Tak Semua Hal Layak Dikhawatirkan

//A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose undefined
While I recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that I was there
And where I’d love to be, oh yeah//

Terpaksa saya harus meminjam lirik lagu, untuk membuka tulisan ini. Seperti biasa, tulisan sampah yang tak ada gunanya.

Setiap kali merasa cemas, khawatir, gelisah, salah satu cara untuk mulai menenangkan diri, saya akan memutar lagu tersebut. Menghayati liriknya, —meski tak terlalu paham artinya—, dan menikmati alunan musiknya. Perlahan, saya akan mulai tenang, dan sedikit demi sedikit mulai bisa mendudukkan perasaan, mereduksi kecemasan serta kegelisahan, juga kekhawatiran.

Terlalu banyak hal yang bisa membuat saya cemas, khawatir, gelisah, atau apapun itu perihal perasaan yang tak menyenangkan. Terlampau banyak. Saya bukan manusia yang ‘easy going’ dengan permasalahan. Dalam arti, karib dan mahfum bahwa masalah adalah keniscayaan dalam hidup manusia, dan dengan itu merasa ringan ketika suatu waktu dihinggapinya.

Tidak, pada kenyataannya, banyak hal yang membuat saya rentan, dan merasa ringkih dari waktu ke waktu.

Kepercayaan terutama. Saya merasa bermasalah terhadap rasa percaya, terutama terhadap diri sendiri. Terhadap kemampuan diri saya untuk menghadapi kehidupan, terhadap nilai-nilai kebaikan di dalam diri, dan banyak hal lainnya.

Saya akan merasa bahwa diri saya tak akan bisa bekerja dengan baik, atau menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Saya akan mudah tertekan, dan mudah merasa bahwa sebenarnya saya tidak pantas dibebani suatu tanggung jawab pekerjaan.

Saya merasa, kemampuan diri saya sangat tidak bisa diandalkan. Andai bukan seorang pegawai negeri, mungkin saya tidak akan bisa bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan. Saya merasa, tidak mempunyai kemampuan apapun.

Hal seperti itu membuat saya cemas. Bukan sekadar perasaan subyektif saja, namun kenyataan. Saya terkadang merasa bahwa, Tuhan sedang menyiksa saya.
Tanpa kemampuan apapun yang bisa diandalkan, Tuhan membiarkan saya untuk tetap bisa makan, dan mempunyai tempat tinggal yang layak meski hanya sederhana.
Sedangkan, banyak orang lain yang mempunyai kemampuan jauh di atas saya, namun hidup dan bertempat tinggal tak lebih layak dari yang saya dapatkan.

Saya tidak tahu apakah ini yang dinamakan krisis kepercayaan diri, atau memang senyatanya bahwa saya tidak layak merasa percaya diri.

Di lain soal. Terkadang saya merasa ragu terhadap semua hal yang sudah saya lakukan. Utamanya, terhadap hal-hal yang saya anggap sebagai suatu ‘kebaikan’.
Apakah saya melakukannya demi kebaikan itu sendiri, demi kewajaran dan kepantasan bahwa saya memang harus melakukannya. Atau saya melakukannya berdasar rasa kasihan terhadap orang lain. Atau sebenarnya saya melakukannya untuk kepentingan diri saya sendiri, baik secara langsung ataupun tidak.

Jika saya melakukan suatu kebaikan karena rasa kasihan, saya telah mengkhianati setidaknya dua hal.
Pertama, kemurnian arti nilai kebaikan itu sendiri.
Kedua, nilai-nilai kemanusiaan. Dengan merasa kasihan dalam melandasi suatu sikap atau perbuatan, saya telah menghina martabat hidup seseorang, dan juga nilai-nilai kemanusiaan. Tak ada seorang pun yang patut dikasihani, kecuali tak ada lagi melekat martabat kemanusiaan pada dirinya.

Jika saya melakukan suatu kebaikan karena merasakan suatu manfaat dari perbuatan itu, berarti saya menunggangi perbuatan baik, dengan hal-hal tidak baik yang bersifat transaksional. Dengan itu kembali lagi, tak ada kemurnian nilai kebaikan terhadap apa yang sudah saya lakukan.
Termasuk entah ketika nilai transaksi itu hanya berlaku antar sesama manusia, ataukah juga ketika saya mulai mempertimbangkan iming-iming pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semestinya, setiap perbuatan baik, bernilai nol. Dalam arti, tak ada imbal balik sekecil apapun yang diharapkan untuk datang di kemudian hari. Hal itu, akan mereduksi transaksi perasaan utang-piutang, dan mengikis kejamnya tuntutan balas budi.

Senyatanya, saya selalu merasa bahwa perbuatan-perbuatan baik yang saya lakukan, tak pernah bernilai nol, dan selalu bertendensi terhadap balas budi.

Hal-hal seperti itu membuat saya cemas. Apakah saya benar-benar manusia seperti yang dititahkan oleh Tuhan, ataukah saya ini hanya sekadar makhluk yang mempunyai kuasa terbatas untuk bernafas di dunia.

Masih banyak hal lain lagi, hal-hal konkret yang mudah membuat saya cemas, atau khawatir.

Ketika menyaksikan adik pertama saya mulai tumbuh dewasa, saya dihinggapi kekhawatiran. Apakah ia akan mampu menjaga dirinya, atau setidaknya, tidak menyakiti dirinya sendiri di dalam kehidupan. Saya selalu merasa harus menjadi seorang kakak yang selalu ada untuk melindungi adiknya, namun sekaligus tak mempunyai daya kuasa, selain sekadar mengkhawatirkannya.

Ketika adik kedua, adik bungsu saya, mulai tumbuh dan berkembang dewasa, kekhawatiran serupa kembali melanda. Akankah saya bisa menjaganya, atau paling tidak menemaninya, sehingga ia tidak menemukan kendala di dalam kehidupannya. Namun sekaligus juga, bahwa kembali saya tak mempunyai daya kuasa, selain hanya mengkhawatirkannya.

Manusia mempunyai takdirnya sendiri-sendiri, sekaligus caranya sendiri-sendiri, untuk menjalani hidup dan kehidupan. Meski ia adalah saudara terdekat kita.

Saya banyak membaca, atau mendengar, entah secara sengaja ataupun tidak, bahwa terlalu sering dilanda kecemasan atau kekhawatiran tidak baik untuk kesehatan. Baik fisik, terutama psikis. Namun nyatanya, tak ada hal yang benar-benar bisa dilakukan untuk mengurangi kadar kecemasan di dalam menjalani kehidupan. Mungkin ini hanya berlaku untuk diri saya sendiri.

Untuk ‘take it easy’, saya hampir tak bisa melakukannya.

Jika ada satu hal semu yang selama ini saya lakukan, untuk mengurangi rasa cemas dan kekhawatiran, itu adalah ‘berbicara’ dengan Tuhan. Abstrak.

Saya seperti hanya berdialog dengan diri sendiri, meski kemudian merasa sedikit tenang dan merasa ada yang menemani.

Ketika saya luapkan semua kepadaNya, perihal kecemasan-kecemasan dan kekhawatiran itu, seolah Dia menjawab :

“Di luar kemampuanmu untuk mencemaskan semua hal, atau mengkhawatirkan semua kejadian. Jalani saja apa yang seharusnya kamu jalani, dan letakkan sisanya tetap pada ketidaktahuanmu. Akan lebih baik, untuk lebih banyak tidak tahu.”

Dan ketika ‘mendapat’ jawaban seperti itu, saya hanya bisa untuk kemudian mendengarkan Dear God dari Avenged Sevenfold, yang penggalan liriknya saya kutip di awal tulisan, dan kemudian berusaha tersenyum sebaik mungkin.

Entah tersenyum dengan maksud yang bagaimana…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

20 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.