Tahun Baru Yang Tak Benar-benar Baru

Kita adalah nyala terang, yang akan padam dalam kesendirian. (Gambar : Pixabay)

Jika beberapa orang saja, baik yang mengakui bahwa sebentar lagi terjadi pergantian tahun, ataukah yang menolaknya, diberi pertanyaan tentang alasan mengapa mengakui dan menolak, saya yakin dari beberapa itu hanya sedikit yang bisa mengemukakan alasan dengan lugas.

Beberapa dari kita, banyak yang hanya sekadar latah, dan ikut-ikutan dalam rombongan mendukung dan menolak, tak terkecuali dalam menyikapi tahun baru Masehi, beserta perayannya.

Mengapa?
Silahkan berdiri di depan cermin, dan kemukakan pertanyaan tersebut.

Bagi saya sendiri, tahun baru Masehi datang menjelang dan (akan) terlewat dengan biasa saja. Sama seperti tahun baru Hijriyah, atau juga tahun baru Imlek. Sungguh, ini hampir sama dengan hari-hari biasanya.

Jika ada sedikit perayaan, maka itu bukan untuk bersuka cita dan bergembira ria secara berjamaah merayakan bertambahnya usia. Tetapi sedikit perayaan itu hanya untuk bersama-sama melewati malam, karena libur pada keesokan harinya.

Ya, hampir semua kawan, sahabat dan tetangga yang bergembira dan makan bersama pada malam tahun baru itu, ikut menikmati libur.
Di Indonesia, mereka yang menolak tahun baru Masehi dan mengharamkan perayaannya, sedikit banyak pasti juga akan menikmati waktu libur yang tersedia. Mungkin, saya hanya membuat perkiraan.
Perihal mereka memberi sebutan hari apa untuk libur pada 1 Januari ini, entah saja.

Ini hari yang sama dengan hari-hari lain, pada tanggal dan bulan yang lain. Jika ada yang tak sama, itu adalah pemaknaan kita terhadap waktu yang terlewat. Ya, entah kita menggunakan kalender dan satuan waktu jenis apapun, selalu ada hal-hal yang tertinggal di belakang. Selalu ada sisa dari tiap langkah dan kejadian, selalu ada kenangan, selalu ada bekas yang melekat pada dinding waktu jatah kehidupan.

Setiap hari, seharusnya adalah solusi, sekaligus resolusi. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menumpuk sekaligus banyak hal dan rencana. Stamina manusia tidak akan kuat untuk menjalani resolusi dalam tiga ratus enam puluh lima hari, dan apalagi berencana jangka panjang untuk solusi-solusi. Setiap hari, seharusnya adalah resolusi sekaligus solusi, untuk hidup yang sebenarnya tak pasti.

Satu tahun, tiga ratus enam puluh lima hari, adalah rentang perkiraan. Perkiraan manusia bahwa dalam sekian ratus hari ke depan itu, harus ada rencana dan target yang harus dicapai, diselesaikan.
Tetapi, dalam satu hari ke hari berikutnya, adalah medan pertempuran sebenarnya bagi solusi dan resolusinya ketika menemui hambatan serta rintangan.

Setiap hari, seharusnya adalah pembaruan.

Tak mesti menunggu akhir dari habisnya perhitungan tanggal pada satu kalender, untuk membuat rencana-rencana dan perhitungan.
Jika ada suatu hal yang mengharuskan keberadaan tanggal, tentu itu adalah hal-hal yang bukan melekat pada masing-masing jiwa manusia. Laporan-laporan dan urusan pekerjaan misalnya. Toh, manusia juga yang menentukan akan sampai dimana baik-buruk laporan dan kegiatan, dalam laku keseharian.

Satu tahun hanya sebuah akumulasi dan rekapitulasi saja dari apa yang terjadi dalam satu demi satu hari-hari yang terlewati.

Ini adalah hari yang biasa saja, sama saja. Tak perlu menjadi pertentangan perihal perayaan dan bagaimana cara melaluinya. Jika kita menyaksikan satu pihak melakukan perayaan besar-besaran, dengan perkiraan biaya yang jauh di atas nalar pemikiran kita, dan seketika kita berucap,—lebih baik untuk digunakan membantu orang-orang yang lebih membutuhkan—.
Siapa tahu, pihak-pihak, orang-orang yang melakukan perayaan besar-besaran itu, dalam jangka waktu tertentu lebih banyak membantu orang dan pihak lain yang membutuhkan, dengan besaran nilai yang jauh melampaui apa yang pernah kita lakukan untuk hal yang sama.

Mengapa kita seringkali lupa, terhadap kekerdilan kita, bahwa kita mempunyai keterbatasan.
Kekerdilan kita membatasi untuk tak bisa melihat dan menjangkau terhadap apa yang orang lain lakukan, dalam keseharian. Bisa jadi, orang-orang yang kita anggap melakukan kesia-siaan pada malam 1 Januari, sudah melakukan banyak hal yang lebih berguna daripada kita, dalam satu tahun belakangan.

1 Januari bukan tentang bagaimana kita melewatinya, tetapi tentang bagaimana diri kita ketika melewatinya. Apakah dengan bertambahnya usia, serta bertambahnya lumut dan cendawan dalam dinding kehidupan, kita sudah menjadi sebenar-benarnya manusia?

Bukankah,
Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesamanya?

Klaim tentang kebenaran yang selama ini bertebaran di sekitar kita, adalah relatifitas yang tentu saja masih berpeluang untuk diperdebatkan. Relatifitas dan tafsir yang takkan pernah kita ketahui perihal kesejatian dan kebenarannya yang hakiki, yang tak berpeluang diperdebatkan. Sehingga, terlihat sebagai suatu kebenaran bagi kita, belum tentu adalah kebenaran bagi orang lain.

Sikap dan perbuatan kita sehari-hari, apakah sudah berguna bagi orang lain, apakah tidak menyakiti orang lain, tidak merugikan orang lain, jauh lebih penting daripada perdebatan mengenai hukum melewati satu malam, dengan atau tanpa perayaan.

Jauh lebih penting kita gunakan waktu yang semakin rakus memakan jatah usia kita, untuk bersyukur kepada Sang Pencipta. Untuk selanjutnya, berusaha semakin keras agar usia kita benar-benar berguna. Bagi diri sendiri, keluarga, saudara, dan sesama manusia serta alam semesta.

1 Januari adalah keniscayaan yang akan terjadi, terlewati. Menambah umur kita, mengurangi jatah usia.

Manusia menunggu terlahir dalam rahim kesunyian, hidup dan menyala terang sendirian, dan akan padam dalam kesendirian.

Jika ada sedikit saja yang membuat manusia seakan ‘abadi’, itu adalah sikap dan perbuatan, dalam kehidupan sehari-hari. Baik buruk yang akan terekam dalam memori kolektif manusia, dan alam semesta.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

  1. I happen to be writing to make you understand what a terrific experience our princess went through visiting yuor web blog. She realized such a lot of things, with the inclusion of what it is like to possess an incredible teaching style to make the others without hassle thoroughly grasp various tricky topics. You undoubtedly surpassed visitors’ expected results. Thanks for showing those valuable, trustworthy, revealing not to mention unique tips on your topic to Sandra.

  2. I am glad for writing to make you know what a incredible encounter my friend’s girl gained studying your web page. She learned plenty of pieces, which include what it’s like to possess an awesome helping mood to let other folks smoothly know just exactly several multifaceted subject matter. You truly exceeded our own expectations. Thank you for offering these necessary, safe, explanatory and even fun tips about this topic to Julie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *