Sepuluh Tahun

Meski tidak secara persis tahu pada koordinat mana perasaan itu berada, tetapi setidaknya saya tahu dimana letaknya. Letak perasaan dalam sepuluh tahun terakhir, dari seorang perempuan yang dengan rela menemani hari-hari saya.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi manusia. Jika diambil rata-rata usia manusia adalah tujuh puluh tahun, maka sepuluh tahun itu sudah satu per tujuh. Itu jika dari usia total. Jika diambil dari usia produktif manusia yang berkisar pada angka tiga puluh tahun dalam rentang usia dua puluh sampai dengan lima puluh tahun, maka sepuluh tahun sudah mengambil porsi sepertiga.

Sudah sepertiga usia produktif habis dalam sepuluh tahun terakhir, semenjak Desember tahun 2010. Semoga saja ada makna disana.

Sekira tahun 2012, dua tahun berjalan semenjak pernikahan kami, pernah suatu waktu dalam periode tertentu, kami menghabiskan uang dalam jumlah cukup besar. Cukup besar bagi kami tentu saja, bukan bagi anda. Kalau bagi anda, uang sebesar harga sepeda motor Yamaha Mio mungkin tak seberapa. tapi bagi kami, itu sedemikian banyaknya.

Uang itu ditelan oleh rangkaian panjang proses usaha disebuah rumah sakit besar di Yogyakarta. Sebuah proses panjang agar ada seorang anak yang memanggil saya ‘Bapak’, dan memanggil istri saya ‘Ibu’. Uang itu habis untuk mengikuti serangkaian tes laboratorium, untuk mengetahui apakah secara medis modern kami ‘layak’ dan ‘mampu’ menjadi perantara kelahiran soerang jabang manusia ke dunia.

itu adalaha proses yang menyakitkan, dan sejujurnya melukai nurani perasaan kami [terutama saya] sebagai manusia. Bagaimana tidak, bahwa kami harus menjalani serangkaian tes untuk dapat sekadar diketahui apakah kami ‘lengkap’ sebagai calon orangtua.

Singkat saja, secara medis kami normal, tetapi tetap saja belum hadir anak manusia yang memanggil kami ‘Ibu-Bapak’ dalam delapan tahun terakhir semenjak rangkaian tes itu.

Menyakitkan? Tergantung situasi dan kondisinya.

Dalam beberapa kondisi, saya sudah bisa berdamai dengan diri sendiri. Mungkin Tuhan mempunyai ‘maksud’ tertentu dengan tujuan yang baik, dengan membuat saya berada dalam suatu kondisi semacam ini. Yang terkadang menyakitkan, justru datang ketika saya melihat istri saya. Betapa sebenarnya ia sudah sangat menginginkan untuk dipanggil ‘Ibu’. Betapa ia terkadang merasa sangat kesepian ketika dalam setahun terakhir saya banyak bekerja diluar kota. Andai ada anak manusia yang memanggilnya ‘Ibu’…

Tetapi menjadi picik juga menjadikan istri sebagai alasan, sedang saya juga ingin ada seorang anak manusia memanggil saya ‘Bapak’. Istri saya kuat tentu saja, dan pandai mengolah perasaannya. Kalau tidak, tentu tidak akan ada tulisan sepuluh tahun yang sedang anda baca ini.

Sepuluh tahun berlalu, dan kami masih bertahan. Tentu saja berlalu dan berjalan serta bertahan dengan banyak bumbu, banyak rintangan, banyak racun dan tanpa perekat bernama anak. Saya tidak tahu sampai kapan masih akan bertahan. Satu-satunya yang melegakan, bahwa istri saya memilih untuk mati lebih belakangan daripada saya. Jadi kami bersepakat, bahwa kelak saya yang akan mati duluan. Dan memang saya menginginkan hal itu.

Tetapi bukankah akan aneh juga baginya, ketika kelak saya mati dan belum ada anak kami sampai sejauh ini? Entahlah…

Terkadang pikiran-pikiran itu berjalan dan atau terbang terlampau jauh. Melewati batas-batas kewajaran saya sebagai manusia. Kadang saya ingin melongok pada catatan takdir kami, apakah kami akan mempunyai anak atukah tidak. Setidaknya, untuk menepis dan mengikis serta mengurangi potensi kekhawatiran yang hinggap pada diri saya.

Setidaknya agar pada tahun-tahun mendatang andai saya masih hidup, dapat saya pastikan apakah akan ada yang memberikan ucapan “Selamat Hari Ibu’ pada istri saya ataukah tidak. Tidak ataukah hanya belum, dan itu saja yang ingin saya pastikan. Untuk hal-hal lain, biarlah semuanya tetap berlalu dengan misteri dan banyak tanda tanya.

Meski tidak secara persis, saya tahu bagaimana rasanya ‘sendirian’, bagaimana rasanya sepi, dan bagaimana rasanya melihat baris ketiga dalam Kartu Keluarga kami masih kosong tak berisi. Saya memang tak persis tahu bagaimana semua itu berkecamuk didalam hati dan pikiran sehingga mempengaruhi perasaan. Tetapi setidaknya saya tahu bahwa sepi dan sendiri itu menyakitkan.

Sepuluh tahun, dan tentu saja sekali lagi, bukan waktu yang singkat.

Semoga saja dalam tahun-tahun ke depan, dalam bulan Desember tahun-tahun mendatang, dalam bulan dimana kami mengawali semuanya, semoga ada perubahan. Paling tidak sudah ada yang memanggilnya ‘Ibu’, dan memanggil saya ‘Bapak’. Itu bukan harapan, tetapi semacam fait accompli kepada Tuhan.

Semoga saja Tuhan berbelas kasihan. Atau jangan-jangan, justru Tuhan menempatkan kami dalam takdir serta kondisi semacam ini, justru karena kasihan?

Bersabarlah untuk sepuluh tahun yang sudah berlalu, untuk sepuluh tahun yang akan datang, dan sepuluh tahun lagi setelah sepuluh tahun yang akan datang. Mungkin untuk seribu tahun mendatang kemudian, bersabarlah. Kelak pasti akan ada yang memanggilmu ‘Ibu’, dan memanggilku ‘Bapak’. Kelak entah kapan, kita serahkan saja pada Tuhan. Karena akan lebih mudah meminta pertanggungjawaban Tuhan, daripada meminta penjelasan dari kondisi serta keadaan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

73 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *