mungkin saja ini keuntungan, sekaligus kelemahan.
Keuntungan karena aku takkan pernah dibebani target-target dan berbagai macam keinginan yang sebenarnya tak perlu benar dalam hidupku.
Kelemahan karena tentu saja aku takkan pernah diakui dalam pergaulan di tengah masyarakat, atau di antara kawan dan sahabat, karena tak ada modal berupa uang dan kekayaan.

Tak mengapa, karena aku ingin lebih banyak sendiri, menikmati hijau tebing-tebing pegunungan, sembari kaki menendang-nendang kosong, dan tangan sibuk merekam batang-batang pinus yang terkenal banyak kerutan. Alangkah menyenangkannya. Tipis udara pegunungan akan kusesap dalam-dalam. Mungkin akan membuat lubang hidungku terasa perih dan panas, lalu kemudian berubah warna menjadi merah. Tak mengapa, daripada merahnya telinga karena gegap gempita tak perlu, dari hingar bingar dunia.

Hening, selalu saja ingin memeluk keheningan dalam bentuknya yang sederhana. Tentu, kosong di sekitar, juga kosong dari dalam diriku sendiri. Sejenak saja, dalam waktu yang berulang, aku ingin memeluk keheningan sembari memejamkan mata, dan menafsir seberapa tangguhnya aku untuk menghilang dari gegap gempita.

Alangkah merdekanya orang-orang yang selalu hening, mengendap segala ambisinya, ditengah hingar bingar dan keramaian. Menyenangkan.

Selalu saja sulit untuk menelisipkan setitik saja rasa menyenangkan, di tengah membuncahnya kebahagiaan. Selalu saja sulit untuk bisa tertawa, bersama bahagia. Terkadang, bukankah bahagia pun harus ditebus dengan air mata?
Aku tak ingin, bahagia dengan menumpahkan air mata.

Aku hanya selalu ingin, tertawa dan tertawa, sembari ringan kaki melangkah, atau ringan tangan terayun. Bukankah seharusnya memang tawa menjadi panglima, agar ringan segala urusan?

Entah saja, aku tak sedang ingin berpikir. Berpikir adalah pekerjaan manusia-manusia hebat yang masih sempat menelaah sesuatu, di tengah kehidupan yang sudah teramat penat. Aku tak ingin berpikir, aku hanya ingin banyak-banyak berbaring dengan ditemani semilir angin.

Tetapi bukankah akan menjadi bodoh jika menginginkan hal-hal sederhana dan mudah semacam itu?
Bukankah hidup adalah untuk berkompetisi, menjadi yang terbaik, mengisinya dengan perbuatan-perbuatan dan darma entah bagaimana bentuknya?
Bukankah tak boleh hidup hanya diisi dengan berpangku tangan?
Bukankah hidup tak sesederhana seperti menghela nafas, dan menghembuskannya?
Hidup adalah kompetisi, siapa bergerak, ia yang akan mendapatkan banyak. Banyak-banyak kemuliaan, dunia dan akhirat. Bukankah begitu?

Ah ya, ambil semua hal yang menurutmu baik untuk dunia dan akhirat. Sisakan saja sedikit untukku.
Sisakan sedikit, perihal tertawa bahagia pada hal-hal sederhana.

Aku hanya ingin berbaring, di atas rerumputan, dibawah teduh bayang pepohonan, sembari memetik semilir angin, menikmatinya, sedikit menyimpannya, dan kemudian tertidur tanpa banyak bayang dan pikiran mengenai hingar bingar keramaian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

28 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.