Tak Ada Yang Baru Dari New Normal

Tiba-tiba saja Covid-19 atau corona tenggelam dan kalah oleh istilah baru di Indonesia. Kalah dan tenggelam oleh rangkaian kata, New Normal.

Nah, kalahnya corona seperti yang sudah pernah saya sampaikan, sepele saja. Bukan oleh obat atau sesuatu apapun yang berhubungan erat dengannya. Dengan hal dari dunia medis misalnya.

Kalahnya corona di Indonesia ternyata oleh satu hal saja yang akhir-akhir ini banyak diutarakan oleh pemerintah dan kemudian dimasifkan oleh media massa, New Normal.

New Normal akhir-akhir ini menjadi lebih seksi dari corona.

Tetapi, apa itu New Normal?

Katanya sih, normal baru. Kalau dari pemaknaan kata, tatanan baru.

Nantinya, protokol atau aturan sosialisasi hubungan antar manusia, harus mengikuti tata cara New Normal ini. Begitu pula dengan pola hidup yang berkaitan dengan kesehatan individu manusia, juga harus mengikuti tata cara baru yang ditetapkan itu.

Misalnya saja melanjutkan apa yang sudah berjalan saat ini, ketika corona masih seksi oleh karena berita, dan belum keriput juga oleh berita. Rajin cuci tangan misalnya. Sebenarnya sih tak benar-benar baru aturan untuk sering-sering cuci tangan itu. Karena semenjak saya TK, guru-guru saya sudah seringkali mengingatkan dan mengajarkan untuk rajin cuci tangan.

Tetapi memang yang terjadi adalah sebaliknya. Manusia Indonesia lebih sering cuci kaki daripada cuci tangan.

Maka sebenarnya jika pendidikan di Indonesia ini berhasil, tak ada yang harus dipermasalahkan dengan anjuran dan atau aturan untuk rajin cuci tangan. Yaa karena bahkan semenjak TK, generasi milenial seperti saya sudah karib dengan anjuran mencuci tangan.

Setelah bermain, cuci tangan. Setelah ngupil, cuci tangan. Setelah makan, cuci tangan. Yaaa apalagi sebelum makan, cuci tangan. Bahkan kalau saya sebagai muslim, paling tidak minimal lima kali sehari harus juga cuci tangan melalui mekanisme wudhu.

Bagaimana, tak ada yang benar-benar baru bukan?

Bukan sesuatu yang baru

Maka saya sedikit bingung dengan gencarnya istilah New Normal. Dimana coba yang baru?

Tidak boleh salaman?
Itu juga bukan sesuatu yang baru.

Tidak percaya?
Apa anda mesti salaman jika bertemu orang lain?
Enggak juga kan?

Mosok anda mau salaman tiap kali ketemu orang? Bisa kriwil dong jari tangan anda.

Apalagi? Jaga jarak?
Itu juga bukan sesuatu yang baru.
Karena sejak lama ada anjuran, hati-hati dan jaga jarak dengan orang yang baru anda temui atau baru anda kenal.
Nah, mana yang baru?

Kalau saat ini, tinggal menyesuaikan diri saja agar anjuran itu tidak menjadi semacam beban. Bukan menjadi semacam aturan yang membatasi. Mengalir saja, jangan sampai merasa diatur. Hidup sekali kok kebanyakan aturan.

Hanya ada sedikit modifikasi saja dari apa yang disebut normal baru itu. Misalnya saja perihal perangkat alat kelengkapannya. Selebihnya, tak ada yang baru.

Kalau saya sih sudah semenjak lama seringkali sedikit menjauh dari kerumunan, karena saya merokok. Saya tidak mau orang lain merasa terganggu dengan aktifitas saya merokok. Maka acapkali ada kerumunan dan apalagi bukan kerumunan perokok, saya menjauh.
Nah, ada hikmahnya kan menjadi perokok?

Yang menjadi sedikit meresahkan dari istilah New Normal ini adalah, pemilihan diksi untuk berdamai dengan virus. Nah, untuk satu ini saya sama sekali tidak setuju.
Mosok sama virus kok berdamai. Apa gunanya ilmu kalau sedikit-sedikit damai tanpa solusi nyata?

Tanggung jawab dulu, baru damai. Urus dulu kepentingan masyarakat, baru damai. Temukan dulu vaksinnya, baru damai. Perang dulu, baru damai.

Mosok ada penjahat datang ke rumah, tanpa perlawanan dan hak untuk membela hajat hidup serta harta benda, kita langsung menyerah meski dengan pilihan diksi yang lebih lembut, berdamai.

Pilihan kata atau diksinya akan lebih baik jika bukan berdamai dengan virus, melainkan misalnya semacam ini :

“Mari kita berdamai dengan alam dan diri kita sendiri, untuk tak serakah dan agar selamat tidak dieliminasi oleh waktu dan juga alam.”

Herd immunity

Dalam New Normal itu, terkandung juga istilah Herd immunity yang sempat menjadi heboh. Tentang bagaimana yang kuat akan bertahan, dan yang lemah hilang ditelan keadaan.

Itu juga bukan sesuatu yang baru. Bukankah semenjak dahulu juga begitu? Yang kuat (masih) akan tetap hidup, dan yang lemah akan mati?

Yang masih kuat menjalani hidup ya akan tetap bertahan, dan yang sudah tidak kuat menjalani hidup, akan mati. Memang sudah ketentuan Tuhan, tak ada yang aneh, tak ada yang baru.

Maka oleh karena itu manusia diperintahkan untuk menjaga kesehatannya, baik lahir maupun batin. Tetapi ya sebatas itu saja sebenarnya. Agar manusia menjaga kesehatannya.
Kalau sudah berkaitan dengan hidup-mati, itu urusan Tuhan. Tugas manusia adalah berusaha.

Herd immunity adalah seleksi alam yang wajar belaka, bukan suatu yang baru cum menakutkan. Tidak.
Yang menakutkan itu andai ketika lapar, kita tak mempunyai makanan. Iya po gak?

Jangan sampai pikiran kita didikte oleh propaganda dari pihak luar. Dipengaruhi oleh hal-hal yang kelihatannya menakutkan, padahal sama sekali bukan hal menakutkan. Sehat-sakit, hidup-mati, adalah domain atau wilayah yang manusia hanya bisa sebatas berusaha. Manusia bukan penentu hasil.

Maka ya bersikap lah yang wajar dan biasa saja, jangan sampai ada propaganda yang bisa menekuk hati dan perasaan kita untuk menjadi lemah. Biasakanlah untuk menerima pengaruh dan propaganda, dari diri kita sendiri. Andai harus menerima informasi dari pihak luar, biasakanlah mempunyai filter atau penyaring.

Filter dan penyaring untuk mengetahui potensi diri kita. Filter dan penyaring yang berupa pemahaman dan pengenalan terhadap diri kita sendiri. Kalau kita yakin tubuh dan diri kita sehat serta kuat, dengan mendasarkan pada pemahaman keilmuan yang tepat, menjalani hidup yang sehat sesuai porsi diri kita, untuk apa khawatir dengan istilah herd immunity?

Ayolah, itu bukan sesuatu yang baru.
Pada akhirnya kita akan mati juga, tetapi setidaknya kita mati setelah menjalani hidup dengan sungguh-sungguh dan penuh kehormatan. Bukan hidup yang mudah terombang-ambing oleh wacana dan propaganda dari luar diri kita.

Tak ada yang benar-benar baru

Dalam hidup ini, tak ada yang benar-benar baru. Semua hanya pengulangan pola. Pola sejarah yang terus menerus berulang. Yang baru hanya istilahnya saja. Pun jika kita paham sejarah, istilah itu juga tidak baru. Yang baru mungkin penggunaan bahasa yang berbeda.

Masuk mal, hotel, atau tempat umum lainnya, kita juga pernah mengalami diperiksa secara ketat. Terjadi selepas maraknya peledakkan bom oleh orang-orang yang kurang waras. Kalau sekarang mengharuskan dicek lagi, ya bukan sesuatu yang baru.

Pola sejarah yang berulang itu mungkin dulu disebut dengan istilah dalam bahasa Sansekerta, kemudian bahasa Jawa, kemudian Ibrani, kemudian Arab, kemudian bahasa Inggris.

Penggunaan bahasanya saja yang berbeda, tetapi dalam makna dan arti yang sama.

Dari jaman Nabi Adam sampai kelak kiamat, akan selalu ada pembaharuan dan seleksi alam. Juga akan selalu berlaku hukum Tuhan bahwa siapa yang kuat akan bertahan. Entah kuat fisiknya, kuat hatinya, kuat pemikirannya, atau kuat jiwanya, entah saja. Tetapi memang hukum Tuhan sudah berlaku demikian itu.

Lantas, apa yang dikhawatirkan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

41 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *