Tegal Satu

Sate Batibul Wendy’s Tegal

Gambar diatas adalah perwujudan dogma terbaik berikut ini :

“Semua yang muda enak rasanya.”

Sate Kambing Muda khas Tegal. Menggunakan kambing muda usia dibawah lima bulan atau tiga bulan (muda atau anak-anak?)

Raurusan, yang penting rasanya enak.

Sebenarnya, pada awalnya saya mencari Warteg (Warung Tegal) di kota/kabupaten Tegal ini. Sederhana saja, karena saya hidup sehari-hari dengan menggantungkan perut dan lidah terhadap Warteg yang maha baik di Semarang. Maka ketika mengunjungi daerah tempat asal muasal ‘warteg’, maka saya mencari orisinalitas rasa serta penyajian dari daerah asalnya.

Seperti ketika dulu saya mencari lunpia di Semarang, atau ketika para pelancong mencari gudeg di Jogja. Tentu memang ada rasa baik secara obyektif ataupun subyektif yang berbeda, ketika mencicipi masakan khas suatu daerah di tempat asal kelahirannya. Makan gudeg ya di Jogja, makan lunpia ya di Semarang, makan thiwul ya di Gunungkidul.

Tetapi di Tegal, saya jarang menemui warteg —yang di Semarang bertebaran sepanjang jalan—. Hampir seperti ketika saya mencari Bakso Wonogiri di daerah mereka sendiri. Mulai dari Pracimantoro sampai dengan Baturetno, saya jarang menemukan warung bakso.

Kini di Tegal saya juga mengalami hal tersebut, jarang menemukan warteg di pinggir jalan. Sepanjang jalan utama yang menghubungkan kota Slawi dan kota Tegal, saya tak melihat ada warteg. Nah.

Yang banyak bertebaran di Tegal, pada pinggir jalan-jalan rayanya, adalah Tahu Aci, Sauto, Sate, dan juga Martabak. Nah, untung saja ada martabak, yang ekspansi penjajahannya sudah sampai pada lorong-lorong jalan kampung dan desa di seluruh pulau Jawa. Setidaknya keberadaan penjual martabak di kota asal mereka sendiri —Tegal—, mereduksi rasa kekhawatiran saya, bahwa jangan-jangan martabak sebenarnya tidak asli Tegal. Padahal saya sudah terlanjur percaya bahwa martabak adalah asli Tegal, setidaknya dari banyaknya penjual martabak di Semarang ataupun Jogja yang mencantumkan kata Tegal di gerobak atau merk dagangan mereka. Pertanyaan yang sama ketika saya tak menemukan banyak warteg di Tegal. Jangan-jangan warteg tidak berasa dari Tegal.

Tetapi kekecewaan karena tak menemukan warteg itu, setidaknya terobati karena saya menemukan wedhus. Anda tahu wedhus? Kambing!!!

Ya, saya orang yang cukup sederhana, bertemu dengan wedhus saja bagi saya sudah sangat menyenangkan. Tak perlu bertemu dengan artis-artis macam Blackpink atau SNSD. Cukup kambing dari Warung Sate Wendy’s Tegal, dan segera aroma surgawi menyeruak di segala penjuru batin.

Benarlah kalau para ahli kesehatan menyarankan untuk tak terlalu sering menyantap daging kambing, apalagi sate. Olahan dagingnya sendiri dipercaya mengandung banyak kolesterol, dan cara pengolahannya yang dibakar juga katanya kurang baik.
Tetapi saya mempunyai teori tersendiri kenapa para ahli kesehatan menyarankan untuk tak terlalu sering menyantap sate daging kambing :

“Karena menyantap Sate Batibul Tegal ini membuat orang menjadi bahagia secara instan. Dan orang bahagia akan otomatis sehat, lahir maupun batin.”

Kalau orang sehat lahir batin, kenapa harus ada ahli kesehatan? Ups….

Yaaa…sekali waktu cobalah menyantap sate batibul ini ketika anda berkunjung ke Tegal. Lebih spesifik, cobalah untuk mengunjungi Sate Kambing Wendy’s. Saya tak sedang berpromosi atau mempromosikan warung itu. Tanpa saya promosikan, warung itu sudah ramai tidak karuan.

Saya juga tak akan mendeskripsikan rasanya. Rasa dari sate batibul itu. Saya sarankan anda mencobanya sendiri. Sebab, surga tak cukup dirasakan hanya dari mendengar cerita. Anda harus datang dan merasakan sendiri, bagaimana rasa surga itu. Bagaimana empuknya daging tanpa bau kambing, berpadu dengan gurih bumbu sederhana yang membalur diatasnya, menggoda indera penciuman anda, dan mengalirkan ekstase puncak ketika mulut mengunyahnya.

Seketika semua memori mengenai rasa sate kambing yang pernah tercecap, mendadak hilang. Mendadak hanya ada sate kambing dari Wendy’s ini, tak ada yang lain.

Benarlah kata orang bijak :

“Diatas rumput masih ada kambing, diatas kambing ada sate, diatas sate hanya ada kelezatan dan kebahagiaan.”

Ah, itu orang bijak atau orang gila yang berbicara.

Ketika berada di Wendy’s, anda hanya akan menemukan kebahagiaan, bukan yang lain. Tempatnya di Jalan Letjen Suprapto, dan cabangnya di Jalan Kapten Ismail. Hanya berdekatan.

Selain sate kambing muda, anda juga akan menemukan Asem-Asem Kambing, yang rasanya juga ngudubillah gak ketulungan. Enak tanpa syarat dan ketentuan. Tinggal ambil sednok, jejalkan ke mulut, dan seketika anda akan lupa banyaknya hutang serta tanggungan.

Di Tegal, saya belum kemanapun selain mencari makan.

Dulu, saya kira mereka hanya mempunyai Warteg, yang skala ekspansinya jauh masif, elegan dan konstitusional daripada Keraton Agung Sejagad. Ternyata Tegal juga mempunyai Sate Batibul, Sauto, Tahu Aci, dan juga Martabak yang legendaris itu.

Oh iya untuk martabak, tetap saja buatan saya masih lebih enak, hahaha.

Tetapi untuk Sate, Sauto, Tahu Aci, takkan ada ditemukan pada tempat lain karena kekhasannya.

Ah, ini baru Tegal Satu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

22 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *