Seperti Bercermin

12 tahun yang lalu

Selalu saja, seperti bercermin ketika saya melihat dan menemui adik bungsu saya. Jika ada yang berbeda, kulitnya sedikit lebih hitam, dan saya sedikit lebih putih. Tetapi karena ia lebih hitam, orang-orang banyak yang menganggapnya lebih tampan.

Itu kalau dari fisik, dari psikis, nampaknya kami juga tak jauh berbeda. Orang-orang terdekat kami selalu menganggapnya pemalas, atau lelet, tidak sat-set jika melakukan sesuatu. Mandi pun bisa demikian lama, seperti adik saya yang pertama. Makan pun akan dibawanya ke kamar, sembari melihat televisi.
Mungkin hanya saya yang tidak menganggapnya pemalas. Sebab, saya belum lupa dengan diri saya ketika seusianya.

Kami terpaut usia yang sangat jauh, 19 tahun. Ia lahir ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Dulu kami sering bepergian berdua saja, ketika ia sudah mulai bisa lepas dari Mamak. Banyak yang menyangka ia anak saya, termasuk juga penarik andong di Malioboro ketika suatu waktu kami piknik kesana.

Semakin terasa seperti bercermin, ketika ia sudah duduk di bangku kelas 3 SMP saat ini. Bedanya, ia sedikit lebih tinggi. Jika berdiri berjajar, saat ini saya setinggi telinganya.

Segala tingkah dan polahnya seperti memberikan cerminan balik bagi saya. Oleh sebab itu, bagaimanapun orang lain menghakiminya sebagai anak yang bandel, saya tidak ikut menjadi hakim. Saya hanya akan tertawa, di belakang.

Tak pernah sekalipun saya memberikan nasihat, atau khotbah dan ceramah layaknya seorang kakak kepada adiknya, atau seperti orangtua kepada anaknya. Saya tak pernah memberinya nasihat atau ceramah. Saya hanya sesekali mengajaknya berbincang.

Saya tak pernah menempatkan diri sebagai orang yang merasa lebih tahu terhadap kehidupannya. Tidak.
Lagipula, ketika seusianya saya juga tak pernah sekalipun mendengarkan nasihat.

Saya hanya mendengar apa yang ingin saya dengar, dan menutup telinga terhadap apa yang tak ingin saya dengar.

Saya rasa, ia pun saat ini juga demikian.
Mungkin ia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar, dan tak sekalipun ingin mendengar apa yang tak ingin ia dengar.

Dulu, saya sempat khawatir ketika ia selalu bersekolah dengan jarak agak jauh dari rumah. Semenjak TK sampai dengan SMP, sekolahnya selalu jauh. Saya khawatir ia tak punya teman, jika kemudian kesulitan beradaptasi serta bergaul.

Nyatanya, temannya dimana-mana. Justru itu yang saat ini berbalik mengkhawatirkan saya. Temannya tak hanya terbatas pada teman di lingkungan rumah, tetapi sudah jauh dalam jarak yang tak bisa saya bayangkan ketika seusianya. Sehingga selalu saja ada kesulitan untuk mengawasinya.

Bukan mengawasi seperti halnya aparat keamanan terhadap penjahat, tetapi mengawasi untuk melindungi. Bagaimanapun, ia masih berada dalam kategori anak dibawah umur, dan baru akan beranjak menjadi manusia dewasa. Kelak, ketika negara sudah mengganti KTA-nya dengan KTP.
Selepas itu, mungkin kami baru akan mulai sedikit demi sedikit mereduksi kekhawatiran.

Sebentar lagi ia akan masuk SMA. Sesuatu yang juga membuat saya [lagi-lagi] dihinggapi kekhawatiran.
Lebih karena saya teringat bagaimana dulu ketika SMA, dan membayangkan bagaimana ia nanti di SMA.

Saya dulu lumayan bandel, dan khawatir kalau ia nantinya juga akan bandel. Lebih khawatir lagi kalau ia akan melebihi kebandelan saya.

Tetapi tak ada juga yang perlu dikhawatirkan. Toh, masing-masing manusia sudah menjalani porsi dan kesempatannya masing-masing.

Hanya saja saya yakin, ia tetap akan berada dalam koridor yang semestinya. Kalau membelok sedikit, ya tak mengapa. Lagipula ia adik saya, mosok ga pakai belok???

4 bulan yang lalu [30/12/2018]
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

14 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *