Tertawa Sebagai Teori, Menertawakan Sebagai Solusi ; Kolonialisme Kontemporer.

Pertama-tama, tertawa

Hampir pada setiap kejadian atau masalah yang tak mengenakkan, selalu saja ada rumus atau teori yang dikemukakan untuk menetralisir keadaan. Mulai dari menangis, berteriak, memukul-mukul benda tertentu, beraktifitas sampai lupa masalah awal, atau bahkan tertawa. Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk menetralisir keadaan yang sedang kurang baik pada kehidupannya. Tergantung kondisi sosial, budaya, adat, serta kebiasaan masing-masing orang tersebut.

Orang dengan kepribadian cenderung tertutup, akan lebih memilih untuk menangis, sepuasnya, pada tempat dan waktu yang hanya dia dan tangisan itu sendiri yang tahu. Orang yang lebih terbuka, akan memilih untuk berteriak sekencangnya, baik pada tempat umum yang ramai, atau tempat khusus yang sepi. (Debatable)

Saya sendiri, meski tak jarang memilih untuk menangis, tetapi lebih sering memilih tertawa. Apalagi jika sebab kejadian yang berkembang menjadi keadaan tak menyenangkan, berkait dengan orang atau pihak lain. Saya akan lebih memilih untuk tertawa.

Sebagai suatu teori, tertawa ketika berada dalam keadaan yang tak menyenangkan, akan berlaku sama bagi setiap orang. Tinggal mengingat saja sebab latar belakang kejadian, sampai mungkin ketiadaan solusi untuk menyelesaikan masalah, maka tertawa bisa menjadi semacam obat. Menertawakan kebodohan kita kenapa bisa sampai pada situasi tak menyenangkan, bersambung dengan tertawa karena tak mempunyai solusi untuk keluar.

Tetapi, teori tertawa tersebut, untuk bisa sampai pada tahap implementasi, haruslah juga memperhatikan berbagai faktor di antaranya : sebab musabab kejadian, kondisi faktual, dan rencana penyelesaian. (Halah)

Kemudian, menertawakan

Saya akan terus mengingat kejadian hampir satu tahun yang lalu, tentang sesuatu yang menurut saya nggapleki, namun sekaligus menyedihkan.
Nggapleki bagi saya, dan (menurut saya) menyedihkan bagi pihak lain.

Tentang suatu tuduhan yang tak berdasar, dan kemudian berimplikasi kepada kasus ‘pengasingan‘. Meski bagi saya sendiri, pengasingan bukanlah sesuatu yang menakutkan, mengerikan, atau bahkan mengancam membunuh diri dan eksistensi saya. Sama sekali tidak. Saya hanya kemudian teringat isi sebuah buku yang tak bosan berulang saya baca.

Saya kutipkan utuh :

“Tetapi exorbitante rechten, hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia-Belanda seperti golok yang dipegang di dalam gelap untuk ditusukkan sewaktu-waktu kepada seseorang yang di anggap musuh bagi dirinya. Dipandang dari sudut hukum, maka hak istimewa itu adalah aturan sewenang-wenang, despostis. Dan dipandang dari sudut moral adalah sikap yang tidak kesatria, bahkan pengecut!”

Itu adalah salah satu kutipan dari buku Tan Malaka, Dari Penjara Ke Penjara. Itu adalah ungkapan Tan yang secara eksplisit ditujukan pada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, atas apa yang harus dialaminya tentang tuduhan sebagai ancaman bagi pemerintahan. Tanpa mendapat proses peradilan, Tan harus rela menerima pengasingan dikarenakan hak yang terlalu tinggi/hak istimewa (exorbitante rechten) yang dimiliki Gubernur Jenderal.

Secara sepihak, karena berkuasa dengan mempunyai hak istimewa, keputusan Gubernur Jenderal berada di atas keputusan hukum apapun yang berlaku. Pernyataan maupun keputusan individual atau personal dari Gubernur Jenderal, adalah juga produk hukum yang sah dan berlaku atas terdakwa atau siapapun yang tak disukainya. Tanpa perlu terdakwa mendapat peradilan, pembelaan, dan pendampingan.

Tunggu dulu, bukan lantas saya ingin menghadapkan apa yang saya alami dengan kasus Tan Malaka, sama sekali tidak. Apa yang saya alami tak ada seujung kotoran kuku berwarna hitam dibandingkan dengan masalah Tan Malaka. Tetapi pola kejadian yang tergambar, sangat mirip. Namun sekali lagi, dalam skala dan kondisi sosial serta latar belakang yang jelas berbeda.

Mereka‘ yang melakukan suatu hal kurang baik terhadap saya, dengan sikap pengecut, mirip dengan apa yang dilakukan oleh Dirk Fock pada sekira 96 tahun yang lalu.

Dirk Fock, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda (1921-1926). Sumber : Google

Tak berkembang

Tanpa melalui verifikasi dan hanya berdasar pada observasi subyektif, dari sumber-sumber sepihak yang jauh dari kata valid, mereka menjatuhkan tuduhan, kemudian ‘hukuman‘. Meski kemudian apa yang mereka anggap sebagai hukuman, tak juga saya sikapi sebagai suatu hukuman, melainkan suatu hiburan.

Hiburan, karena dengan kejadian tersebut saya bisa melongok sejenak pada kejadian masa lalu, masa kolonial, dengan tokoh-tokoh kontemporer masa kini. Tokoh yang tak berbeda bangsa, bukan manusia Belanda, namun dari bangsa dan manusia Indonesia.

Senyatanya, ketamakan atas kekuasaan atau rasa menguasai tak memandang ras, agama, suku, ataupun bangsa. Siapapun, bisa masuk dan terjerumus dalam lubang hina penindasan atas pihak lain yang lebih lemah, berlandas pada akses atas kekuasaan.
Rasa nikmat berkuasa, serupa gula dalam dosis berlebihan yang bisa menyebabkan diabetes, dan berakibat pada kebutaan mata. Bedanya, jika gula hanya menyebabkan buta pada mata fisik, kekuasaan sekaligus membutakan mata hati dan pikiran.

96 tahun semenjak Dirk Fock yang buta hati dan pikiran itu memutuskan tindakan sepihak atas apa yang dirasanya sebagai suatu kejahatan, hari ini ‘Dirk Fock‘ lain menjiplak dengan hampir sempurna.
Rupa-rupanya, kolonialisme, tak hanya berlaku sebagai bentuk penguasaan, penindasan, dan penghisapan suatu negara terhadap negara lain. Kolonialisme juga bisa menjelma pada skala kecil berupa manusia, yang merasa tak puas jika tidak menindas.

Tetap tertawa dan menertawakan

Sampai saat ini, hampir satu tahun berlalu, saya tetap masih tertawa. Tertawa untuk semua sikap dan kebodohan yang telah saya pilih dalam langkah sebelumnya. Kenapa saya memilih diam, dan tak sedikitpun melawan?
Tetapi andai melawan, hukuman juga sudah ditetapkan, jauh sebelum saya mempunyai kesempatan untuk sedikit saja membela diri. Tak ada gunanya melawan sesuatu yang sudah jelas konsekuensi dan hasilnya. Tetapi andai boleh mengulang, saya akan memilih untuk paling tidak melayangkan satu atau dua pukulan.

Saya pun masih juga menertawakan. Menertawakan mereka yang sama sekali tak mempunyai sifat kesatria meski mulut mereka penuh busa ceramah tentang kebaikan. Merasa kasihan kepada mereka yang secara sepihak merasa ketakutan dan terancam, dan oleh karena itu kemudian melakukan cara-cara belakang untuk menyingkirkan.
Ketakutan tak berdasar yang tanpa mereka sadari, membawa diri mereka untuk memasuki alam kehidupan yang penuh aroma kebencian.
Jika saya harus menertawakan, maka akan saya lakukan. Karena dengan kejadian itu saya menjadi tahu siapa saja mereka yang nafasnya adalah nafas pengecut.
Namun, tetap saja saya merasa kasihan terhadap mereka yang demikian.

Karena pengasingan seperti ini hanya akan membuat saya semakin banyak belajar, menyerap, menyesap energi untuk terus melawan. Untuk terus bersuara keras terhadap kebijakan-kebijakan yang sama sekali tidak bajik dan bijak. Perihal alasan yang dibuat-buat itu, saya anggap saja sebagai bonus agar menjadi lebih waspada pada waktu dan hari-hari ke depan.

Tentu anda tak harus percaya dengan baris kata dan kalimat dalam tulisan ini dari awal hingga akhir. Toh, ini adalah tulisan dalam versi dan dari sudut pandang saya.
Tetapi andai ada arena untuk bersua muka meluruskan semua, mendengar cerita versi mereka, saya tak akan pernah lari.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.