Suatu Sore Tahun Baru 2021 Bersama Slash Di Watu Amben

Rasanya sangat beruntung, ketika saya mempunyai kesempatan untuk sedikit berbincang dengan Slash. Mana ada lagi kesempatan semacam ini. Kesempatan yang aneh bin ajaib. Kesempatan yang bahkan hanya menempati skala peluang nol koma sekian persen. Tetapi saya mendapatkannya.

Eh….anda tidak tahu Slash? Gitaris band Guns N Roses?
Ya ampun, anda pasti hanya tahu Anji atau Charly ST12. Sudahlah, tak mengapa.

Yang jelas bagi saya, ini sangat istimewa, spesial. Kalau martabak telur, ini sudah yang pakai telur lima butir.

Tak perlu saya jelaskan dengan detail bagaimana saya bisa bertemu dan berbincang bersama Slash. Singkatnya, ketika saya terbangun pada pagi tanggal 1 Januari 2021, sebuah pesan singkat masuk ke hape saya. Bunyinya :

“Mas, nanti sore saya nganter Slash ke Watu Amben. Kalau mau ketemu dateng aja jam setengah lima. Tadi orangnya dah bersedia ketika tak sampaikan ada yang mau ketemu.”

Itu pesan dari seorang pengemudi rental mobil merangkap tour guide di Jogja. Kami hanya pernah ketemu sekali ketika sama-sama mengantri membeli masker di apotek, beberapa bulan lalu ketika corona sedang mewabah.

“Siap. Aku datang bos.” saya balas pesan tersebut.

Sore, saya sudah memacu Bleky menuju Watu Amben. Anda juga belum tahu Watu Amben?
Saya kasih tahu, tempatnya lebih menyenangkan dari Bukit Bintang di Pathuk Gunungkidul itu, yakin. Tempatnya juga tak jauh dari Bukit Bintang, bahkan masih dalam satu punggung pegunungan yang sama. Kalau dari arah Jogja, setelah melewati Bukit Bintang dan sampai pada perempatan jalan, anda bisa mengambil arah kanan.

Sampai di lokasi Watu Amben, saya tak kesulitan mencari tempat parkir, suasana masih sepi. Mungkin ramainya tadi malam, ketika pergantian tahun. Saya memarkir Bleky tepat didekat sebuah batu karang yang mirip amben atau dipan. Itulah asal muasal nama Watu Amben. Karena ada batu karang yang mirip dengan amben atau dipan (tempat duduk/tempat tidur panjang dan lebar dalam bahasa Jawa) disana. Sayangnya, sekarang batu karang dipuncak bukit itu sudah terhimpit bangunan warung. Tapi tak mengapa, bolehlah agar masyarakat setempat juga mendapat penghasilan tambahan.

Ketika saya memarkir Bleky, disana sudah ada sebuah mobil Toyota Avanza. Disebelahnya berdiri seorang lelaki yang saya tak asing lagi meski baru sekali bertemu. Itulah si sopir dan sekaligus tour guide yang mengirim pesan kepada saya. Belum sampai saya selesai melepas helm, lelaki itu sudah menghampiri.

“Gasik to mas?”

“Lhah jaremu setengah lima?”

“Iyo sih.”

“Neng ndi wonge?”

“Gek pesen kopi.”

Kami kemudian mengambil tempat duduk diatas Watu Amben itu, meski memang tak lantas rata laiknya amben dari kayu. Tak berapa lama datanglah orang termaksud, legenda gitar dunia itu, Slash. Dibelakangnya seorang perempuan berjalan membawa nampan berisi tiga gelas kopi hitam.

“Apa kabar?” tak disangka, Slash menyapa terlebih dahulu sembari mengulurkan tangan.

“Eh, baik. Silahkan duduk.” Jawab saya sembari berbasa-basi. Grogi juga.

Dulu rupa dan bentuk dari Slash hanya bisa saya lihat dari stiker ataupun poster yang dijual di pasar malam atau emper toko sepanjang Malioboro. sekarang dia sudah ada di depan saya.

“Ngobrol berdua ya, saya mau masuk ke warung.” si pengemudi sekaligus tour guide berkata sembari beranjak berdiri dan meraih satu dari tiga gelas kopi yang masih ada di nampan.

“Sudah kemana saja liburan tahun baru ini di Indonesia?”

“Baru di Jogja saja, dan memang hanya berencana di Jogja. Tak ke tempat lain.”

“Kenapa?”

“Tak semua hal membutuhkan alasan spesifik.”

“Okay. Boleh bertanya sesuatu? Oh ya, boleh sambil merokok?”

“Boleh, silahkan. Saya minta satu batang.”

“Lhoh, ngrokok juga?”

“Lhaiya, kenapa memangnya?”

“Saya kira anda ga merokok.”

“Juga tak semua hal harus dipublikasikan.”

“Takut memberi pengaruh buruk pada generasi muda? Karena anda ini terkenal, dan lebih dari itu, banyak orang menjadikan anda panutan.”

“Berlebihan. Saya tak pernah merasa terkenal, dan apalagi menjadi panutan. Lagipula apa salahnya dengan merokok? Banyak kan video klip Guns yang secara gamblang memperlihatkan kami merokok, bahkan minum.”

“Saya kira itu hanya kepentingan video saja, asli toh?”

“Asli lah, tak ada sandiwara.”

“Termasuk bubarnya Guns karena anda berselisih dengan Axl Rose? Asli juga tanpa rekayasa?”

“Ayolah, saya sudah berbaikan dengan Axl, jangan ungkit lagi masalah lama.”

“Berarti memang karena masalah?”

“Sejujurnya iya, lagipula itu juga sudah banyak saya sampaikan dalam berbagai wawancara.”

“Tapi kan saya belum mendengarnya langsung dari anda.”

“Penting ya?”

“Penting lah. Saya penggemar Guns sejak sekolah dasar.”

“Benarkah? Tahu lagu-lagu Guns?”

“Tidak juga. Saya menjadi penggemar karena banyak melihat poster Guns dijual di Indonesia. Termasuk poster ikonik dalam tanda salib itu.”

“Hahahaha…”

Slash tertawa lebar dan cukup lama, sebelum akhirnya berhenti dan menyulut sebatang rokok yang dia minta.

“Rokok dari Indonesia selalu lebih enak dari rokok Amerika. Beberapa tahun terakhir ini rokok saya samsu. Ini rokok apa? Bukannya rokok Indonesia hanya kretek saja tanpa filter?”

“Ini Djarum Super. Kretek dengan filter. Kalau samsu itu kretek tanpa filter. Yang membedakan dengan rokok Amerika adalah penggunaan cengkeh.”

“Oh ya.” Slash terlihat beberapa saat menikmati kepulan pertama dari rokok yang dia sulut.

“Tadi mau bertanya apa?” lanjutnya.

“Sudah saya tanyakan.”

“Bubarnya Guns?”

“Yup.”

“Kenapa banyak orang menyesali bubarnya Guns?”

“Lhoh, kok malah bertanya? Saya yang harusnya bertanya dan anda menjawabnya.”

“Tak usah disesali sebenarnya. Lha wong kami itu hanya iseng ngeband saja, tak lebih.”

“Dulu tak pernah kepikiran reuni setelah bubar? Yaaa sekira dua atau tiga tahun setelah menyatakan diri bubar.”

“Enggak lah, kami bukan alumni, ngapain reuni. Lagipula kami ya tetap Guns. Saya, Axl, Duff, Izzy, Reese, Richard, Ferrer, kami semua tetap Guns meski tidak lagi ngeband bareng?”

“Tidak kangen dengan mereka?”

“Ngapain kangen sama laki-laki bajingan seperti mereka?”

Saya tertawa keras dan Slash juga menyusul tertawa. Teman baik memang terkadang tak usah dirindukan saja. Karena kalau dirindukan, berarti sudah ada jarak yang membentang. Dan saya kira, mereka memang tak pernah berjarak sebenarnya meski sudah bubar.

“Lagu November Rain itu, dapat ide darimana?”

“Spontan saja, ketika mobil kami mogok dalam perjalanan, dan kebetulan berhenti di depan sebuah gereja tua, kemudian turun hujan deras. Kami berdendang, dan jadilah aransemen musiknya. Lirik menyusul belakangan.”

“Gereja tua…”

“Kenapa?”

“Jangan-jangan sebenarnya inspirasi itu datang dari Panbers? Dalam lagu Gereja Tua itu?”

“Ah bangsat, jangan membuka rahasia. Saya penggemar Panbers, terutama lagu Gereja Tua itu.”

Slash mengambil segelas kopi, menyeruputnya perlahan.

“Kopi Indonesia juga lebih enak dari kopi Amerika.”

“Ya jelas to. Kopi Amerika imporan dari Indonesia kok, piye sih.”

Slash tertawa lagi.

“Banyak hal yang menyenangkan dari Indonesia. Tertarik menetap disini?”

“Ah tidak, saya tetap lebih nyaman tinggal di Amerika. Home sweet home, you know?”

“Yes.”

“Lagipula, tak banyak yang bisa saya kerjakan disini.”

“Banyak lah.”

“Contohnya?”

“Jadi youtuber. Kayak Alip_Ba-Ta itu.”

“Ah ya Alip_Ba_Ta. Jari-jarinya luar biasa, sangat luar biasa. Saya penggemar permainan gitarnya.”

“Oh ya?”

“Ya, dia memang luar biasa. Hanya satu saja kekurangannya.”

“Dia, dan juga banyak lagi musisi Indonesia, harus mulai lebih kreatif untuk membuat aransemen musik dan lagu mereka sendiri. Jangan hanya mengcover musik atau lagu dari pihak lain. Nanti kurang kreatif. Tetapi secara teknis, musisi Indonesia sangat luar biasa.”

“Benar juga sih.”

“Bukankah Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa sepandai apapun orang, jika ia tidak menulis maka akan tenggelam oleh jaman. Menulis adalah pekerjaan keabadian. Termasuk menulis lagu, nada-nada. Buktinya Guns, sudah puluhan tahun kami tak lagi membuat lagu, tetapi November Rain atau Sweet Child Of Mine masih banyak dinyanyikan.”

“Eh tunggu. Anda tahu Pramoedya, baca buku atau tulisannya juga?”

“Enggak juga sih.”

“Lha trus kutipan itu tadi?”

“Saya tahu dari tour guide itu tadi sepanjang perjalanan. Ia bercerita tentang Parmoedya, dan juga kutipannya yang katanya ia baca dari situs blog anangaji(dot)com. Entah situs atau blog apa itu. Tetapi yang jelas, kutipan dari Pramoedya itu benar adanya.”

Saya tertawa dan sekaligus tersenyum kecut, dan saya ingat bahwa pada pertemuan pertama dengan tour guide itu, saya berikan stiker anangaji(dot)com.

“Menetap saja disini.”

“Enggak lah. Kalau jadi youtuber, itu kan bisa saya lakukan dari Amerika.”

“Kalau begitu, buka saja kursusan les privat alat musik khususnya gitar.”

“Nanti saya kalah sama Ahmad Dhani School Of Rock atau Purwacaraka, malu kan ya.”

“Jualan sayur keliling saja. Rambut dan topi ikonik anda itu akan menjad nilai lebih.”

“Kenapa tidak menyarankan jual kerupuk saja?”

“Ah ya itu lebih bagus. Kebanyakan penjual kerupuk di Indonesia topinya gitu-gitu aja.”

“Lebih baik saya buka angkringan sembari menyediakan live musik.”

“Nah, bagus kan?”

“Tapi saya takut kalau harus setor jatah ke preman lokal setempat.”

“Takut?”

“Bukan takut. Kalau di Amerika, preman meresahkan itu sudah bisa langsung ditembak ditempat, apalagi kalau melakukan pemerasan pada pedagang kecil. Lha kalau disini, saya bisa kena pasal meski hanya membela diri.”

“Sebenarnya ada satu pekerjaan yang cocok bagi anda di Indonesia, terutama di Jogja ini.”

“Apa?”

“Guru seni musik di MTs.”

“Apa itu Mts?”

“Semacam sekolah lanjutan tingkat pertama, tetapi dengan basic agama Islam.”

“Lhah, gila apa?”

“Kenapa?”

“Saya bisa didemo, diteriaki, sembari dibawakan fentungan.”

“Bwahahahaha…”

Saya tertawa sekerasnya, dan Slash juga tertawa sembari kemudian mengambil kembali sebatang rokok Djarum Super, menyulutnya.

“Mampir rumah saya? Dekat saja, hanya dibawah situ.”

“Dekat?”

“Sangat dekat. Kalau memakai teropong, mungkin akan terlihat atapnya.”

“Lain waktu. Saya masih cukup lama di Jogja.”

“Okay. Pertanyaan terakhir sebelum saya pamit.”

“Okay. Lagipula masih terang, kenapa tergesa?”

“Ah, tak enak mengganggu waktu anda yang sedang bertamasya.”

“Bukan apa-apa, santai saja.”

“Pertanyaan terakhir?”

“Silahkan.”

“Kenapa bermain gitar itu sangat sulit?”

“Kata siapa?”

“Ya kata saya, gimana sih.”

“Anda salah. Bermain gitar itu mudah saja. Tinggal anda ambil gitar, dan mainkan nada sesuka suasana hati anda. Sederhana.”

“Ah bangsat.”

Slash kembali tertawa keras, kali ini bahkan sampai ia melepaskan topinya yang seperti tobong gamping itu.

“Baiklah, terima kasih untuk waktunya. Saya pamit dulu, jangan lupa kapan-kapan mampir kalau masih ada waktu.”

“Okay, terima kasih juga untuk bincang-bincangnya. Oh iya, siapa nama anda?”

“Hah? Kita belum kenalan?”

“Belum, kan?”

“Kok sudah ngobrol panjang lebar?”

“Tak apa, itu tanda bahwa sebenarnya manusia bisa saling akrab dan mengenal tanpa harus secara formal berkenalan.”

“Anda bijaksana juga. Saya Anang.”

“Baiklah Dik Anang, saya….”

“Tak usah disebut juga, cukup saya kenal anda dengan nama Slash saja, tak usah nama asli, nanti saya malah bingung.”

“Hahahaha, baiklah. Sampai jumpa lagi dilain kesempatan.”

“Siap.”

“Rokoknya ketinggalan.”

“Buat anda saja, saya masih punya banyak di rumah.”

“Okay. Terima kasih banyak.”

Kembali saya pacu Bleky setelah berpamitan, dan tak lupa juga mengucapkan terima kasih pada tour guide yang baik hati itu.

Slash hanya belum tahu kalau bungkus rokok yang saya tinggalkan untuknya itu hanya tinggal menyisakan dua batang saja.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *