Tuhan, Aku Ingin Bercerita

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Tuhan, sejenak saja tolong mewujud dan datang padaku. Aku bisa membuatkanMu kopi yang enak. Memang hanya kopi kemasan berharga murah. Tetapi tentu saja akan terasa enak karena ada Engkau nantinya.

Kesinilah, sebentar saja, dalam wujud yang bisa kusaksikan dengan mata manusia. Aku tahu Kau dekat, sangat dekat, bahkan lebih dekat dari tiap helai nafas dan urat leherku sendiri. Tetapi Kau tahu, urat nadi yang demikian dekat itu tak bisa kulihat, bahkan tak berani untuk sekadar kujabat erat.

Datanglah, sebentar saja, dalam wujud yang bisa kutatap dengan mata. Agar bisa kusulutkan sebatang rokok, dan kuselipkan cerita lucu dalam percakapan kita. Aku tahu Engkau tetap akan tertawa meski tahu semua cerita itu berasal dariMu sendiri. Tetapi Engkau tetap akan tertawa, karena Kau menyayangiku.

Kemari, kumohon, datang padaku sejenak saja. Sejenak saja. Hanya seperminuman kopi diantara kita berdua. Yaa meski tak menutup kemungkinan akan kubuatkan lagi jika secangkir pertama sudah tandas.
Aku hanya ingin bercerita, dan tak akan meminta selain agar Kau mendengarnya. Tak lebih.

Ah akhirnya Kau datang….terima kasih.

Silahkan duduk disini, dan segera akan kumulai ceritaku.

Engkau menginginkan kopi mungkin? Atau teh? Sekadar air putih?
Ah ya tentu saja Engkau tak membutuhkan itu semua.

Bolehkah aku bercerita sembari merokok?
Boleh?

Syukurlah.
Sebab sekarang banyak orang berkata bahwa rokok dan merokok itu haram. Maka aku meminta ijinMu terlebih dahulu untuk merokok sembari bercerita.

Harus kupanggil Engkau dengan nama yang mana?

Dengan namaMu atau sifatMu?

Tentu untuk memudahkanku saja. Engkau tak membutuhkan nama dan segala penyebutan sifat itu. Hanya untuk memudahkanku memanggilMu saja.

Pertama, terima kasih sudah berkenan datang.

Tuhan, Engkau tahu aku sudah menikah selama hampir sepuluh tahun bukan?
Ya tentu saja Kau tahu. Engkau yang menjadi saksi.

Dan selama itu pula, Kau juga tahu bahwa aku tak kunjung mempunyai anak. Anak, iya anak. Keturunan.

Apa yang aku risaukan?

Tentu saja aku risau. Banyak orang berkata bahwa tidak mempunyai anak atau keturunan sepanjang hidup itu, aib. Terkadang aku tak kuat menanggung kenyataan demikian itu.

Tak usah risau?

Kalau aku tak usah merisaukan hal itu, kenapa berkali Engkau sebutkan bahwa harta yang paling berharga itu adalah anak keturunan yang berbakti?

Sebagai bentuk dialektika?

Ayolah, dialektika pada bagian mana jika kemudian semua orang menganggapnya sebagai suatu keharusan?
Itu tak menjadi dialektika lagi sekarang.

Mempunyai keturunan setara dengan kewajiban, aib dan seakan mendapatkan dosa jika tak memilikinya.
Dialektika apa?
Apakah Engkau ingin menyiksaku?

Tenang?
Aku Engkau suruh tenang?

Apa?
Sedang Kau juga tak mempunyai keturunan?

Ayolah, aku bukan diriMu tentu saja. Aku hanya makhlukMu. Tak lebih.

Lebih?

Engkau memang suka bercanda. Lebih pada hal apa coba? Pada penderitaan dan rasa perih yang tak tertanggungkan?

Hah? Engkau bisa tertawa? Syukurlah.
Kukira Engkau seram seperti yang banyak digambarkan.

Sebentar, aku bikin secangkir kopi terlebih dahulu. Engkau benar-benar tak ingin secangkir kopi?

Tidak? Apa?
Cukup bahwa aku masih mau mengajakMu bertemu? Dan tak perlu aku menyuguh apapun?
Ah Kau bercanda lagi. Bukankah sudah semenjak lama aku ingin bertemu denganMu.

*****

Sudah, secangkir kopi sudah siap. Terima kasih sudah mau menunggu, di tengah kesibukanMu.

Aku masih akan bercerita banyak sebenarnya. Perihal anak keturunan tadi, sebenarnya juga belum usai. Tetapi sudahlah, tentu adalah hakMu untuk memberikanku anak ataukah tidak. Tentu juga ada alasan tertentu ketika Engkau memutuskan sesuatu terhadapku, yang kuyakin semuanya karena bentuk rasa sayang terhadapku. Terima kasih.
Lagipula benar juga kataMu. Aku merasa terhormat Kau memberikan posisi yang sama denganMu, tak memiliki keturunan. Ahahaha….

Maaf, maaf…bukan bermaksud tak sopan tertawa keras-keras….

Kedua, apakah Engkau mempunyai lingkungan pergaulan?
Maksudku, lingkungan dengan banyak orang?

Ah ya tentu saja tidak, pertanyaan bodoh ya? Hehehe….

Begini, Engkau tentu tahu bahwa aku senang mempunyai banyak teman. Aku tak pernah sedikitpun bertendensi dengan pertemanan itu, selain bahwa agar bisa tertawa dan berjalan besama. Tak pernah sekalipun aku ingin naik dalam posisi tertentu, mengamankan posisi tertentu, untuk kepentinganku, dengan mengorbankan teman.

Engkau tahu itu bukan?

Tetapi Engkau tahu juga bahwa banyak orang disekitarku, menjualku. Iya, aku dijual. Entah dengan diskon berapapersen. Semata agar mereka yang menjualku aman dalam posisinya. Aman dalam situasinya. Dengan menjualku.

Aku hanya bercerita saja, dan Kau tahu siapa saja orang-orangnya. Tak mengapa, toh mereka berbuat demikian, dengan sifat yang Kau lekatkan juga pada mereka, bukan?
Tak mungkin mereka mempunyai sifat selain yang diperoleh dariMu. Iya kan?

Seringkali aku berteman, dengan niat ingin dekat menjadi seakan saudara. Tak hanya hubungan pertemanan transaksional, kedekatan hubungan kerja, atau hubungan bisnis lainnya. Tetapi, ternyata yang demikian itu banyak disalahpahami. Beberapa orang tidak suka aku mempunyai teman yang seolah saudara.

Celakanya, pada akhirnya banyak teman juga yang merasa demikian itu. Banyak yang pada akhirnya pergi, karena ketakutan. Entah apa sebabnya.

Sebentar, aku sulut dulu sebatang rokok lagi. Tak keberatan bukan?

Ngomong-ngomong Engkau tahu aku bekerja bukan?
Iya, bekerja yang maksudnya mencari nafkah itu.

Seperti perintahMu, aku bekerja dengan mengedepankan profesionalitas, dan kejujuran. Tentu Engkau tahu semuanya, dan tak perlu kuulang lagi sebenarnya. Tetapi biarlah, toh aku ingin bercerita saja.

Kenapa banyak yang tak suka kalau aku jujur, dan mengedepankan profesionalitas?
Apakah salah?

Apakah harusnya aku menjadi oportunis saja ya?

Bekerja asal mendapatkan upah, dan tak usah terlalu vokal terhadap segala sesuatu yang berjalan tak semestinya?
Misalnya aku biarkan saja jika ada hal-hal yang cenderung melenceng, dan tak sesuai norma kejujuran?

Begitu saja ya baiknya?
Misalnya ada yang mengajak berkampanye, esok lagi aku biarkan saja kali ya? Tak usah mengkritik dan terlalu vokal terhadap hal-hal demikian.

Lhah? Kenapa tertawa?

Apa memang salah yang sudah kulakukan itu?

Baiklah, kelak aku akan diam saja. Menjadi manusia oportunis, dan bekerja sesuai transaksi saja. Hahaha….

Eh ya ngomong-ngomong, bisakah kita lebih sering bertemu seperti ini?
Aku ingin sering-sering bercerita.

Mungkin kelak jika bertemu bersua muka semacam ini, giliran Engkau yang bercerita.

Aku ingin mendengar secara langsung berbagai kehidupan lain yang sedang berlangsung saat ini. Kehidupan-kehidupan yang tentu banyak sekali macam dan romantikanya.

Tentu banyak yang lebih mengenaskan daripadaku. Dan tentu banyak yang lebih kuat daripadaku.

Ah ya, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk mendengar ceritaku yang tak berguna ini.

Sampai jumpa lagi, aku menyayangiMu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

21 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *