Spy

“Aku adalah semacam James Bond, tetapi dari Indonesia. Dari Badan Intelijen Negara [BIN], yang secara khusus diminta untuk bertugas pada kantor-kantor pemerintah atau lembaga negara. Saat ini, aku sedang ‘disewa’ oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama [Itjen Kemenag], untuk bertugas mengawasi kegiatan dan kondisi pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan [Balai Diklat Keagamaan]. Kebetulan saja ditempatkan pada Balai Diklat Keagamaan Semarang. Secara umum, bertugas sebagai spionase dan pengawas kinerja balai diklat secara keseluruhan pada level kelembagaan. Secara khusus, diminta untuk juga sanggup menjadi semacam kontra-intelijen bagi operasi lembaga intelijen asing, yang saat ini sudah banyak disusupkan pada kementerian atau lembaga pemerintah, pada level lembaga maupun personal individual pegawainya. Itu saja.”

Hening, dan sejurus kemudian tawa keras terdengar pecah dari ruang sekretariat Latsar Angkatan 33-38 di Hotel Plaza, Semarang.

Entah apa yang mereka tertawakan.Teman-teman baru saya itu, di tempat kerja baru itu. Entah menertawakan jawaban saya, atau menertawakan diri saya. Yang jelas mereka tertawa, syukurlah. Bisa membuat orang lain tertawa, bagi saya sudah lebih dari cukup sebagai media sedekah. Dengan lelucon, membuat orang lain tertawa, saya bisa bersedekah tanpa berharap imbal balik. Beda misalnya dengan ketika saya bersedekah dengan harta benda. Rasa-rasanya kok dalam lubuk hati terdalam seperti meminta semacam balasan. Itu kalau saya, kalau anda tentu saja tidak. Anda kan golongan orang-orang salih dan soleh yang tak berharap imbalan apapun atas sedekah yang sudah dikeluarkan.

Jawaban yang membawa-bawa nama BIN itu saya kemukakan, untuk menjawab sekian pertanyaan yang sama, dari orang-orang yang berbeda, dalam menanggapi kepindahan saya.

Begini pertanyaan mereka :

“Sebenarnya apa alasanmu pindah ke Balai Diklat?”

Sebenarnya beberapa orang yang pertama kali bertanya sudah saya berikan jawaban pasti. Jawaban yang sama persis dengan alasan sebenarnya dari kepindahan saya. Alasan yang tidak dibuat-buat.

“Saya ingin mencari pengalaman.”

Ternyata jawaban itu tidak memuaskan. Semua orang tidak percaya. ‘Pengalaman’ adalah sesuatu yang abstrak, menurut kesimpulan saya setelah mendengar ketidakpercayaan dari mereka yang bertanya. Maka saya tambahkan jawaban itu dengan kalimat lain :

“Ingin mencari suasana baru, dan mengenal lingkungan budaya yang baru.”

Suasana baru ya, bukan Suzanna baru. Kalau Suzanna baru, katanya Luna Maya adalah orangnya. Tetapi untuk apa mencari Suzanna baru, toh saya pernah melihat videonya, eh.

Ternyata tambahan kalimat itu semakin abstrak, semakin tidka masuk akal. Maka akhirnya keluar juga kalimat panjang mengenai BIN dan Itjen Kemenag itu tadi.

“Lagipula mosok mata-mata mengaku sebagai mata-mata?” seseorang mencoba menanggapi keseriusan saya.

“Justru itu, saya mengaku terlebih dahulu agar orang tidak percaya. Saya harus berpikir cepat bagaimana caranya agar saya tidak dipercaya sebagai seorang intelijen. Dalam teori operasi intelijen, istilah itu bernama veloc et exactus.” jawab saya, sekenanya.

Sebenarnya saya ingin mengaku sebagai Saras 008, tetapi saya harus memakai topeng dan Be-Ha, dan itu tidak mungkin.

Saya pun sesungguhnya ingin mengaku sebagai Bruce Wayne, anak orang kaya dari Piyungan City yang ingin menangkap Joker di Simpang Lima. Itu tidak mungkin juga, wajah saya jauh lebih tampan dari wajah Bruce Wayne si Batman yang pemurung itu.

Terakhir sempat terpikir untuk mengaku sebagai Lee Min-ho yang sedang bertugas untuk memasyarakatkan Luwak Kopi Putih di lingkungan Kemenag. Tetapi urung juga saya lakukan, saya tidak pernah memakai pelembab bibir.

Kelak, kalau masih ada pertanyaan lagi mengenai alasan kepindahan saya, saya akan mencari jawaban lain. Itu akan saya lakukan kalau mereka yang bertanya juga tidak percaya bahwa saya pindah karena mencari pengalaman.

Mungkin saya memang terlihat seperti alien di tempat baru ini. Makhluk asing yang kurang pekerjaan, dan sedikit sakit dalam ucapan, tindakan, maupun perbuatan.

Balai Diklat adalah lingkungan kerja yang mengharuskan untuk siap sedia full time. Hampir tidak ada waktu untuk libur, atau sejenak menghela napas beristirahat. Memang berbeda dengan beberapa lingkungan kantor yang saya pernah berada di dalamnya selama kurun waktu empat belas tahun terakhir.

Kalau dulu hari kerjanya jelas, dari Senin sampai Sabtu, atau dari Senin sampai Jumat, dengan jam kerja yang jelas juga setiap harinya, tidak demikian dengan Balai Diklat. Minggu tak mesti libur, apalagi hari Sabtu. Jam kerja juga tidak jelas, kadang sampai malam, kadang larut malam, dan terkadang larut pagi.

Mungkin karena itulah, teman-teman baru saya, heran. Kenapa ada alien yang sudah enak-enak hidup di Planet Qtkuwtwjbquts bekerja di Planet Kemenag kabupaten dengan jam dan hari kerja yang jelas, kok memilih pindah ke Planet Balai Diklat.

Mereka heran, ‘disini tidak bisa libur mas’, katanya.

“Tidak bisa libur ya mbolos.” tetapi saya batin saja, hahahaha.

Bagi saya pengalaman memang mahal. Ia hanya bisa ditukar dengan waktu dan tekad serta kemauan. Pengalaman enggan untuk ditukar hanya dengan uang atau bahkan angan-angan. Maka saya tak risau jika hanya kesulitan untuk libur atau cuti. Bagi saya bekerja juga sama halnya dengan hiburan dan liburan. Kalau ditakar ringan beratnya, hampir sama dengan pengangguran. Bahkan masih lebih berat menjadi pengangguran daripada mereka yang menekuni pekerjaan. Tak percaya? Silahkan saja menjadi pengangguran.

Lain kali saya akan mengaku sebagai Saitama jika ditanya tentang alasan kepindahan. Itu yang gambarnya saya jadikan gambar utama di tulisan ini. Superhero plontos dan polos berwajah imut-imut seperti saya.
Kelak saya akan mengaku sebagai Saitama, yang sedang bertugas untuk mengawasi kebersihan WC dan kamar mandi kantor-kantor pemerintah.

Kalau bersih, berarti bisa disimpulkan kantor tersebut ‘bersih’ juga. Kalau pesing, berarti kalau pipis jarang disiram.

Dah, itu saja.

Kalau sekarang, saya masih anggota BIN.

1 Comment

  1. Вероятно, на школьном собрание преподаватель заявил вам лично, что у ребенка могут быть проблемы с явными речевыми или языковыми навыками. Или может быть вы лично в свое время беседуя с ребёнком заприметили неожиданное шепелявость? Вы осознали что это неправильно? И если так, что нужно сделать? Все детки развиваются по разному, и для одних трансформация с простых слов к отлично выраженному и грамматически правильному предложению потребуется пару лет,а прочие почти сразу( к 1 году) начинают без умолка щебетать. Однако к пяти годам мальчик/девочка обязан(на) иметь навык не только лишь излагать тривиальные предложения, заключающиеся из двух, трёх слов, но и дополнительно последовательно делать длинные фразы. Осмотр сертифицированным логопедом помогает разобраться, имеются ли у ребенка проблемы в речи. Kогопедическое занятие – это помощь для основной массы детей с патологиями речи и / или разговорного языка,или ЗПР.
    Нашим детям возможно понадобится помощь логопеда по всевозможным основаниям, вы должны привести школьника к специалисту, когда: ” Вам или близким людям нелегко понять ребенка. ” Все начинают думать, что ребенок младше, чем собеседник, так как он плохо разговаривает. ” Школьника обзывают из-за того момента, как он говорит. ” Ребенок использует меньше слов, чем прочие малыши этого возраста.
    ГОСПИТАЛЬ КОРРЕКЦИИ ОБЩЕГО НЕДОРАЗВИТИЕ РЕЧИ несомненно поможет вашему малышу навести справку с любыми проблемами речи и языка. Звоните нам, запишитесь на первое занятие, и мы поможем малышу.

    советы психолога детям

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *