Tuhan, Aku Ingin Bercerita (2)

Tuhan, datanglah kemari barang sebentar. Sebentar saja, mumpung sedang hujan. Kebetulan aku mempunyai beberapa sachet kopi. Kopi murah memang, tetapi lumayan untuk menemani obrolan kita, andai Kau berkenan datang.

Datanglah sejenak saja. Aku tahu Engkau sedang sedikit sibuk melayani permintaan perihal Covid-19, tetapi aku juga tahu takkan menjadi masalah andai saat ini Kau datang dan berbincang denganku.

Sebentar saja, seperti yang pernah kita lakukan tempo hari. Ketika pada akhirnya aku bisa melihatmu tertawa dengan lepas. Aku jadi semakin yakin bahwa Engkau tidak seram, pun tidak menakutkan. Engkau sangat bersahabat sebenarnya, dan terlebih..jelas Engkau memang Maha Penyayang.

Ayolah, sebelum hujan ini reda. Datanglah seperti tempo hari, ketika dapat kusaksikan betapa teduh dan menenteramkannya wajahMu.

Ah….akhirnya datang juga, silahkan duduk pemilik hidupKu.

Boleh bertanya sampai kapan aku hidup di dunia?

Pertanyaan kurang ajar? Hehehe, maaf, pertanyaan lain saja.

Bagaimana kabarMu?

Baik? Alhamdulillah kalau Kau baik-baik saja Tuhan.

Eh, kabarku? Engkau bertanya balik bagaimana kabarku? Tentu saja baik, setidaknya karena aku tahu Engkau selalu menyayangiku.

Tuhan, bolehkah aku kembali bercerita? Atau kini Engkau yang ingin bercerita?

Aku ingin mendengarMu bercerita.

Tidak?

Ya sudah, aku saja yang bercerita.

Oh ya, terima kasih sudah kembali mau datang menemuiku. Di tengah kesibukanMu, di tengah segala hal yang sedang Kau kerjakan. Kembali, ini adalah bukti bahwa Kau benar-benar menyayangiKu.

Gombal? Maksudnya?

Ooh perihal sholat yang terkadang bolong? Hehehe, maafkan.

Aku ingin menyampaikan terima kasih, secara langsung, atas semua yang Kau berikan padaku selama ini. Atas permohonan-permohonanku yang hampir selalu Kau kabulkan. Aku sangat berterima kasih.

Tak terlalu berlebihan bukan jika aku mengulang untuk berterima kasih? Sebab aku merasa bahwa Engkau sepertinya sangat memanjakanku, atas semua permintaan dan permohonan yang hampir selalu Kau kabulkan. Bahkan jika itu adalah permintaan yang sebenarnya tak masuk akal.

Apa? Masuk akal semuanya? Hanya tak masuk saja diakalku? Baiklah.

Untuk semua hal dan permintaan yang kurasa sebenarnya tak masuk akalku, terima kasih sudah Kau kabulkan.

Yaaa, termasuk permintaanku untuk berpindah tempat kerja itu. Terima kasih sudah Kau kabulkan. Bagiku, itu tak masuk akal. Berpindah kerja, bahkan antar wilayah dan terlebih eselon, bagiku hampir tak masuk akal. Tetapi Kau kabulkan permintaanku itu, terima kasih banyak.

Setelah kepindahan itu, aku ingin bertemu langsung dan berterima kasih, tetapi Kita memang tak sedang bisa bertemu. Tetapi akhirnya malam ini kita kembali bersua muka, dan tak berlebihan jika aku mengulang rasa terima kasih itu. Secara langsung, dan tak perlu perantara doa.

Oh iya, kopi?

Tidak? Engkau tidak minum?

Hehehe, maafkan pertanyaan bodoh itu. Hanya saja aku merasa ada yang kurang jika ada tamu tak kubuatkan minuman, atau sekadar kusuguhkan sesuatu. Ya sudah.

Tuhan, kapan-kapan kalau kita bertemu lagi seperti saat ini, gantian Kau yang bercerita. Aku ingin mendengar aneka cerita dari berbagai belahan lain dunia. Salah satunya mengenai Covid ini. Yang sekarang sedang merebak menjadi wabah. Semoga kelak Engkau mau membocorkan sedikit saja cerita mengenai hal itu.

Tuhan, aku tak ingin lagi membicarakan perihal anak denganMu, saat ini. Entah kalau besok. Syukur saja jika kemudian Engkau mau memberi. Andai pun tidak atau belum, akan kunikmati masa-masa ini. Masa dimana aku bisa hampir sama denganMu, tanpa keturunan. Hahahaha…

Eh iya, bagaimana jika kapan-kapan Kau datang ke kosan ku? Sempit memang, tetapi cukup menyenangkan.

Apa? Kau sudah tahu kalau kosan ku itu sempit? Hahahaha… Tentu saja Kau memang sudah tahu. Maka mampir lah kapan-kapan.

Kita bisa kembali mengobrol sembari melihat tembok bangunan. Kalau disini kan lumayan, kita bisa melihat pepohonan.

Tuhan, bertemu seperti ini saja sudah merupakan anugerah yang luar biasa. Banyak orang ingin bertemu dan melihatMu, namun tak kesampaian. Terima kasih.

Apa? Jangan sombong?
Ooh, ya.. Maafkan.

Terkadang aku tak menyadari bahwa sikap seperti ini adalah juga kesombongan. Maaf.

Maaf ya jika sembari kita mengobrol, aku juga menyulut rokok. Semoga asap ini tak menggangguMu.

Sudahlah, kukira cukup kali ini. Aku hanya ingin bertemu, itu saja. MelihatMu saja sudah membuatku merasa tak membutuhkan hal lain apapun di dunia ini, apalagi ketika kemudian Kau mengizinkanku bercerita.

Kelak, semoga Engkau masih mau menemuiku.

Terima kasih sudah menemani, menemui, dan menghangatkan hatiku ditengah hujan deras seperti ini. Terutama, hujan berita mengenai wabah yang mendunia.

Sampai jumpa lagi, aku menyayangiMu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *