Setahun Puasa Media Sosial

Apa kabar teras dengan aksen berwarna biru? Dengan kerlap-kerlip neon box bertuliskan sebuah pertanyaan futuristik :

“Apa yang sedang anda pikirkan?”

Kira-kira bagaimana kabarnya saat ini?

Apakah masih ada burung-burung yang berkicau dengan merdu?
Apakah masih ada penjual nasi tenongan keliling?
Apakah masih ada sales asuransi yang setiap hari datang menawarkan bantuan?
Apakah masih ada pegawai bank plecit menawarkan pinjaman dengan syarat mudah dan bunga ringan?

Sudah setahun lamanya saya tak mengunjungi teras beraksen warna biru itu. Dengan sebuah hiasan berupa logo huruf ‘f’ —berwarna biru—, tepat di pojok taman dibawah lampu yang bersinar cukup terang.

Banyak pertimbangan yang harus saya ambil sebelum meninggalkan teras berwarna biru itu. Pertimbangan pertama, bahwa sebenarnya saya cukup lama karib dengan suasana teras itu. Sepuluh tahun kalau tak salah ingat.
Pertimbangan kedua, selama sepuluh tahun, teras beraksen warna biru itu sudah menjadi bagian budaya hidup saya, dan membentuk pola pergaulan sosial yang baru di dalam kehidupan pribadi saya.

Tentu ketika memutuskan untuk meninggalkannya, ada rasa berat dan enggan yang menggelayut di dalam pikiran, pun di dalam hati. Bagaimanapun, sepuluh tahun bagi usia manusia, adalah rentang waktu yang cukup lama. Banyak hal yang bisa terjadi selama rentang waktu tersebut. Bahkan selama sepuluh tahun awal kehidupannya, manusia akan mengalami perkembangan yang luar biasa. Mulai dari bayi yang hanya bisa menangis, dan sepuluh tahun kemudian ia sudah menjadi anak-anak yang beranjak remaja. Sudah lebih dari hanya sekadar bisa menangis.

Jika usia manusia berkisar pada tujuh puluh atau delapan puluh tahun, maka sepuluh tahun sudah mencakup dua belas setengah persen dari keseluruhan usianya. Bukan angka yang kecil kalau kita melihatnya sebagai sebuah angka statistik. Banyak hal dan perubahan bisa terjadi pada rentang angka tersebut. Baik terjadi perubahan yang baik, kemajuan positif, atau bahkan juga perubahan yang buruk, kemunduruan negatif. Semua bisa terjadi. Pesatnya perkembangan internet terjadi dalam kurun waktu juga sekira sepuluh tahun lamanya.

Selama sepuluh tahun, internet mengubah gaya dan budaya hidup manusia. Mempengaruhi semua lini kehidupan. Tak ada lini kehidupan manusia yang tak berubah karena pengaruh perkembangan internet. Dulu, kita tak bisa membayangkan bahwa bisa naik ojek dimulai dari depan rumah, dan alih-alih harus mendatangi pangkalan. Dulu kita tak bisa membayangkan membeli barang bisa sembari tiduran di kasur kamar, dan tak harus mendatangi toko-toko penjualnya.

Selama sepuluh tahun, banyak perkembangan yang sudah dan terjadi.

Begitu pula yang terjadi antara saya, dan teras atau beranda beraksen biru itu. Beranda dari sebuah rumah ‘lain’, rumah imaji tempat mengkanvaskan hal-hal yang takkan bisa digambarkan dalam kenyataan.

Bagaimana kabarnya sekarang?

Apakah masih banyak laki-laki dan perempuan fotomodel berseliweran, berjalan kesana kemari dengan wajah yang terlihat bersih mengkilap?
Apakah masih banyak penjual baju menawarkan dagangannya?
Apakah masih banyak agen teori konspirasi menjual pendapatnya melalui selebaran serupa iklan sedot WC di tiang listrik?

Sudah setahun terakhir saya tak duduk dan minum kopi di beranda rumah beraksen biru itu. Setahun terakhir saya tak duduk disana, dan tak lagi menyaksikan hiruk pikuk yang terjadi.

Terkadang, dalam hari-hari yang sepenuhnya terlewat dalam kenyataan, dari satu kenyataan menuju kenyataan lain, saya merindukan dunia dan beranda rumah imajinasi. Terkadang, saya merindukan beranda rumah itu.

Terkadang saja, dan kemudian saya akan lupa kalau merindukannya. Saya akan lupa karena tenggelam dalam kenyataan-kenyataan. Kenyataan-kenyataan yang tak bisa ditransformasikan menjadi imajinasi.

Dan lagi, teras beraksen biru itu mungkin memang tak cocok bagi saya. Terlalu mewah sepertinya, dan saya tak (lagi) nyaman duduk disana sembari menyesap kopi.

Dulu, memang pernah teras rumah itu terasa nyaman dan tenang, pun tak terlalu mewah dalam ukur pandangan saya. Itu terjadi pada sekira empat atau lima tahun pertama sejak saya mulai duduk dan bersantai di teras beraksen warna biru itu.

Belum banyak hiruk pikuk pedagang, apalagi fotomodel. Baru ada saling sapa dengan gambar dan foto sederhana. Isi tulisan masih lebih penting dari sekadar iklan yang terlihat dipaksakan.

Bulan ini, tanggal 14 April 2020 kemarin, sudah satu tahun saya meninggalkan beranda beraksen biru itu. Banyak yang saya rindukan, tetapi masih lebih banyak lagi yang tak saya rindukan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *