Seperti Mudik

Sekilas saja, tidak lama, seperti mudik, tetapi tanpa tangis dan air mata.

Biasanya –dikutip dari berbagai sumber yang dikumpulkan langsung oleh pandangan mata dan pendengaran telinga-, mudik identik dengan tangis dan air mata. Ada semacam rasa haru yang menyeruak dari dalam hati, ketika sejenak saja kita kembali pada asal. Entah asal yang berupa kampung halaman, rumah tempat kelahiran, rumah tempat tumbuh berkembang, atau lingkungan yang pernah dalam jangka waktu tertentu kita menjadi bagian di dalamnya.

Semacam rasa haru ketika mengenang atau tidak sengaja terkenang akan sejarah masa lalu. Sejarah yang ikut andil membentuk diri kita pada saat ini. Sejarah yang menjadi bagian integral dari berbagai macam proses kita berkehidupan. Sehingga takkan bisa dilawan rasa haru itu untuk memantik tangis maupun air mata.

Namun, memang tak semua mudik akan menghasilkan tangis dan juga air mata. Tidak semuanya.

Menurut saya pribadi, haru yang menghasilkan tangis dan juga air mata karena mudik adalah ; karena sejarah yang tertulis di masa lalu dan hasil pada masa kini adalah suatu kebahagiaan.

Tanpa pemantik berupa kebahagiaan, takkan ada keharuan. Kebahagiaan itu tak mesti berupa materi. Bisa banyak hal diluar materi, dan tak mesti bisa diukur menggunakan barometer tertentu. Asalkan ada rasa bahagia pada sejarah masa lalu dan hasil masa kini, akan ada rasa haru.

Tanpa pemantik berupa rasa bahagia, mudik hanya akan terasa mengunjungi monumen kaku dan formal. Monumen yang sekadar menjadi pengingat bahwa pernah ada suatu peristiwa, kejadian, atau bahkan tempat yang kini sudah roboh oleh perjalanan waktu dan gusuran kepentingan.

Kiranya demikian yang saya rasakan ketika mengunjungi salah satu tempat monumental di dalam perjalanan kehidupan. Tempat yang bertahun saya menjadi bagian didalamnya, dan sedikit banyak membentuk karakter dan jati diri saat ini. Bagi saya, itu semacam lingkungan tempat tumbuh dan berkembang. Lingkungan yang mengajarkan berbagai hal, memahat berbagai pemikiran. Tetapi sebagaimana sekolah, betapapun bahagianya saat itu, saya tak ingin mengulangi bersekolah. Apalagi tidak bahagia…

Bukan saya ingin durhaka dengan berkata bahwa saat itu, ditempat yang baru saja saya datangi, saya tak merasa bahagia. Hanya saja, memang tak sedikitpun ada rasa haru menyeruak. Tidak ada rasa rindu dan ingin sedikit saja bernostalgia, apalagi ingin kembali menjadi bagian didalamnya. Terasa sangat datar dan formal.

Maka kemudian saya mencoba mengingat dan membaca ulang sejarah yang pernah ditulis disana. Mengapa sedikit aneh bahwa tak ada sedikitpun rasa haru dalam proses ‘mudik’ yang baru saja saya jalani. Ternyata karena berbagai proses yang terjadi disana saat itu, meskipun saat ini ikut andil membentuk diri saya, bukanlah proses yang membahagiakan.

Itu adalah proses yang sedikit menyakitkan karena saya harus bernegosiasi dengan idealisme saya sendiri. Menekan dan menghancurkan idealisme saya sendiri demi berdamai dengan status quo, atas nama stabilitas dan keamanan bersama. Meski jika boleh saya katakan ; stabilitas dan keamanan bersama itu semu belaka.

Stabilitas dan keamanan yang dibentuk diatas rasa takut penghuni didalamnya. Rasa takut yang enggan diakui oleh mayoritas penghuninya, tetapi dijabarkan dalam sikap keseharian dengan cara mendukung rasa takut tersebut tetap terpelihara.

Tentu saja saya tidak berhak menghakimi dan apalagi berpropaganda untuk menghancurkan rasa takut tersebut secara komunal bersama-sama. Masing-masing manusia, mempunyai batasan untuk tunduk terhadap rasa takutnya. Ada yang takut sekadar sedang dipandang oleh mata, ada yang takut ketika sudah dibentak dengan suara, ada juga yang baru merasa takut setelah mendapat pukulan, namun ada juga yang sama sekali tidak takut dengan semuanya.

Saya terus mencoba mengingat, sembari duduk dan mengisap sebatang rokok ditempat dulu saya juga biasa melakukannya. Tersungging senyuman alih-alih keharuan. Mungkin ini adalah tempat dimana ketika saya datang, maka tidak bisa disebut sebagai mudik.

Itu bukanlah rumah tempat kelahiran, bukan rumah tempat tumbuh dan berkembang, bukan pula lingkungan yang menumbuhkan kenangan perihal kebahagiaan.
Itu adalah arena perang, padang Kurusethra bagi batin saya sendiri terutama.

Tempat yang ketika kembali mendatanginya akan tersungging senyuman. Senyuman sebagai bentuk rasa syukur bahwa kini tak lagi disana sebagai bagian integral. Senyum sebagai suatu penanda bahwa yang lampau cukuplah sebagai pengingat, monumen formal yang harusnya memang hanya dilihat dan dikunjungi sekali waktu sebagai pengingat.

Kiranya Tuhan sangat berbaik hati, sehingga menekan rasa haru dari dalam diri saya ketika mengunjungi tempat itu. Dengan tidak adanya rasa haru, saya tidak akan menganggapnya sebagai rumah. Dengan tidak menganggapnya sebagai rumah, maka tidak ada alasan bagi saya untuk pulang.

Tuhan berbaik hati mengingatkan saya untuk tidak mengulangi perang yang pernah terjadi. Mungkin di waktu lampau saya selamat, tetapi belum tentu dimasa mendatang.

Tuhan, terima kasih untuk kunjungan yang seperti mudik. Terima kasih tidak ada tangis dan air mata. Terima kasih sudah mengingatkan dengan demikian gamblang.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.