Sepenggal Janji

Takkan pernah bisa, dan terlebih takkan pernah mungkin, meski aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini.

Kalimat itu menjadi salah satu kalimat yang takkan pernah bisa hilang dari ingatanku. Selalu saja datang meski sekeras apapun usaha untuk mengusirnya. Tak pernah bosan mengganggu meski kini aku sudah lupa pada suara yang mengantarnya.

Kalimat itu…serupa kutukan.

Sebenarnya, jika harus jujur, aku sendiri yang dengan rela menerima kutukan itu. Kutukan yang membawa bahagia sekaligus luka dalam satu waktu yang sama. Hanya saja ketika itu, aku mengabaikan potensi luka yang ada, dan memilih untuk hanya mencecap bahagia.

Salah? Tentu saja….

Hanya orang-orang bodoh yang dengan rela menerima kutukan untuk terus menerus terluka. Meski luka itu datang bersamaan dengan rasa bahagia. Tetapi, tak adakah satu saja rasa, bahagia itu, tanpa harus ada luka bersamanya…?

Semua bermula, dalam ruas waktu yang telah lalu. Kapan tepatnya aku pun tak mampu mengingatnya lagi. Semuanya serba samar mengenai tepatnya awal mula. Jika ada satu garis hitam yang tegas kuingat, adalah tentang bagaimana kita saling mengenal, dekat, kemudian menjauh.

Ah, mungkin kamu sudah melupakan semuanya. Mungkin tak ada lagi samar atau jelas bagimu, karena semuanya pun sudah hilang berlalu tanpa sedikitpun ada yang membekas.

Tapi tak begitu adanya bagiku. Ada beberapa penggal kejadian yang terus menerus menancap dalam ingatanku, dan beberapa menghunjam terlalu dalam pada hati dan perasaaanku. Termasuk satu kalimat darimu itu, kalimat penolakanmu, ketika suatu waktu aku menawarkan hati untuk melabuhkan segala lelah, resah, gundah dan gelisahmu.

Katamu, kita takkan pernah mungkin untuk bersama. Biarkan saja seperti ini, dalam perasaan yang terbatas untuk saling menyayangi dan mencintai tanpa harus saling memiliki. Lanjutmu.

Aku pun takkan pernah bisa memaksa. Adakah suatu hubungan akan menjadi sehat jika ada sedikit saja keterpaksaan? Takkan pernah ada. Hanya akan ada luka setelahnya.

Maka aku tak pernah memaksamu, pun tak pernah bisa meninggalkanmu.

Itulah kesalahan terbesarku. Seharusnya aku pergi meninggalkanmu, meski aku yang memulai semuanya. Seharusnya aku meninggalkanmu, sebelum pada akhirnya aku sendiri yang meringkuk dalam luka dan nestapa.

Seharusnya aku tahu, bahwa apa yang keluar dari mulutmu, semua dusta belaka. Tetapi aku memilih membohongi hatiku sendiri, untuk merasa terhibur dengan segala puja puji dan kata sayang yang keluar dari mulutmu. Aku memilih untuk menelan sampah semacam itu, daripada menelan pil pahit menyehatkan untuk sadar bahwa semuanya tak lebih dari sekadar kebohongan.

Suatu kali, sembari menatap baris pegunungan dari suatu tempat yang tak semua orang bisa menjangkaunya, adalah saat-saat pertama kita dekat. Saat-saat pertama hatiku bergolak setiap kali menatap wajahmu. Awal mula semuanya menjadi mendung bagiku, meski saat itu terlihat cerah adanya.

Bukan salahmu tentu saja, semua salahku.

Andai tak harus keluar kata dan kalimat mengenai baris pegunungan itu, tentang jarak dan rindu, tentu saja tak harus ada hubungan yang serasa kelu.

Ah, toh memang hidupku tak pernah jauh dari neraka. Semua serba neraka. Hanya saja, kamu menambah kadar panasnya. Kadar panas neraka yang belum sempat aku beradaptasi darinya. Jadinya? Tentu saja semuanya melepuh. Hancur dalam bentuk dan rupa yang tak tertanggungkan rasanya.

Tenang, tak usah merasa bersalah, toh semuanya bermula dariku. Maka aku yang akan menanggungnya, semuanya, tanpa perlu kamu merasa bersalah atas timbulnya luka.

Adakah kini kamu bahagia? Setelah lepas dariku? Ah, tentu saja. Semua hanya selingan belaka bagimu. Maka ketika akhirnya lepas dariku, maka bisa ku pastikan bahwa kamu bahagia.

Tak perlu mencari kabar tentangku. Biarkan saja aku terus berjalan dengan kalimat darimu yang selalu terngiang. Biarkan saja. Terkadang aku menambahkan nada agar kalimat itu bisa ku dendangkan.

Takkan pernah ada yang lain, katamu.

Wajahku memerah, tetapi persis aku tahu bahwa hati serasa membiru, dan lantas menghitam. Aku tahu semuanya dusta belaka. Tetapi aku memilih untuk percaya, dan terus percaya. Sebagai laki-laki, aku mengingkari kodratku untuk mengedepankan akal serta pikiran. Aku lebih memilih mempercayai hatiku. Sekali lagi, bodoh.

Bahkan semua janjimu tertulis dalam baris kata, dan tak sekalipun keluar langsung dari mulutmu. Aku lebih memilih untuk bersandar di bahumu, daripada berbusa mengalunkan kata, sanggahmu. Ketika berkali aku ingin melihatmu mengatakan semua janji itu, sembari menatap matamu. Kamu terus mengelak, dan tak pernah mengucapkan semua janji itu, sembari mata kita terpaut satu sama lain.

Semua hanya kamu tuliskan melalui baris kata dan kalimat, yang ternyata bernyawa dusta.

Genggam tanganmu selalu erat, dalam keterbatasan waktu yang kita habiskan bersama. Seharusnya pun aku paham, seharusnya akal sehatku berjalan, bahwa semua kamuflase belaka. Ya, harusnya aku menyadarinya dari awal bahwa semua hanya caramu untuk mengambil hatiku.

Kamu ingin dipahami, tapi tak pernah mau memahami.

Itu saja sebenarnya, dan seharusnya aku tahu bahwa hubungan semacam itu hanya akan mengantar pada luka dan nestapa.

Kini, semua terjadi, persis seperti yang ada dalam bayang dan pikiranku. Persis seperti yang kubayangkan, semenjak pertama kali ada kata mengenai jarak dan rindu.

Dusta belaka, dan kini dalam tiap jengkal langkah, kutukan menemaniku.

Tak perlu bertanya sekarang aku ada dimana, bukankah kamu sudah berbahagia.

Ku dengar, dari angin yang membisikkan kabar, bahwa kamu kini sudah berbahagia. Syukurlah. Tentu saja aku bersyukur. Selalu ada rasa syukur mendengar kabar bahwa orang-orang terdekat dalam kehidupanku, berbahagia.

Tak usah lagi khawatir tentangku. Tak ada lagi yang bisa dikhawatirkan, dan tak perlu lagi ada yang dipikirkan. Pikirkan saja tentang bagaimana menjaga kebahagiaanmu.

Bukankah itu yang selalu kamu inginkan? Kebahagiaan? Kebahagiaan yang tersemai tanpa hadirnya diriku.

Lurus, luruskan saja langkah dan jalanmu. Tak usah menengok ke belakang, atau kesamping, hanya untuk mencariku. Aku sudah menguar bersama udara dan kenyataan. Aku sudah membaur bersama segala dusta dan kebohongan, yang kamu taburkan.

Tak ada lagi jejak langkahku, yang bisa kamu temukan. Aku tak pergi, hanya saja memang aku hilang. Aku tak menghilang, aku hilang.

Tak ada lagi ruas tempat, ruang dan waktu, dimana kamu bisa menemukanku. Aku hilang.

Tentang sepenggal janji itu, lupakan saja. Anggap saja sebagai kenang-kenangan darimu untukku. Bukankah kenangan yang tak mungkin terhapus adalah kenangan yang berupa kutukan?

Terima kasih.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *