Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Bali

Banyak hal yang akan mendasari serta melatarbelakangi sikap saya pada April 2019 besok, untuk apatis. Salah satunya, Reklamasi Teluk Benoa.

Saya baru satu kali, satu kali saja pernah ke Bali. Itupun sudah 20 tahun yang lalu. Jadi andai dicari keterkaitan sikap saya terhadap keberlangsungan ekosistem di Bali, utamanya pada Teluk Benoa, dan kenyataan bahwa saya tidak pernah bersentuhan langsung, ya memang tidak ada.
Tidak seperti kawan, sahabat, atau saudara saya yang bertempat tinggal di Bali selatan, dan merasa terancam dengan wacana reklamasi Teluk Benoa.

Kalau tidak mempunyai keterkaitan, kenapa juga harus sok ikut campur?
Lagipula, sama sekali anda tidak mengerti duduk permasalahan Teluk Benoa, kan?

Benar. Saya tidak mengerti duduk permasalahan Teluk Benoa, secara detail.
Hanya saja, saya juga masih manusia, seperti orang-orang yang saling bergandengan tangan menguatkan barisan menolak reklamasi tersebut.

Karena sama-sama manusia, maka saya mengerti, bahwa jika tidak merasa terancam, apalagi diancam tanpa pernah melakukan kesalahan, manusia tidak akan bergerak sampai sedemikian rupa seperti itu.

Sedang terhadap nyamuk yang mengganggu menjelang tidur, manusia merasa terancam.
Lantas, mengapa kawan-kawan saya di Bali tidak boleh merasa terancam dengan wacana reklamasi yang disinyalir akan menenggelamkan Bali selatan tersebut?

Saya sendiri, andai Banteran terancam akan mendapat musibah karena keserakahan yang mengatasnamakan pembangunan, akan bergerak melakukan perlawanan. Meski hanya sendirian.
Bagi saya, keberlangsungan ekosistem alam lingkungan tempat tinggal, tidak bisa ditukar dengan hal apapun. Apalagi hanya sekadar uang dan harta benda, atau iming-iming jabatan. Prek saja.

Presiden Jokowi seharusnya benar-benar menyadari hal ini. Meski saya juga tahu walaupun tak secara persis, banyak ‘tangan’ dan kepentingan yang membuat Perpres hasil karya Bapak SBY ini akan sulit dibatalkan.

Tetapi setidaknya, andai berani dan mampu membatalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014, Jokowi sekaligus memberikan punch keras mematikan kepada rival-rivalnya.

Eh ngomong-ngomong, Pepo itu certul [cerdas betul] yak?
Menjelang pangsiun pada 2014, masih sempat memberikan bola panas pada penerusnya.

Sudahlah, batalkan saja. Atau kalau boleh saya beri saran, tunda ijin pembangunannya sampai pada 2024, dan kemudian batalkan tepat sebelum pemilihan umum. Haaa…

Bagaimanapun, masyarakat dan orang-orang yang saat ini bersikeras menolak reklamasi, adalah orang-orang yang secara langsung terkena dampak dari apapun yang terjadi di Bali. Termasuk dengan adanya reklamasi.
Mereka, yang akan terus hidup, dan bertempat tinggal serta mencari penghidupan di sana.
Bukan Jokowi, Susi, ataupun para investor.

Sehingga, membatalkan perpres tersebut, adalah kebijakan yang benar-benar bijak, dan mempunyai nilai kebajikan.

Begini, tolong sejenak bayangkan saja :
“Tiba-tiba, dengan alasan bahwa pekarangan belakang rumahmu disinyalir akan digunakan untuk tempat tinggal macam-macam ular ganas, lantas pemerintah bersama investor secara sepihak memutuskan akan membangun hotel. Yang berarti, mengancam keberadaan rumahmu, serta ketersediaan air tanah untuk kehidupanmu.”

Padahal, sinyalemen itu lebih bernuansa judi, daripada melewati suatu kajian ilmiah yang metodologis. Hanya karena pernah ditemukan satu atau dua jejak ular berganti kulit di sana.
Padahal lagi, anda juga sebenarnya tidak terancam andai ada ular berada di sana, dan yakin tempat itu tidak akan dijadikan sarang. Seyakin itu karena anda sering berkebun di sana, menanam aneka sayur mayur, dan sering menghabiskan waktu untuk bercengkerama bersama keluarga. Seyakin itu pula, karena anda jauh lebih mengerti pekarangan tersebut, karena sudah puluhan tahun menempatinya, daripada orang-orang yang bahkan tidak pernah bertempat tinggal di sana.

Semoga, analogi sederhana tersebut mampu sedikit saja membuka mata, bahwa memang alam lingkungan Teluk Benoa, adalah hak orang-orang dan masyarakat yang bertempat tinggal di sana.

Mosok ya anda akan percaya kalau tiba-tiba ada orang asing datang ingin membeli rumah dan pekarangan anda, dengan dalih menyelamatkan anda dari ular-ular berbisa serta sangat berbahaya. Padahal, tidak ada ular berbisa berbahaya yang mengancam anda, selama puluhan tahun anda bertempat tinggal di sana.
Dan karena rumah itu adalah warisan orang tua anda, dan anda mendapat wasiat untuk menjaga serta melestarikannya, sampai kapanpun.

Sampai di sini, anda memilih uang atau menjaga amanat wasiat dari orang tua?

Begitulah juga mereka, kawan dan saudara kita di seputar Teluk Benoa.

Mereka, menjaga warisan dan amanat leluhur serta orang tua, untuk menjaga alam lingkungan, agar bisa selama mungkin bertahan dari waktu ke waktu, dari perkembangan jaman yang berkecenderungan merusak. Demi agar alam lingkungan itu, tetap bisa dinikmati secara layak oleh anak cucu, untuk generasi berikutnya.

Dimana kita akan ikut berpihak?

Bagi saya, keberpihakan politik adalah untuk hal-hal semacam ini. Untuk kepentingan masyarakat luas, untuk keberlangsungan kelestarian alam lingkungan. Bukan untuk keberlangsungan pangkat dan jabatan.

Jangan disamakan wacana reklamasi Teluk Benoa dengan pembangunan-pembangunan fisik pada umumnya.
Hampir tak ada manfaat yang di dapat oleh masyarakat dengan reklamasi yang direncanakan. Tidak ada.

Jika ada, manfaatnya jauh lebih kecil daripada musibah yang akan ditanggung selamanya.

Kenapa saya bisa seyakin itu?
Karena saya yakin kawan-kawan saya di Teluk Benoa itu bukan orang-orang kurang kerjaan yang rela mengorbankan waktu dan kehidupannya, nyawanya, hanya untuk hal remeh temeh dan tidak substansial.

Sebegitu penting Teluk Benoa bagi mereka, maka sedemikian rupa pula gerakan mereka untuk menolak reklamasi yang diwacanakan hanya demi kerakusan.

Saya sendiri tidak anti pembangunan. Tetapi jika pembangunan sendiri kemudian berarti sebagai perusakan alam lingkungan, maka tak ada kata selain, LAWAN!!!

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *