Tawaran Menjadi Anggota Tim Teknis Reformasi Birokrasi

Pagi ini kepala saya berdenyut kencang, gegara lembur semalam. Tadi malam, begitu selesai dengan pekerjaan yang berbatas tenggat, jam sudah menunjuk 1 lewat 30. Lah, sudah pagi.

Dan hasilnya, pagi ini kepala saya berdenyut kencang, seolah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, dari dalam kepala. Bukan pusing, tetapi kepala terasa kencang. Semacam kontraksi, kalau saya pernah membacanya. Lantas apakah otak saya akan terlahir keluar, penat dengan tempurung yang serba membatasi.

Saya meminta bantuan kopi, dan beberapa batang rokok, untuk menghilangkan denyut kencang yang semakin memburu. Hasilnya, sedikit lumayan.

Masih menikmati kepul asap dan kopi dengan sedikit gula, telepon genggam menerima panggilan masuk. Sebuah nomor asing, dari nomor seluler lain. Saya ragu untuk mengangkatnya. Saya biarkan saja sampai mati sendiri. Kembali memanggil, sampai beberapa kali. Dan kembali saya biarkan, sebanyak itu pula.

Sampai kemudian sebuah pesan masuk, meminta saya untuk menjawab panggilan yang akan datang sebentar lagi. Sembari dalam pesan dituliskan, nama, dan dari mana si pemilik nama berasal. Dari sebuah kota, dan menyertakan nama institusi. Orang pemerintah.

Saya malah menjadi semakin ragu, sedikit takut. Saya merasa tak membuat suatu kesalahan apapun. Atau jangan-jangan, gegara tulisan-tulisan saya yang acap kali ngawur, menyindir, dan hal itu menyebabkan keresahan pada beberapa pihak. Sempat telepon genggam ingin saya matikan.

Belum sempat telepon saya matikan, kembali panggilan masuk, dari nomor yang sebelumnya mengirim pesan. Saya masih ragu. Tetapi dengan sedikit keberanian yang dipaksakan, saya angkat panggilan tersebut.

Sebuah suara yang renyah, dan menyapa setelah mengucapkan salam. Seolah sudah saling mengenal.

“Bisa kita ketemu?” tawarnya setelah basa-basi, dan menyebutkan sebuah tempat di pinggiran kota Jogja.

“Iya, Pak.” jawab saya, namun seperti tanpa sadar. Saya menyesal telah menjawab ‘iya’, tanpa sebelumnya bertanya lebih detail, tentang apa dan bagaimana, terutama darimana dia mendapat nomor kontak saya.

Setelahnya saya tenggelam dalam lamunan, menghabiskan sisa kopi, dan kembali menyulut sebatang rokok.

Setengah jam sebelum waktu yang sudah disepakati, saya bergegas berangkat. Estimasi waktu perjalanan sekira itu, dari rumah menuju tempat perjanjian. Saya tidak ingin terlambat. Selain juga ingin ‘menguasai’ tempat serta situasi, ketika sampai pada tempat terlebih dahulu.

Sejenak rasa kantuk terkesampingkan, diganti rasa penasaran.

Sampai di tempat, masih sepi. Beberapa kendaraan yang ada, saya perkirakan adalah milik karyawan. Belum ada mobil. Saya duga, harusnya orang yang ingin menemui saya mengendarai mobil, meski hanya sewa karena berada di kota lain. Mobil sudah terpatri dalam pikiran dan ingatan saya, perihal para pegawai dari kota, dari pusat.

Belum ada mobil yang terparkir. Saya tersenyum lega, berarti saya datang lebih awal.

Saya beranjak masuk, seorang pegawai dari ‘tempat ngopi’ menyambut,
“Bapak sudah ditunggu.” katanya ramah sembari menyebut nomor meja dan menunjuk ke arah mana saya harus menuju.

Saya terheran-heran, tak sempat bertanya dan lebih memilih mengikuti kaki untuk bergegas. Sialan, saya membatin.

Baru ada dua orang pada tempat yang saya datangi, menurut petunjuk arah dari pegawai tadi. Berarti, mereka lah yang ingin bertemu dengan saya.

Dua orang, dengan usia yang saya taksir tak terpaut jauh, di atas saya.

“Mas Anang, silahkan.” kata yang berbaju lengan panjang, ramah.
Keduanya berdiri menyambut saya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman, sembari tersenyum.

Kembali saya terheran-heran, banyak pertanyaan.

“Silahkan duduk mas.” kata yang berkaus polo.

Saya menurut saja.

“Heran di depan tidak ada mobil ya? Kami naik ojek mobil.” kata mereka berdua, hampir bersamaan. Seakan mengerti salah satu sebab keheranan saya.

Dua-duanya necis, berpenampilan dandy. Bersepatu, dan wanginya seperti peri. Saya sempat merasa minder. Saya hanya memakai kaus oblong, sandal, dan tak sempat memakai minyak wangi kaleng, murahan.

“Kami mohon maaf sebelumnya, mungkin kami membuat terkejut. Kami mohon maaf.” yang berkaus polo membuka pembicaraan.

“Ohh iya, minum apa mas?” yang berlengan panjang menawari.

“Arabika tubruk. Terserah dari jenis apa saja. Toraja boleh, Bali juga boleh.” saya menjawa, “sekalian langsung dua.” saya menambahkan.

Yang berlengan panjang memangil pegawai, dan mulai memesan.

“Maaf kami belum sempat memperkenalkan diri.” katanya sejurus setelah pegawai yang mencatat pesanan kami beranjak pergi.

Mereka menyebut nama masing-masing. Sengaja tidak saya tuliskan nama mereka di sini, berkait dengan isi pembicaraan yang kami lakukan.

“Kami mendengar, juga mengikuti kabar, bahwa reformasi birokrasi tidak berjalan lancar. Terutama di daerah.” kata yang berkaus polo, sembari kemudian menyulut sebatang rokok.

“Saya kurang paham.”

“Ah, kita sama-sama tahu mas.” yang berbaju lengan panjang menyahut, sembari juga menyulut sebatang rokok.

Saya ikut juga menyulut sebatang rokok.

“Begini mas, agar tidak canggung, sebagai pengantar kami akan paparkan secara singkat darimana kami, institusi kami, dan apa tujuan yang hendak dicapai.” kata yang berbaju lengan panjang melanjutkan.

Mereka memaparkan secara bergantian. Tentang darimana mereka berasal, institusi mereka, beserta tujuannya.

Berawal dari pertengahan tahun 2018, Presiden memberikan instruksi kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), untuk mengkoordinasikan sebuah institusi gabungan, yang terdiri atas semua lembaga dan kementerian, untuk memaksimalkan reformasi birokrasi.

Akhir tahun 2018, Kemenpan RB dan semua kementerian serta lembaga sudah berhasil merumuskan suatu bentuk institusi, tidak resmi secara struktural, bayangan, tetapi dibentuk serta ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Institusi yang diklaim independent, mempunyai wewenang setingkat Eselon 1, tetapi mempunyai kewenangan lebih tinggi dari eselon 1 semua kementerian dan lembaga. Mudahnya, institusi ini mempunyai wewenang untuk memeriksa, dan mengambil tindakan terhadap kementerian atau lembaga yang kurang berkomitmen terhadap reformasi birokrasi, sampai pada level eselon 1, dan kemudian melaporkan invetigasinya kepada Kemenpan RB, disertai tembusan pada kemnterian atau lembaga terkait. Bahkan, institusi ini bisa langsung berkoordinasi dengan presiden.

Para pegawai dan pimpinan institusi ini berasal dari gabungan pegawai yang diambil dari seluruh kementerian dan lembaga. Seleksinya tidak melalui pendaftaran, tetapi ditunjuk secara langsung. Dasar petimbangan penunjukkannya, rahasia. Kata mereka.

Pimpinan dari institusi ini hanya satu orang, selebihnya adalah kordinator. Ada beberapa koordinator. Mulai dari koordinator wilayah, sampai koordinator bidang pemeriksaan. Ruang gerak institusi ini masih terbatas pada lingkup instansi vertikal. Jika berhasil memaksimalkan tujuan reformasi birokrasi, akan dirumuskan untuk mengakomodir lingkup pemerintah daerah.

Latar belakang pembentukannya, adalah banyaknya laporan masyarakat, temuan independent, yang menyatakan bahwa banyak kementerian dan lembaga belum maksimal menjalankan reformasi birokrasi. Paling kentara, masih banyak diketemukan praktik kolusi dan nepotisme, dalam menjalankan roda birokrasi.

“Saya berikan contoh, mas.” yang berlengan panjang mematikan rokok di dalam asbak, dan melanjutkan.

“Di sini, Sleman, pada beberapa instansi vertikal, masih kami ketemukan praktek semacam itu. Terutama, dalam hal penilaian kinerja, dan metode pertimbangan jabatan dan kepangkatan yang unfair. Hanya karena faktor kedekatan personal, pejabat mengabaikan kenyataan hasil kerja dan kinerja pegawai untuk menjalankan roda kantornya. Bisa jadi yang dekat secara personal dengannya, akan diajak untuk berada dalam lingkar dalam, meski tak bisa bekerja maksimal. Bahkan beberapa, kami ketemukan beberapa pegawai yang dibawa masuk oleh pejabat, mempunyai rekam jejak kurang baik. Beberapa pernah tersangkut kasus hukum, baik pidana maupun perdata.”

Hal-hal semacam itu, menurut mereka, menggelisahkan. Jika melakukan manajemen internal saja beberapa pejabat itu tidak bisa obyektif serta maksimal, bagaimana mereka akan melakukan tugas pokok pelayanan terhadap masyarakat.

Dan rekrutmen institusi bayangan ini, sengaja menyertakan pegawai dari tingkat daerah, karena mereka melihat, menjadi saksi, mengerti dan memahami dinamika persoalan yang terjadi di tingkat bawah. Institusi ini tidak ingin mengulang kegagalan, terhadap metode pengawasan yang dilakukan secara jarak jauh, hanya dari pusat. Hingga terkadang, pemerikasaan hanya bersifat normatif, dan tidak substansial menyentuh akar masalah.

“Kami sekalian membawa ini mas. Silahkan dibaca.” yang berkaus polo mengulurkan sebuah map polos, yang diambil dari tasnya.

Saya membuka map tersebut, dan membacanya. Berulang, sampai berkali-kali, dan saya menutupnya kemudian meletakkannya di meja. Hampir bebarangen dengan datangnya kopi pesanan kami.

“Mari, diminum dulu kopinya.” yang berkaus polo mempersilahkan.

Saya menambahkan gula, mengaduknya, dan meminumnya sedikit. Kembali sebatang rokok saya sulut.

“Berarti, jika saya menerimanya…” saya ragu.

“Mas tetap bekerja seperti biasa, ditempat saat ini. Hanya saja, jika mas menerima tawaran ini, mas akan bekerja pada dua institusi. Pada institusi kami, institusi yang kami tawarkan ini, mas harus membuat laporan seminggu dua kali, mengirimnya ke email koordinator, untuk menjadi bahan evaluasi yang akan ditindaklanjuti seminggu sekali. Dan juga, bekerja pada institusi ini bersifat rahasia. Karena tujuan yang hendak dicapai, maka institusi ini berjalan secara rahasia.”

Jantung saya berdegup kencang.

“Sudah, kita minum kopi dulu, nanti baru diteruskan. Sudah sarapan?” yang berbaju lengan panjang bertanya.

“Sudah Pak, saya kopi ini saja, cukup.” saya menjawab perlahan.

Setelahnya saya lebih banyak diam, sembari menyimak pemaparan, penuturan, serta cerita-cerita mereka berdua. Beberapa kali kami tertawa untuk suatu hal lucu yang patut ditertawakan, dari birokrasi negeri ini.

Hampir tiga jam kami bertemu, dan kemudian berpisah setelah sempat melakukan panggilan video, dengan beberapa koordinator, dan juga pimpinan institusi.

Sampai saat ini, saya belum memberikan jawaban. Entahlah, ini terlalu mengerikan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.