Takdir Anak, Anak Takdir

Saya tak pernah risau dengan kehidupan saya. Dalam arti, saya tak pernah merisaukan hal-hal yang belum terjadi —masa depan—, pun tak terlampau menyesali hal-hal yang sudah terjadi. Semua saya anggap saja sebagai takdir, ketentuan Tuhan yang harus saya jalani.

Bukankah hidup manusia adalah sesuatu yang sudah ditentukan?

Begitu juga dengan kehidupan saya. Semua sudah digariskan, dan saya tinggal menjalaninya saja, dengan beberapa persen saham yang dialihkuasakan oleh Tuhan terhadap diri saya. Beberapa persen saham itu antara lain terwujud dalam hal ketika saya makan, minum, ataupun mandi. Seberapa banyak saya makan dan minum, Tuhan membebaskan. Hanya saja Tuhan tetap memberi ‘batasan’, bahwa jangan sampai berlebihan.

Tetapi hasil dari saya makan dan minum itu, berapa banyak nutrisi yang terserap tubuh, berapa banyak yang menjadi tenaga, berapa banyak juga yang menjadi sisa, bukan lagi dalam ranah kekuasaan saya meskipun terjadi dalam tubuh sendiri. Mekanisme yang terjadi setelah saya makan, prosesnya di dalam tubuh, adalah ranah kekuasaan Tuhan yang sudah disabdakan pada mekanisme tubuh untuk mengolah.

Jadi, hidup manusia hanyalah dialektika untuk saling mencapai titik keseimbangan. Antara keinginan pribadi, dan ketentuan Tuhan yang sudah ditetapkan.

Lantas, apalagi yang merisaukan?

Bagi saya sejauh ini, hampir tak ada. Itu jika dirunut bahwa saya sendiri yang harus menanggung semuanya. Tak ada yang merisaukan. Bahkan jika detik ini, setelah tulisan ini diunggah saya mati, itu pun bukan hal yang merisaukan. Saya siap ketika kapan pun Tuhan menghendaki saya kembali kepada-Nya.

Tetapi ketika hal-hal yang menurut kebanyakan orang ‘merisaukan’, dibenturkan dengan hajat kehidupan orang lain, ada satu hal yang membuat saya menjadi risau. Itu adalah keberadaan anak yang tak kunjung ada dalam kehidupan saya. Bukan karena saya risau tak kunjung mendapatkan anak. Saya sendiri hanya mengikuti ketentuan Tuhan sampai sejauh ini. Perihal anak keturunan.

Hanya saja, bagaimana dengan kedua orangtua saya? Tentu saja mereka menginginkan cucu, menginginkan keturunan dari anak laki-laki mereka. Tetapi sampai sejauh ini, saya tak bisa memberikannya.

Hampir saja selalu meleleh air mata ketika suatu acara dihelat, dan kedua orangtua saya hanya bisa melihat saudara atau teman sebaya mereka sudah menimang cucu, atau bercengkerama dengan cucu mereka.

Saya selalu mencoba menjadi manusia kuat untuk diri saya sendiri, tetapi selalu gagal jika sudah menyangkut kedua orangtua saya.

Bagaimana mereka berharap bahwa saya akan lekas mempunyai keturunan, dan bagaimana bahagianya mereka jika saya mampu memenuhinya.

Tetapi kembali lagi, Tuhan belum berkehendak. Atau mungkin tak pernah berkehendak untuk memberikan saya keturunan?

Tak kurang saya meminta kepada-Nya, pun dengan disertai berbagai usaha dan upaya. Berbagai upaya medis modern pernah saya jalani, juga dengan berbagai upaya lain yang terkadang lebih serupa mitos. Semua sudah saya jalani, dengan hasil yang masih nihil.

Terkadang saya ingin pindah saja menjadi warga negara Kutub Utara, hidup menjadi orang Eskimo. Hidup jauh dari akar budaya dan lingkungan tempat dimana saya dilahirkan. Agara tak ada perasaan bersalah karena tak kunjung memberikan perpanjangan garis keturunan keluarga.

Terkadang saya juga ingin hidup di Antartika. Hidup bersama pinguin yang tak mungkin bertanya kapan saya punya anak, atau usaha apa yang sudah saya lakukan untuk mempunyai anak. Hidup bersama pinguin di Antartika mungkin akan memberikan ketenangan, mereduksi segala kekhawatiran perihal anak keturunan yang dalam lingkungan saya saat ini, begitu ‘didewakan’.

Tak mempunyai anak berarti aib, dan bodoh luar dalam.
Sebenarnya tak mengapa saya dianggap bodoh karena tak kunjung mempunyai anak. Tetapi jika kebodohan saya itu juga adalah ketentuan Tuhan? Apakah Tuhan kemudian juga bodoh?

Kadang parameter yang digunakan manusia untuk memberi nilai terhadap sesuatu, berbeda dengan parameter yang sudah ditetapkan Tuhan.
Namun manusia memaksakan bahwa parameter yang digunakannya adalah yang terbaik dalam kehidupan, dengan kemudian mengabaikan ketentuan Tuhan.

Konon, hidup-rejeki-mati adalah ketentuan Tuhan. Jika anak adalah rejeki —yang berarti adalah ketentuan Tuhan—, lantas kenapa ditimpakan terhadap manusia perihal ada atau tidaknya?

Menyakitkan?
Bagi saya tidak. Saya selalu percaya bahwa apa yang diberikan Tuhan, termasuk lika-liku dalam kehidupan, adalah yang terbaik.

Tetapi menyelaraskan hal itu dengan budaya dan pergaulan sosial yang ada, sulitnya tak terperi, dan sakitnya tak tertanggungkan.

Budaya dan pergaulan sosial di lingkungan kehidupan saya mensyaratkan bahwa anak keturunan adalah hal utama. Tak peduli bahwa nantinya anak keturunan mereka membunuhnya atau saling bunuh gegara warisan, pokoknya anak keturunan adalah hal utama. Sedangkan takdir Tuhan adalah hal lain, dan luput dalam berbagai perimbangan.

Ah….ini semacam curhat ya?
Peduli setan….

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *