Uzun Yol

Gambar : Pixabay

Yalniz berkali-kali mengambil gelas minumnya, teh di dalamnya sudah berangsur dingin. Sepotong roti tandas, menyisakan remah yang perlahan menarik perhatian semut-semut di sekitar. Beberapa semut mulai naik ke piring rotinya, dan beberapa remah roti mulai berpindah ke bawah meja.

Ia menatap kosong pada baris pepohonan di seberang. Tak ia perhatikan beberapa burung berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, dari satu dahan ke dahan yang berbeda. Tak ia perhatikan pula ketika angin keras menerpa, dedaunan tua beterbangan dari baris pohon tempat ia melabuhkan mata, namun tak melabuhkan pandangan.

Yalniz juga tak terlalu peduli bahwa teh dalam gelasnya sudah hampir habis. Ia terus saja mengulang mengambil gelasnya, meneguk isinya sedikit demi sedikit, dan kembali meletakkan pada tempat semula tanpa melihatnya. Ia terus melemparkan pandangan jauh entah kemana.

Semut-semut perlahan tandas membersihkan sisa remah roti pada piringnya. Roti sisa kemarin lusa, yang tak sempat disentuhnya. Roti yang terpaksa ia makan untuk mengganjal perut, dan memberi ketenangan pada perasaannya sendiri yang tetiba takut mati karena kelaparan.

Namun Yalniz pun tak menikmati roti sisa kemarin lusa itu. Roti yang membuatnya terus melemparkan pandangan kosong.

“Bukan rotinya…” Yalniz mengkoreksi.

Ah ya…bukan rotinya.

Bukan roti yang membuat pandangannya terus menjauh dari waktu ke waktu. Bukan roti yang kini sisa remahnya menjadi buruan para semut itu yang membuat pandangnya tak jelas kemana. Bukan rotinya…..

Yalniz menghela nafas panjang. Kini ditatapnya piring dan gelas kosong pada meja kecil disampingnya. Disapunya seluruh permukaan meja, pada piring dan gelas kosong, dan kemudian berdiri. Kedua tangannya meraih sekaligus piring dan gelas itu, membawanya pergi mengikuti langkah kaki.

Yalniz mencuci keduanya yang kosong itu di tempat ia biasa mencuci perkakas kotor, kemudian menaruhnya pada rak piring dan gelas.

Ia berlanjut melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Ia ingin berjalan.

Ia kembali lagi ke dalam rumah setelah beberapa langkah menjauh. Jaketnya tertinggal. Benda yang lebih banyak lekat pada tubuhnya daripada beragam benda lain. Satu-satunya hal yang masih mampu menghangatkannya, daripada segala macam hal lain, tak terkecuali genggaman tangan.

Yalniz kembali keluar, ditutupnya pintu rapat-rapat seolah takkan pernah kembali. Angin keras menyapa, menaburkan debu tipis, membuatnya sedikit memicingkan mata. Mantap kakinya melangkah, dalam setapak demi setapak penuh keyakinan, meski tanpa tujuan.

Bukankah terkadang hidup adalah tentang bagaimana terus melangkah, meski tanpa kejelasan?

Seulas senyum menghiasi wajahnya yang nampak muram. Kini pandangan Yalniz tak lagi jatuh pada samar dan tanpa kejelasan, kini pandangannya tertuju pada jalan tanah dan berbatu. Jalan yang biasa ia lalui ketika ingin berjalan kaki. Jalan yang tak pernah membuat kakinya bosan. Jalan yang bersih, jalan tanpa kerikil dan batu yang akan membuatnya tersandung.

Yalniz terus melangkah, pandangannya menyapu pada kiri kanan jalan disekitarnya. Rimbun pepohonan semakin membuat udara terasa dingin dan lembab, meski ia berjalan di tengah siang hari. Beberapa burung kini terlihat oleh pandangannya, beterbangan dari satu pohon ke pohon berikutnya, dari satu dahan menuju dahan yang lainnya. Terkadang hempasan sayap dari burung-burung itu membuat beberapa helai daun tua melayang jatuh ke atas tanah.

Tak terasa sudah lebih tiga puluh menit ia berjalan. Jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, memastikan hal itu. Yalniz cukup jauh menapaki langkah, ia berada jauh dari rumah. Terlihat olehnya asap dalam beberapa puluh meter di depan. Asap dari pembakaran dedaunan. Angin menjaga gerak asap dalam ritme yang tak terjaga, namun dalam gerak yang mirip dengan tarian. Ke kiri dan ke kanan, meski tak jelas benar. Yalniz menutup hidungnya ketika mendekat. Ia tak terlalu menyukai aroma asap dari pembakaran sampah, meski hanya dedaunan. Ia bergegas, sedikit berlari. Matanya ikut terasa perih.

Sepuluh menit berlalu dari asap yang tak disukainya, Yalniz menghentikan langkah. Sebentuk sungai kecil membujur tenang dihadapannya. Sungai kecil yang juga cukup karib dengan dirinya. Sungai kecil tempat ia biasa membasuh muka, meletakkan segala lelah dari ribuan langkah.

Dilihatnya bening sungai kecil itu, dengan beberapa ikan kecil berenang di dalamnya. Yalniz menendang sebuah kerikil, yang jatuh hampir di tengah sungai kecil dengan lebar tak lebih dari dua meter itu. Menimbulkan riak kecil, dan membuat ikan-ikan sigap menghindar.

Yalniz tertawa kecil, meski dengan wajah yang masih muram.

Ia menekuk kakinya, berjongkok, dan mengulurkan tangan untuk mengambil air. Ia membasuh muka, kesekian kali seumur hidupnya, dari aliran sungai yang hampir selalu bisa menenangkannya. Berkali ia mengulang gerakan yang sama. Ia merasakan kesegaran yang hinggap tak hanya pada wajahnya.

Yalniz terduduk, air pada wajahnya menetes tepat pada rerumputan didepannya, hampir kembali menetes masuk pada aliran sungai kecil itu.

Yalniz menduduk semakin dalam. Kini air matanya ikut menetes, bercampur dengan air yang ia gunakan membasuh muka. Bahu Yalniz terlihat bergerak kecil dan berulang, ia menangis sesenggukan.

Yalniz menangis, tanpa jelas benar apa yang ia tangisi. Tanpa jelas benar apa yang membuatnya menangis. Untuk kesekian kali itu, Yalniz tak berdaya menumpahkan air mata diatas rerumputan, di tepi sungai kecil dengan beberapa bebatuan. Sungai kecil itu menjadi saksi, betapa langkah yang kuat pun menyimpan kerapuhan. Betapa kuat Yalniz menjaga agar tak perlu menumpahkan air mata, toh sungai kecil itu pada akhirnya meluluhkan gumpalan di dalam dadanya. Untuk kesekian kalinya….

Cukup lama Yalniz menundukkan kepala, menumpahkan air mata. Rerumputan basah oleh air matanya, dan semakin lama semakin membentuk genangan. Rerumputan tak kuasa menahan, air mata Yalniz tumpah pada sungai kecil bening yang menenteramkan itu. Semakin lama semakin deras, dan semakin penuh sungai kecil itu. Alirannya semakin deras oleh air mata Yalniz, namun tetap dalam bening yang terjaga. Tak ada tanda surut, bahkan semakin deras air mata….

Sungai kecil itu meluap, membentuk sebuah kolam yang cukup untuk tumbuh beberapa puluh bunga teratai. Tak ada lagi sungai kecil, dan tak terlihat lagi Yalniz yang menangis duduk di tepinya. Tak terlihat lagi Yalniz, bahkan di jalanan tanah yang berbatu dan sedikit berdebu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *