Semestinya

Semestinya aku abaikan saja semua bisikan yang datang dari hatiku, dan dibenarkan semua oleh akalku itu. Semestinya aku abaikan saja semuanya, dan mengembalikan semua bisikan itu tak lebih dari sampah kepenatan semata.

Semestinya aku tahu batas kemampuanku untuk mengelola kepenatan dan segala kesumpekan yang menyumpal hampir semua rongga nafas kehidupanku. Semestinya aku mengabaikan semua yang awalnya nampak sebagai solusi itu, dan tetap bertahan meski dengan kaki yang mulai terseok.

Semestinya seperti itu.

Semestinya aku tidak gegabah, dan tak serta merta menerima tawaran dari akalku, untuk memikirkan jalan selain untuk bertahan. Semestinya aku cukup kuat untuk bertahan, dan tak mesti berlari menyeberang pada jalur lain yang terlihat lebih menyenangkan. Ada hal-hal yang semestinya menjadi pertimbangan, selain daripada menuruti akal yang sudah bersekongkol dengan hati.

Hati terlanjur mendidih, maka ia mematangkan semua yang dicetuskan oleh akal. Bodohnya, aku percaya pada keduanya. Baik pada hatiku, juga akalku. Bodohnya, aku percaya pada keduanya.

Padahal semestinya pada situasi semacam itu, aku harus mempunyai cakrawala kemungkinan lain. Tak mesti hanya berpegang pada apa yang dicetuskan oleh akal dan dimatangkan oleh hati tersebut. Semestinya aku mempunyai keteguhan yang tak goyah bahkan oleh akal dan hatiku sendiri.

Senyatanya, aku tak memikirkan cakrawala kemungkinan yang lain, dan tak mempunyai keteguhan sebagaimana dipersyaratkan untuk manusia.

Aku jadi bertanya-tanya, benarkah aku manusia?

Terlalu banyak kata ‘semestinya’, berarti menandakan lemahnya posisi negosiasi kita. Juga, itu menandakan rangkaian penyesalan.

Tunggu…

Bahkan kata penyesalan itu juga terlalu dini untuk menjadi sebuah kesimpulan. Benarkah aku menyesal? Jika aku menyesal, kenapa langkah terasa ringan?
Bukankah para bijak pernah berkata, penyesalan ditandai salah satunya oleh langkah berat pada tiap depa yang dilaluinya.

Atau jangan-jangan, aku sudah terlampau bebal, dan tak lagi mampu membedakan mana penyesalan dan mana kekhawatiran.

Siapa tahu itu hanyalah kekhawatiran perihal apa yang akan terjadi dimasa mendatang, sebagai akibat dari keputusan dimasa silam, dan keraguan dalam menjalaninya dimasa sekarang?
Siapa tahu hanya semacam itu. Kekhawatiran belaka? Dan bukan penyesalan?

Memang terlalu dini untuk mengambil kesimpulan, bahwa kata ‘semestinya’ berasosiasi dengan penyesalan.
Siapa tahu itu hanyalah kekhawatiran.

Mau tidak mau ingatanku menyeruak pada waktu-waktu silam. Serupa dengan sengaja membuka laci, dan mengeluarkan segala rupa arsip mengenai sebab.

Harus, dan memang begitu adanya.

Aku harus membuka laci-laci ingatan, untuk menggelar dan membaca kembali semua sebab kenapa aku membuat pilihan-pilihan. Semata agar tak terlalu banyak lagi kata ‘semestinya’.

Aku sudah muak dengan kata semestinya. Juga muak dengan kalian, yang berbaik diri semata tak lebih hanya untuk mengambil keuntungan.

Ah ya, sebaiknya aku tak melibatkan kalian. Ini ceritaku, bukan ceritamu.

Dari salah satu arsip ingatanku itu aku membaca, bahwa aku pernah berdiri sendirian diatas sebuah tebing ditepi laut, sembari memandang jauh pada batas cakrawala. Namun tak jelas benar apa yang kulihat. Jika ada yang jelas, bahwa air laut berwarna hitam. Matahari juga terlihat tak utuh bundar, hanya separuh saja menyinari laut yang berwarna hitam.

Pada catatan lain dari arsip ingatanku itu diceritakan, bahwa aku berdiri sendirian ditengah suatu lapangan, dan banyak orang melihatku dengan tatap pandang penuh ejekan. Tak jelas benar apa yang mereka ejek dari diriku. Jika ada yang jelas, bahwa aku benar-benar menjadi bahan ejekan.

Aku menghela nafas. Baru dua catatan dari arsip pada ingatanku, dan ternyata sudah cukup untuk membuatku kembali mengambil kesimpulan.

Ah tunggu, terlalu tergesa. Aku harus mengambil dan membaca catatan lain.

Aku melihat catatan ketiga. Pada catatan ketiga diceritakan bahwa aku mencangkul sebidang tanah sawah. Aku terus mencangkul dan mencangkul, kemudian menanami tanah itu dengan benih padi, merawatnya, kemudian terlihat orang lain yang memanen hasilnya.

Ya, aku melihat orang lain memanen hasilnya, dan terlukis jelas wajahku menampilkan kemunafikan. Disana aku terlihat tersenyum dan tertawa melihat orang lain memanen hasil kerjaku. Wajahku terlihat sangat profesional untuk menyembunyikan rasa tidak suka. Cangkul masih terlihat kupegang erat, namun aku menyembunyikan peluh, serta air mata.

Ah, ada kemunafikan juga ternyata. Dari diriku sendiri.

Aku mengambil catatan keempat, ragu. Haruskah aku membacanya juga, sedang tiga yang pertama hanya membuatku tersenyum kecut.

Kupaksa juga untuk membaca yang keempat itu. Setidaknya agar aku benar-benar yakin bahwa dulu memang ada alasan-alasan kuat ketika aku menentukan pilihan-pilihan.

Pada catatan keempat itu aku sedikit melihat tulisan, dan lebih banyak adanya gambar. Tergambar sangat jelas ketika aku duduk sendirian, pada ruang sempit dengan hanya satu pintu seukuran tinggi seekor anjing untuk merangkak keluar. Tak ada kemungkinan lain untuk keluar dari ruang sempit yang menakutkan itu, selain merangkak melewati pintu setinggi seekor anjing.

Hanya ada satu keterangan singkat yang bisa kubaca : “Tentukan pilihan.”

Tak ada keterangan lain apakah aku pada akhirnya merangkak keluar dari sana, atau tetap duduk meringkuk sendirian penuh rasa was-was dan ketakutan. Tak jelas benar.

Aku mencari catatan yang berhubungan dengan catatan keempat itu. Mungkin catatan kelima. Namun, tidak ada.

Catatan kelima sudah menceritakan ketika aku berada dalam situasi yang lain lagi. Aku memaksa membuka laci-laci lain untuk mencari keterangan tambahan dari catatan keempat. Sia-sia.

Aku putuskan untuk menutup laci-laci ingatan, mengembalikan semua arsip dan catatan kembali pada tempatnya semula.

Aku putuskan untuk lekas tidur. Semestinya, aku harus lekas tidur. Sebab tak ada lagi yang lebih menakutkan, selain apa yang Tergambar dari keempat catatan.

Tunggu. Lantas, itukah kekhawatiran? Atau memang itulah penyesalan?

Tetap samar. Dan semestinya, tidur tetap lebih baik daripada terjaga dan menemui penyesalan ataupun kekhawatiran, yang tak lebih dari sebuah kekonyolan.

Hidup memang semestinya kekonyolan semata. Namun juga tak sekonyol itu semestinya. Ah…semestinya….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *