SENTHIR

Banyak orang menyebutnya lampu teplok. Saya lebih senang menyebutnya senthir. Bagi saya tentu saja, karena senthir bukan lampu. Menurut saya lampu ya bohlam itu, yang bisa hidup hanya dengan memencet saklar.

Bagi saya lampu adalah penyebutan yang mewah. Lebih serasa seperti utopia bagi saya yang karib dengan rumah berdinding anyaman bambu. Itu bukan rumah sebenarnya, tetapi bekas kandang ayam dan tempat menyimpan kayu bakar Mbah Buyut saya (simbahnya Bapak).

Tentu saja tak ada listrik, dan juga tak ada lampu. Yang ada hanya senthir, yang harus diisi minyak tanah setiap hari menjelang Maghrib, dibersihkan wadah minyak dan semprongnya, diatur panjang sumbunya agar tak terlalu banyak jelaga, dan dinyalakan ketika adzan maghrib berkumandang.

Seingat saya, ada dua senthir utama dalam rumah kami yang berdinding bambu itu. Satu diletakkan di dapur, satu lagi diletakkan diruang utama. Itu juga tak bisa disebut ruangan, karena pembatas dengan ruang lain yang kami sebut dapur dan tempat tidur hanyalah lemari.

Pada dua ‘ruangan’ itulah, senthir akan menerangi sampai nanti ketika minyak tanah dalam wadah tampungannya habis. Biasanya itu terjadi pada tengah malam, atau lewat sedikit saja dari tengah malam. Tak pernah senthir-senthir itu menyala sampai pagi.

Begitu karibnya saya dengan senthir, dan begitu juga dengan semprong serta sumbu sekaligus minyak tanahnya, sehingga suatu saat saya masih beberapa kali menyalakan senthir itu ketika Bapak dan Mamak sudah mampu memasang lampu dirumah kami.

Saya mematikan lampu listrik kamar, dan memilih memandangi nyala senthir sampai ia padam. Menatap nyala api dari sumbu, dan melihat betapa semprong bisa dengan sangat teguh menjaga nyala api agar tak padam tertiup angin.

Dulu, acapkali ada pentas jathilan dan para pemainnya trance kemudian memakan semprong, saya seringkali mringis dan merasa miris. Semprong baru yang masih berbalut kertas tipis berwarna cokelat itu bagi saya jauh lebih berharga daripada hanya untuk dikunyah-kunyah pemain jathilan yang sedang ndadi.

Bagi saya satu buah semprong itu bisa menjaga nyala api senthir selama paling tidak dua minggu, sebelum ia akhirnya pecah oleh karena panas nyala api, atau pecah oleh tangan saya yang tak berhati-hati ketika mengelapnya.


Begitulah, saya tumbuh dengan sangat beruntung, dengan banyak pengalaman mengenai pahit manis kehidupan. Sesuatu yang layak saya syukuri, bahkan semenjak saya masih harus menyalakan senthir itu sabar sore.

Senthir itulah yang membawa saya hampir selalu meraih ranting satu ketika berada di sekolah dasar. Sesuatu yang tak bisa lagi saya raih ketika kemudian senthir digantikan lampu listrik.
Bersama lampu senthir itu saya dengan tekun belajar, sehingga tahu dan hapal bahwa ibukota Pakistan adalah Islamabad, bahwa ‘tirai bambu’ adalah julukan bagi negara Cina, bahwa perang dunia kedua dimenangkan oleh sekutu. Sesuatu yang teman-teman sekelas saya tidak tahu, dan dengan bangga saya mengangkat tangan serta menjawab ketika guru kelas enam SD saya bertanya dalam sebuah kuis suatu siang.

Senthir-senthir itu tak pernah padam ketika menemani saya belajar.

Saya bukannya senang mengenang kepahitan . Tetapi bagi saya, senthir adalah bagian sejarah dalam kehidupan saya, dan dengan itu turut pula membangun budaya serta pola pikir juga cara pandang terhadap kehidupan. Saya tumbuh dan berkembang bersama senthir, tanpa listrik dan televisi diruang keluarga. Laiknya yang dimiliki oleh semua teman saya semasa kecil.

Ketika banyak teman saya tidak paham bagaimana memperlakukan semprong agar tak retak atau pecah ketika mengelapnya, saya dengan mahir melakukannya setiap hari. Ketika banyak teman tinggal memencet saklar untuk mendapatkan penerangan, saya harus melalui sebuah langkah serta usaha agar mendapat penerangan dari seberkas sinar senthir. Bagi saya, itu adalah suatu keuntungan. Saya mempunyai daya tahan untuk tetap hidup ditengah keterbatasan. Sesuatu yang tak semua orang mampu dan apalagi mau melakukannya.

Senthir selalu lekat dan tetap akan menjadi bagian sejarah kehidupan saya, bahkan setelah dua puluh dua tahun lewat setelahnya.


Saya tak pernah bisa lupa dengan bagaimana perasaan ketika listrik padam, ketika banyak rumah lain gelap gulita, dan rumah saya masih terang. Senthir itu merdeka dari listrik, dan dengan itu memerdekakan saya untuk tetap bisa belajar dan membaca ketika listrik padam.

Saya akan melongok keluar sebentar ketika listrik padam, melihat beberapa tetangga keluar dengan menggerutu, dan kemudian saya akan kembali masuk rumah dengan sedikit senyum menyimpul diwajah. Entah saya tersenyum karena apa.

Mungkin senthir itulah yang mengajarkan saya tentang arti kebebasan dan kemerdekaan, dalam suatu keterbatasan. Tak mengapa kiranya ketika hidup banyak memberikan batasan, tetapi memiliki kemerdekaan dan kemandirian adalah harga mahal yang tak semua orang mampu menggenggamnya.

Tak mengapa kiranya ketika kita tersisih, terputus dari aliran listrik seperti senthir itu, tetapi kita tetap hidup ketika listrik padam. Mungkin tak ada kemewahan daripadanya, tetapi bukankah suatu kemewahan ketika kita mampu bertahan dalam banyaknya keterbatasan?
Bukankah suatu kemewahan ketika kita bebas dalam kesederhanaan, daripada terpenjara dalam kemewahan?

Saya tak sedang beretorika, saya hanya sedang mengelus nasib yang begitu berbaik hati kepada saya.

Saya tak bisa membayangkan andai saya tumbuh tidak bersama senthir-senthir itu. Mungkin saya takkan mempunyai daya hidup seperti saat ini. Mungkin saya akan ikut-ikutan untuk memilih mati seperti lampu bohlam ketika listrik padam. Atau mungkin saya tidak akan mempunyai nyala yang bergerak bebas seperti nyala lampu senthir itu.

Itu memang hanya senthir, dengan tampilan sederhana dan bahkan sama sekali tidak berkorelasi dengan kemajuan jaman. Tetapi bukankah frasa terbaik untuk menggambarkan kemajuan jaman adalah : tetap mampu bertahan?

Apa gunanya kemewahan ketika ia padam dari sebab diluar dirinya. Lampu bohlam mungkin lebih mewah dari senthir yang menemani saya belajar, tetapi lampu bohlam takkan mampu tetap hidup tanpa listrik, sesuatu yang berasal dari dirinya. Sedangkan senthir, ia baru akan mati dan padam ketika memang tak ada lagi daya dan kehendak dalam dirinya. Ketika minyak tanah yang dikandungnya sudah habis untuk menyokong nyala.

Bukankah…..semacam itu kemewahan yang sebenarnya?
Mempunyai kemandirian dari dalam diri sendiri. Mempunyai keputusan dan kemerdekaan penuh untuk menentukan langkah hidup dirinya.


Tentu saja itu tentang senthir, bukan tentang saya.

Tetapi andai saya adalah senthir itu, mungkin saya adalah senthir yang terdampar pada pertunjukan modernisasi, pameran pembangunan yang menampilkan senthir hanya sebagai bagian sejarah masa lalu. Bagian sejarah kelam ketika belum ada listrik dan lampu. Atau lebih parah lagi, hanya menampilkan senthir sebagai hiasan dan tidak pernah dinyalakan.

Tetapi yang paling menyedihkan andai saya menjadi senthir itu, banyak orang menyangka bahwa saya adalah senter.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

48 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *