TUHAN, AKU INGIN BERCERITA (3)

Kenapa lama? Kalau Engkau datang ketika tadi waktu berbuka, aku bisa buatkan teh yang masih panas. Cukup nikmat bukan berbuka puasa dengan teh manis panas? Eh, Kau berpuasa tidak?

Ahaha, maafkan, tentu saja Engkau berpuasa, bahkan selalu berpuasa. Dengan caraMu tentu saja. Termasuk berpuasa, menahan diri untuk tidak menggamparku bukan? Ahaha…

Kenapa tersenyum? Aku belum jadi bercerita.

Sebentar, kusulut dulu sebatang rokok.

Aku ingin bercerita. Apa? Tak usah? Engkau sudah tahu?
Ah ya, tentu saja Engkau sudah tahu. Lantas?

“Sekarang Aku yang akan bercerita, dan kamu cukup diam mendengarkan.”


Aku menggigil. Kalian tahu? Dalam dua pertemuan dan obrolan kami yang sempat aku tuliskan disini, dan disini, Dia sama sekali tidak berbicara. Dia hanya mendengarkan, dan sekali waktu tersenyum atau mengangguk.

Kini Dia akan bercerita, akan berbicara, dan disuruh mulutku diam, serta memasang telinga untuk mendengarkan.


Kamu ingin berbicara kenapa akhir-akhir ini seakan kita jauh, bukan?

Juga, kenapa seolah aku melepasmu, membiarkanmu, dan terlihat tidak peduli bahkan untuk sekadar mengingatkan.

Bahkan kamu mengubah deskripsi penulis pada web blog mu, yang seolah kamu merasa kesayangan Tuhan, padahal bukan.

Oh iya, bagaimana puasamu? Lancar? Kenapa tahun ini belum mokel? Tahun lalu kamu juga tidak mokel siang hari, kenapa?

Aku benar-benar menyayangimu, kenapa kamu ingkar?
Jangan karena perasaanmu sendiri yang merasa jauh, lantas kamu menghakimiKu sedemikian rupa. Aku tak pernah menjauh, pun tak pernah melepaskan sehelai pun perasaan sayang untukmu.

Ayolah, Aku yang mengajarkan kasih sayang, membersihkan deskripsi tentang suatu perasaan pada manusia. Maka tentu saja Aku juga mempunyai perasaan. Meski perasaanKu tentu juga tak sama dan sebangun dengan perasaan manusia, termasuk perasaanmu.

Aku tak pernah menjauh, Aku selalu ada didekatmu. Kamu yang lalai memelukKu.

Selanjutnya Aku ingin bertanya, meski sebenarnya Aku sudah tahu jawabanmu.
Kenapa akhir-akhir ini kamu kehilangan kemesraan itu?
Kamu terlalu formal, dan tentu saja itu bukan dirimu.

Sepanjang usiamu, semenjak kapan kamu menjadi formal? Dan Aku memang tidak pernah menjadikanmu sebagai manusia yang formal dalam berhubungan denganKu.

Aku memang menjadikanmu seperti ini, seperti apa adanya dirimu. Bersyukurlah.
Bersyukur karena Aku tidak menjadikanmu manusia yang harus menghafal banyak ayat untuk dapat bertemu denganKu.
Bersyukurlah karena Aku menjadikanmu seperti ini, tak harus terlalu banyak ritual untuk dapat memelukKu.

Dulu, sewaktu-waktu kamu datang dan memelukKu. Bahkan ketika kamu dalam keadaan bau, belum mandi, berlumur banyak kesalahan dan kemunafikan. Kamu akan selalu datang dan memelukKu dengan mesra.

Oleh karena itulah Aku menyayangimu. Karena kamu selalu menampilkan wajah apa adanya padaku, tanpa berbalut riasan tebal.

Kamu selalu datang padaKu entah bagaimana kondisimu. Entah baik, buruk, bahagia, berduka, kamu selalu datang.

Tapi kini, kenapa kamu mendadak menjadi formal dan resmi semacam itu?

Adakah Aku membuatmu kecewa, anakKu?

Adakah Aku berbuat salah padamu?

Atau, adakah sesuatu yang mengganjal kau rasakan terhadapKu?

Aku tak pernah melepasmu. Tak pernah pula aku membiarkanmu lepas, atau berjalan sendirian. Tak pernah.

Bukan lagi Aku tak perhatian padamu. Tetapi…
Aku mengajarimu untuk belajar bertanggungjawab atas pilihan-pilihanmu. Aku seolah melepaskanmu, justru karena aku sangat sayang terhadapmu.

Aku memberimu semesta kemungkinan untuk menentukan pilihan. Perihal hasilnya, juga tergantung dari usahamu. Aku hanya mengawal agar kamu tetap merasa bahwa apapun pilihanmu, aku ridho dan merestui. Selama pilihanmu bukanlah untuk menduakanKu, aku akan selalu mendukung dan merestui.

Maka, jangan gundah dan risau.

Aku bukan pula enggan mengingatkan, bukan. Tetapi semata karena Aku merasa bahwa kamu selalu mesra terhadapKu. Maka tak ada yang perlu Aku peringatkan lagi, karena kemesraan adalah puncak dari sebuah hubungan.

Perbaiki lagi sikapmu itu, kembalikan lagi sikap mesramu, agar kamu tak merasa Aku tinggalkan.
Aku tak pernah pergi.

Karena aku selalu menyayangimu.


Kenapa tak Kau sampaikan dari jauh hari yang lalu? Semenjak aku merasa bahwa Kau menjauh dariku?

Kenapa tak pernah gamblang Kau sampaikan, kalau Kau menyayangiku? Hingga tak perlu aku merasa bahwa Kau mengabaikanku.

Namun tetap saja aku harus berterima kasih.

Terima kasih kali ini Engkau berkenan berbicara, bercerita, dan memberikan banyak hal untuk menguatkanku.

Aku bukan bermaksud bersikap formal terhadapMu. Bukan pula tak ingin lagi mesra denganMu. Bukan, sama sekali bukan.

Hanya saja memang akhir-akhir ini aku merasa kebingungan. Untuk mencarimu, aku sedang merasa sungkan juga malu. Terlalu banyak hal sepele dan remeh temeh yang kusampaikan kepadaMu, sehingga kadang aku kemudian merasa sungkan.

Tak pula ada salahMu. Aku saja yang merasa kurang bersyukur atas semua pemberianMu.

Oh iya, perlukah tahun ini aku mokel puasa siang hari? Agar kembali kemesraan itu?

Hehehe…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1.812 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *