Tidak Dihargai Di Satu Lingkungan Kerja, Bukan Akhir Segalanya

Ilustrasi Tempat Kerja. Gambar : Pixabay

Suatu kali, diantara kita pasti pernah mengalami hal semacam ini ; sudah bekerja sebaik mungkin, sekeras mungkin, seoptimal yang kita bisa, tetapi akhirnya kita dibuang tersia-sia. Menyakitkan memang, dan alasan pembuangan kita seringkali adalah alasan yang tak masuk akal, dibuat-buat, serta melukai nilai profesionalitas yang diagung-agungkan.

Pada saat semacam itu, mendadak kita akan menatap nanar kosong pada hal-hal yang sudah kita kerjakan. Pada pengorbanan kita demi tempat kerja, pada perbaikan dan peningkatan kapasitas diri demi tuntutan kinerja, pada kesalahan yang tak pernah kita lakukan.

Kita tak merugikan sedikit pun pada tempat dimana kita berada, bahkan kita cenderung memberikan lebih dari apa yang diminta. Namun seringkali dedikasi kita memang tak mesti bertemu dengan harapan baik. Terkadang usaha kita memang terbentur tembok, oleh karena banyak orang lain yang tidak suka. Banyak orang lain yang tidak suka, dan merasa terancam dengan keberadaan serta dedikasi kita terhadap pekerjaan. Maka dicarilah alasan untuk menyingkirkan kita, meski alasan tersebut adalah pepesan kosong tanpa bukti, dan cenderung hanya menghakimi.

Kita tak bisa mengelak untuk menolak, atau sekadar membantah. Bukan karena kita menerima, atau mengaku salah. Tetapi lebih agar tak ada energi yang terbuang sia-sia. Tak ada gunanya meladeni orang-orang yang tidak suka, apalagi jika saat ini mereka mempunyai kuasa.

Satu yang harus terus kita jaga untuk dipercaya, adalah bahwa kekuasaan mereka takkan selamanya. Tak ada kekuasaan yang abadi, apalagi jika ditopang dengan kesewenangan.

Maka yang harus dilakukan adalah, terus bergerak dan bekerja, semampu dan sebaik yang kita bisa. Meski itu ditempat baru, tempat lain, tempat pembuangan. Banyak orang hebat yang terlahir dari pengasingan dan pembuangan, oleh karena mereka mendapat perlakuan yang sewenang-wenang.

Tak ada gunanya terus meratapi diri, dan mencoba menelaah perihal kesalahan apa yang sudah kita perbuat, sehingga mereka tega.
Tak pernah ada alasan bagi psikopat untuk membunuh dan melukai orang yang tak mereka suka. Dan begitulah perlakuan mereka yang tak suka terhadap kita.

Bahkan ketika kita sudah bekerja sebaik mungkin, masih juga dicari alasan untuk menyingkirkan.
Bahkan ketika kita sudah memberikan banyak pengorbanan, masih juga dicari sebab agar kita terlempar keluar.

Berada di tempat pengasingan dan pembuangan, adalah saat dimana kita membuktikan pada diri sendiri, bahwa kita bukan pelepah daun pisang yang mudah patah. Bahwa kita tidak lemah, dan bahwa kita akan terus berbenah. Bukan bertujuan untuk kembali, atau membuktikan pada orang-orang yang membuang kita bahwa mereka salah. Bukan.
Semata untuk membuktikan pada diri sendiri, bahwa kita bekerja adalah demi kehormatan. Bukan demi merengkuh jabatan melalui jalan kesewenangan.

Terus meningkatkan kapasitas diri adalah salah satu cara yang paling kita bisa, paling mungkin kita gapai, agar terus tumbuh rasa percaya diri.
Jangan sampai hanya karena beberapa orang yang tidak suka, lantas kita melarutkan diri terlalu lama dalam luka.

Pada awalnya, tak mengapa bahwa kita merasa sakit dan kecewa. Tetapi itu hanya permulaan saja, jangan dibiarkan berlarut, dan jangan menjadikan kita pengecut.

Kita harus terus bergerak, berjalan, memperbaiki diri, meningkatkan kualitas, karena pada akhirnya hidup adalah tentang perlawanan dan perjuangan. Bukan tentang meratap berkepanjangan.

Memperbaiki diri dan menguatkan diri adalah salah satu jalan untuk terus melakukan pembuktian, bahwa kita mampu menghadapi kehidupan.

Dibuang dari satu lingkungan pekerjaan bukanlah akhir segalanya, apalagi dengan alasan yang cenderung menjatuhkan. Kita masih bisa berkembang di tempat lain, pada lingkungan lainnya.

Kita masih bisa beradaptasi, dan melakonkan jalan cerita kita sendiri, tanpa lagi dipengaruhi oleh orang-orang yang dipenuhi iri dengki.

Pada akhirnya, tetap menjadi diri sendiri adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, sembari menunggu kekuasaan yang penuh kesewenangan runtuh oleh keangkuhan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.