Terkadang Memang Harus Sendiri, Jika Tak Ada Alasan Tinggal Disini

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Dalam hidup, terkadang kita mengalami situasi semacam ini : kita mengira semua baik-baik saja, namun tiba-tiba kita dihempaskan pada kondisi yang membuat perasaan remuk redam.

Yang lebih membuat tak habis pikir : yang menghempaskan adalah orang-orang terdekat, pada lingkar pertemanan, yang sudah kita anggap sebagai saudara sendiri.

Dalam kondisi demikian itu, rasa sakit yang menghantam, seperti berlipat-lipat. Tubuh akan tetap baik-baik saja, bibir masih akan mampu menyunggingkan senyuman, namun yang terkandung di dalam badan, remuk tak terabaikan.

Padahal, kita tak pernah merasa membuat kesalahan, atau menyakiti mereka.
Mungkin pernyataan diatas hanya sepihak, mungkin kita berbuat salah, tanpa disadari.

Namun kembali lagi pada situasinya : semua sedang baik-baik saja, tidak ada masalah apapun.

Tetapi ternyata banyak yang dengan pintar menyimpan rahasia, di belakang kita. Mereka membuat kesepakatan-kesepakatan, rencana-rencana, untuk menyingkirkan kita.

Mungkin secara perlahan, dan bahkan terkadang tanpa kita sadari bahwa kita pun ikut mendukung rencana mereka.

Tanpa kita sadari, kita ikut mendukung rencana-rencana mereka, tindakan mereka, yang dengan terbuka ingin menyingkirkan kita.

Misalnya, kita sering bercerita mengenai rahasia-rahasia, tindakan-tindakan kita, yang tentu saja bukan bertujuan untuk disebarluaskan. Kita bercerita karena kita menganggap mereka sebagai saudara, dan bisa menjaga rahasia.
Tetapi ternyata mereka menyebarkan cerita kita, yang sebagian berisi rahasia aib, secara terbuka kepada pihak-pihak lain.

Kita takkan bisa mencegahnya, karena kita sudah terlanjur membaginya. Kita sudah terlanjur mempercayakan rahasia, kepada yang tak seharusnya.

Tentu bukan juga salah kita ketika mempercayakan rahasia kepada orang yang sudah kita anggap sebagai saudara.

Percayalah, memang begitu adanya proses kehidupan ini, tentang perhubungan antar manusia.

Tak ada manusia yang mutlak baik, dan begitu juga tak ada manusia yang mutlak buruk. Semua menggenggam relatifitas masing-masing. Tinggal lebih banyak yang mana perhitungannya, kebaikan atau keburukan.

Yang kemudian perlu dilakukan, ketika kita mengetahui secara persis, bahwa ada yang menikam dari belakang : adalah bagaimana sikap kita selanjutnya.

Membalas, mungkin akan membuat kita puas. Tetapi percayalah, membalas secara langsung akan membuat kita tak ubahnya seperti mereka.

Lebih baik menghindar, pergi, menyusuri jalan-jalan pada hari ke depan, sendirian.

Sendiri adalah jawaban untuk kondisi yang tak disangka, menghancurkan perasaan dan kehidupan kita. Menguasai perasaan agar tak gagap menghadapi hari-hari ke depan, mutlak dibutuhkan.

Mungkin akan terasa berat, berjalan sendirian, setelah sekian lama berjalan dalam kebersamaan.
Namun sekali lagi percayalah, bahwa tak ada yang perlu dipertahankan dari sebuah kebersamaan yang berbalut banyak dusta.

Hidup yang hanya sekali ini, tak pantas untuk diisi dengan menerima sakit dan pengkhianatan yang berulang.

Akan ada langkah-langkah yang berdarah, pada awal-awal dimulainya langkah, dalam kesendirian.
Kaki akan terasa berat, jalanan akan terlihat jahat, dan kita akan menangis di tengahnya.

Menangis lah, menangis saja.
Menangis tak harus menunggu momentum yang tepat. Menangis lah setiap kali tarikan nafas terasa berat, dan gumpalan di dalam dada seakan memuai untuk pecah.
Pecahkan saja sekalian, agar lega dan keluar semuanya.

Tak ada yang perlu dipertahankan di dalam dada, jika itu bersangkut paut dengan sesaknya perasaan karena berjalan sendirian.

Nanti pada akhirnya, setelah semua gumpalan pecah dan keluar dari dalam dada, kita akan mampu berjalan dengan ringan, tanpa akan merasakan lagi sesak-sesak yang bergumpal.

Kita nantinya akan mengenang pengkhianatan itu sebagai semacam kekeliruan kecil. Kekeliruan kita dalam menempatkan diri. Mungkin saja kita tak pantas berada di tengah mereka, maka mereka merasa risih, dan kemudian menginginkan kita pergi.

Kita nantinya takkan lagi terbebani dengan kekeliruan itu, jika mampu tegak berjalan sendirian, dan mengeluarkan seluruh gumpalan.

Kita hargai mereka sebagai fragmen atau potongan sejarah di masa lalu. Kelak jika bertemu lagi, kita anggap mereka sebagai teman biasa, atau orang yang belum kita kenal. Kita selalu berprasangka baik terhadap orang yang belum kita kenal. Namun prasangka baik itu bukan berarti akan mendekatkan kita kembali.

Mungkin semacam kita berprasangka baik pada seorang tukang parkir. Kita tak mengenalnya, namun tetap saja kita memberikan sejumlah uang.
Semacam itu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.